3 Kampus Islam Negeri Raih Akreditasi Unggul, Direktur Diktis: Harus Naik World Class University

3 Kampus Islam Negeri Raih Akreditasi Unggul, Direktur Diktis: Harus Naik World Class University

Jakarta, Arina.id — Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan diraihnya akreditasi Unggul oleh tiga PTKIN sekaligus dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Ketiga PTKIN yang meraih akreditasi Unggul tersebut adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, UIN Kiai Haji Achmad Sidiq (KHAS) Jember, dan Universitas Islam Negeri KH Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI/Diktis) Kementerian Agama RI Prof Ahmad Zainul Hamdi mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian PTKIN yang meraih akreditasi Unggul. Ia mengaku sejak awal tidak pernah merasa ragu tentang diraihnya akreditasi Unggul oleh kampus-kampus PTKIN meski sejumlah pihak menyebut akreditasi Unggul mustahil diraih PTKIN.

“Kita lihat kanan-kiri kampus-kampus lain yang luar biasa sehingga meraih akreditas Unggul, lalu ada beberapa yang belum meraih Unggul. Itu 11-12 saja tapi mereka bisa Unggul,” ujar Prof Inung sapaan akrabnya, Selasa (3/9/2024).

Akreditasi Unggul adalah tingkat akreditasi tertinggi yang diberikan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) kepada perguruan tinggi.

Kampus atau universitas dengan akreditasi ‘Unggul’ telah melewati standar penialaian sangat baik dan diakui mempunyai kualitas sangat tinggi dalam pendidikan dan penelitian. Akreditasi Unggul memastikan bahwa institusi tersebut memenuhi standar yang ditetapkan oleh badan akreditasi yang berwenang.

Menurut Prof Inung akreditasi Unggul yang diraih sejumlah kampus PTKIN karena mendapat dukungan dari berbagai aspek, baik dari sisi pengelolaan hingga manajemen kerja yang tidak biasa saja.

“Apa target formal pekerjaan ini adalah hasilnya yaitu meningkatkan mutu dan itu jadi ukuran lain akreditasi. Kita tidak bisa mengatakan perguruan tinggi Unggul tapi akreditasinya jelek. Akreditasi sejak sarana-prasarananya bagus, sumber daya manusianya bagus, pembiayaan bagus, saat akreditasi hasilnya Unggul," lanjut Prof Inung.

Dia menceritakan sejak masa kepemimpinannya sebagai Direktur PTKI hingga saat ini atau satu tahun 8 bulan, terdapat 9 penambahan PTKIN terakreditasi Unggul. “Insyaallah jumlah PTKIN terakreditas Unggul akan terus bertambah karena beberapa PTKIN sudah melakukan submit untuk diakreditasi,” jelasnya.

Prof Inung menjelaskan dorongan bagi kampus lain untuk meraih akreditasi Unggul terus dilakukan. Salah satunya dengan memberikan insentif bagi PTKIN untuk mencapai akreditasi Unggul. Namun dia menyadari bahwa insentif atau iming-iming apa pun tidak bisa menggugah apa pun jika dari pihak kampus tidak memiliki semangat untuk meraih akreditasi Unggul.

“Jadi akhirnya kalau mereka (PTKIN) dapat mengatur dengan baik, semua bekerja keras sebenarnya memiliki potensi luar biasa. Oleh karena itu ke depan bagi PTKIN yang berusia masih baru tentu saja didorong untuk meraih akreditasi Unggul, apalagi PTKIN yang sudah settle lama, menunggu apa lagi?” bebernya.

Sementara bagi PTKIN yang telah lama meraih akreditasi Unggul diharapkan meningkat menjadi world class university atau kampus kelas dunia.

“Saya mulai tahun depan menargetkan PTKIN yang sudah lama seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UINSA Surabaya, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Maliki Malang, tidak ada pilihan lain semua harus naik menjadi kampus kelas dunia,” harapnya.

“World class university ini sudah diawali UIN Jakarta yang di bidang religious studies masuk dalam 150 kampus kelas dunia, ini kan setara dengan Cornel University,” jelasnya optimistis.
 

Tahun depan dia menargetkan semakin banyak PTKIN yang masuk perankingan WUR (World University Ranking). “Ini memang semakin berat tapi kita harus bergerak ke arah sana,” pungkasnya.
 


Editor: Muhammad Zunus
logo