Arina.id - Sejak penjajahan Israel ke Gaza Palestina dimulai pada 11 Oktober 2023 silam, sampai sekarang agresi serdadu negeri Zionis tersebut tidak juga mereda, meskipun perjanjian genactan senjata sudah diteken kedua belah pihak.
Namun faktanya, serangan demi serangan masih dilakukan Israel, baik serupa serangan militer maupun serangan yang dilakukan para pemukim ilegal di Tepi Barat. Hingga akhir 31 Desember 2025 (akhir tahun), total korban meninggal warga Palestina mencapai 71.269 orang.
Dilaporkan kantor berita WAFA, otoritas kesehatan setempat melaporkan pada 31 Desember 2025 saja tiga korban tewas dibawa ke rumah sakit di Gaza, termasuk dua jasad yang dievakuasi dari reruntuhan, selain 10 korban luka.
Sejumlah korban masih tertimbun puing-puing dan tergeletak di jalan-jalan karena tim ambulans dan pertahanan sipil masih belum dapat menjangkau mereka.
Menurut sumber, sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober, sedikitnya 415 warga Palestina tewas dan 1.152 lainnya terluka, dengan temuan 682 jasad.
Sumber medis juga mencatat bahwa seorang pria dan seorang anak tewas akibat runtuhnya bangunan yang disebabkan kondisi cuaca ekstrem, sehingga jumlah total korban tewas akibat runtuhan bangunan yang telah dibawa ke rumah sakit mencapai 19 orang.
Di sisi lain, para pemukim ilegal di Tepi Barat juga menyerang warga Palestina di sana. Keberanian pemukim asal Israel tersebut sebab didukung kekuatan militer di sana
Beberapa waktu lalu, para pemukim ilegal asal Israel ini menyerang peternakan warga Palestina, kemudian menjarah peternakannya. Di sisi lain, pemerintah Israel terus memperkuat pengaruhnya di dunia internasional, meskipun muncul banyak desakan agar serangan dihentikan.
Akan tetapi didukung Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel, negeri para Zionis tersebut tidak bergeming dari sikap bar-barnya. Mereka memperluas pengaruh dan serangannya bukan hanya ke Palestina, melainkan juga ke Lebanon, negeri tetangganya.
Editor: Muhammad Taufiq
