Jakarta, Arina.id — Mengapa seseorang rajin beribadah, sementara orang lain lebih menekankan kepedulian terhadap sesama atau upaya memperbaiki diri? Dalam kehidupan beragama, setiap orang ternyata memiliki orientasi yang berbeda.
Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fahruddin Faiz menjelaskan tujuh jenis kesadaran religius yang dapat menjadi bahan refleksi bagi seseorang dalam menjalani kehidupan beragama. Ketujuh jenis tersebut meliputi kesadaran ritual, amal saleh, mistik, reflektif, transformatif, konvensional, dan kharisma.
Faiz menjelaskan, kesadaran religius setiap orang dapat berbeda-beda meskipun sama-sama memeluk agama. Perbedaan itu terlihat dari hal yang menjadi fokus seseorang dalam menjalankan dan menghayati ajaran agamanya.
Jenis pertama adalah kesadaran ritual, yakni kesadaran beragama yang berfokus pada pelaksanaan ibadah.
"Dalam Islam, misalnya, kesadaran ini terlihat dari perhatian seseorang terhadap sholat, mengaji, zakat, tahajud, dan puasa," ujarnya dalam tayangan Ruang Sinau diakses Minggu (25/10/2026).
Kedua, kesadaran amal saleh, yaitu kesadaran yang berorientasi pada kontribusi dan kebaikan bagi lingkungan sekitar. Orang dengan kesadaran ini lebih berfokus pada hal yang dapat diberikan kepada orang lain, seperti berbagi, bersedekah, berinfak, dan membantu sesama.
Ketiga, kesadaran mistik, yakni kesadaran beragama yang menitikberatkan pada kedekatan dan pengalaman batin bersama Tuhan. Faiz menjelaskan, kesadaran ini berkaitan dengan upaya seseorang untuk semakin dekat dengan Tuhan dan menghayati pengalaman spiritualnya.
Keempat, kesadaran reflektif, yaitu kesadaran yang mendorong seseorang untuk memikirkan, merenungkan, dan memahami ajaran agama.
Dalam kesadaran ini, seseorang berusaha mencari hikmah, memahami konsep keagamaan, serta menggunakan akal untuk merasionalisasi pemahamannya..
Faiz mencontohkan, pembahasan tema-tema agama dalam sejumlah sesi ngaji filsafat dapat menjadi bagian dari bentuk kesadaran reflektif karena mengajak peserta memikirkan dan memahami persoalan keagamaan.
"Kelima, kesadaran transformatif, yakni kesadaran yang berfokus pada upaya memperbaiki diri secara terus-menerus dalam menjalankan kehidupan beragama," ungkapnya.
Menurut Faiz, upaya tersebut tidak mudah karena seseorang terkadang merasa sudah baik dan benar sehingga berhenti melakukan evaluasi terhadap dirinya.
“Kesadaran transformatif itu fokus pada bagaimana aku harus berubah jadi lebih baik terus-menerus,” jelasnya.
Keenam, kesadaran konvensional, yaitu kesadaran beragama yang banyak dipengaruhi oleh kelompok, lingkungan, atau aliran yang diikuti. Seseorang dengan kesadaran ini cenderung menjadikan pandangan dan kebiasaan kelompoknya sebagai acuan dalam menjalankan agama.
Ketujuh, kesadaran kharisma, yakni kesadaran yang berpusat pada tokoh yang dijadikan panutan, seperti ustaz, guru, atau kiai. Dalam bentuk kesadaran ini, seseorang cenderung mengikuti arahan tokoh yang dianggap memiliki kewibawaan atau karisma.
Ajak Masyarakat Merefleksikan Kesadaran Beragama
Faiz mengajak masyarakat untuk merefleksikan bentuk kesadaran religius yang selama ini menjadi dasar dalam menjalankan kehidupan beragama. Refleksi tersebut dapat dilakukan dengan menilai apakah seseorang lebih berfokus pada ibadah ritual, amal saleh, pengalaman spiritual, pemikiran keagamaan, perbaikan diri, kelompok agama, atau tokoh panutan.
Menurutnya, pemahaman terhadap berbagai jenis kesadaran tersebut dapat menjadi bahan untuk mengenali orientasi keberagamaan masing-masing.
Ia menekankan pentingnya pertanyaan reflektif bagi setiap orang: apakah praktik beragama selama ini lebih berorientasi pada ritual, kebaikan bagi sesama, penghayatan batin, pemikiran, transformasi diri, kelompok, atau figur yang diikuti.
Melalui refleksi tersebut, seseorang dapat meninjau kembali cara dirinya memahami dan menjalankan kehidupan beragama.
Editor: Kendi Setiawan
