Siapkan Bali Interfaith Movement, UIN Mataram Gelar Seminar Promosikan Harmoni Manusia dan Alam

Siapkan Bali Interfaith Movement, UIN Mataram Gelar Seminar Promosikan Harmoni Manusia dan Alam

Mataram, Arina.id – Kementerian Agama RI bersama Rumah Moderasi Beragama (RMB) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menggelar seminar nasional bertajuk Merawat Bumi, Merajut Harmoni: Semangat Deklarasi Istiqlal Menuju Bali Interfaith Movement di Auditorium Kampus II UIN Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Senin (9/12/2024).

Seminar ini sebagai rangkaian untuk mempersiapkan Bali Interfaith Movement yang akan digelar pada 14-15 Desember 2024.

Acara ini terselenggara berkat kerja sama antara UIN Mataram, Jaringan GUSDURian, dan RMB UIN Mataram.

Seminar menghadirkan berbagai narasumber, di antaranya Rektor UIN Mataram Prof Masnun, Rektor IAHN Gde Pudja Mataram I Wayan Wirate, Pembina RMB UIN Mataram Prof Suprapto, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fahruddin Faiz, dan Pengasuh Pesantren Budaya Daar Al-Mudhaffar Paox Iben Mudhaffar.

Dalam pidatonya, Prof Masnun menjelaskan bahwa tema seminar dipilih sebagai langkah untuk menggaungkan harmoni antara manusia dan alam melalui Deklarasi Istiqlal.

Ia menambahkan, seminar ini diadakan sebagai persiapan menjelang Bali Interfaith Movement yang bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai moderasi beragama dan menjaga keberagaman.

Sesi talkshow seminar ini menghadirkan diskusi yang mendalam. I Wayan Wirate menekankan pentingnya pemahaman ajaran agama yang benar untuk menciptakan kedamaian.

"Konflik sering terjadi karena pemahaman agama yang tidak sempurna. Kita perlu komitmen untuk memahami ajaran agama dan mewujudkan sikap rendah hati,” ujarnya.

Sementara Fahruddin Faiz menambahkan, salah satu penyebab ketidakharmonisan adalah sikap egoisme. "Banyak orang yang merasa agama dan negara justru menjadi sumber masalah, bukan solusi,” ungkapnya.

Prof Suprapto juga mengingatkan bahwa agama memiliki peran penting dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan global, seperti konflik dan kekerasan. “Konservasi lingkungan harus menjadi topik yang digaungkan oleh seluruh pemuka agama. Stop dehumanisasi dan kerusakan alam!” serunya.

Paox Iben Mudhaffar, dalam pemaparannya, menegaskan pentingnya menghindari keserakahan yang sering kali dibalut dengan tabir agama. “Bumi ini cukup untuk semua manusia, tetapi tidak cukup untuk satu manusia yang serakah,” katanya.

Seminar ini diakhiri dengan doa bersama. Ratusan peserta yang hadir, mulai dari kalangan mahasiswa, dosen, hingga elemen lintas agama, menunjukkan antusiasme yang besar terhadap sesi diskusi yang berlangsung.

Acara ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran dan komitmen untuk menciptakan harmoni manusia dan alam, serta menjadi langkah awal yang baik untuk Bali Interfaith Movement.

Kontributor: Fathurrahman


Editor: Kendi Setiawan
logo