Arina.id - Huru-hara demonstrasi berujung kekerasan tidak hanya terjadi di Perancis, namun telah meluas ke sejumlah negara Eropa. Ratusan ribu orang turun ke jalan-jalan kota hampir di seluruh benua.
Kegaduhan demonstrasi ini dimulai dari Perancis pada September 2026 lalu dan terus menyebar hingga bulan ini. Kerusuhan demi kerusuhan telah menyebar ke berbagai kota, dan sekarang kian tidak terkendali karena terus menyebar ke enam negara tetangganya.
Media abc.net.au melaporkan dari Eropa, meskipun tuntutan para demonstran relatif sama, yaitu mengeluhkan tentang biaya hidup, namun konsekuensi dari masalah tersebut dapat berbeda secara signifikan di masing-masing negara tergantung pada lokasinya.
Di Perancis, jam malam telah diberlakukan di beberapa bagian Kota Paris dan Lille setelah beberapa aksi berubah menjadi kekerasan dan penjarahan. Polisi juga sudah menangkap ratusan orang di tengah penjarahan dan kerusakan luas pada bisnis dan bangunan umum.
Saat ini, para analis memperingatkan bahwa ketidakpuasan tersebut dapat menyebar ke lebih banyak negara dalam beberapa minggu mendatang. Kekhawatiran itu terbukti. Selang beberapa hari huru-hara melanda Italia dan sejumah negara lain.
Mengapa orang-orang Eropa turun ke jalan?
Aksi protes massal tersebut dapat ditelusuri kembali ke tanggal 17 September 2026, ketika para guru di sebuah sekolah menengah di tenggara Paris memprotes kekurangan staf. Para siswa kemudian ikut bergabung, lalu tidak butuh waktu lama menyebar secara luas ke sekolah-sekolah lain di seluruh negeri.
Apa yang awalnya berfokus pada pendidikan kini telah meluas hingga mencakup masalah biaya hidup secara umum, keluhan layanan publik dan pengurangan anggaran di sektor publik.
Aksi demonstrasi di Perancis semakin memanas dan berubah menjadi kekerasan, puncaknya pada akhir pekan kemarin, Minggu 18 Oktober 2026, ketika ratusan ribu orang turun ke jalan di seluruh negeri. Di beberapa daerah, toko-toko dijarah dan bangunan bersejarah rusak, bahkan terbakar.
Presiden Perancis Emmanuel Macron mengutuk "kekerasan yang tak terkendali" itu dalam pidatonya di televisi pada Minggu malam dan menyalahkan para perusak sayap kiri radikal karena membajak gerakan demonstrasi yang sah itu.
Di saat sama ketika protes di Perancis dimulai, orang-orang di Madrid Spanyol juga mulai berdemonstrasi setelah seorang wanita lanjut usia diusir dari rumahnya yang telah ditempati selama 70 tahun. Ia diusir oleh sebuah perusahaan investasi, yang telah menaikkan sewanya sebesar 230 persen.
Lalu ada peristiwa Maricarmen Abascal, 87 tahun, meninggal di rumah sakit dua minggu terpaksa keluar dari apartemennya. Hal ini memicu penyebarannya yang terus menerus, dan sekarang tersebar di berbagai negara. Berikut demonstrasi pertama yang tercatat di Eropa: Perancis (17 September), Spanyol (26 September), Belgia (1 Oktober), Italia (5 Oktober), Portugal (10 Oktober), Albania (12 Oktober).

Mengapa menular dan melanda Eropa?
Perancis memiliki perekonomian terbesar kedua di Zona Euro. Namun, pemerintahnya sedang berjuang mengatasi utang yang tinggi, defisit anggaran yang besar, dan biaya pinjaman yang meningkat. Tahun ini, pemerintah akan mengeluarkan lebih banyak uang untuk membayar utang daripada untuk pemeliharaan atau pendidikan.
Meskipun kondisi sekolah dan sumber daya pengajaran menjadi fokus utama di Prancis (terutama yang memicu pembekuan awal), ada banyak masalah lain yang mendorong orang turun ke jalan di seluruh benua. Sebagian besar terkait dengan meningkatnya biaya hidup. Berikut ringkasannya:

Para pejabat di Perancis telah mendorong rekan-rekan mereka di tingkat regional untuk menerapkan jam malam. Sementara itu, Spanyol akan mengadakan pemilihan sela umum pada tanggal 29 November 2026, yang digagas oleh Perdana Menteri Pedro Sánchez tak lama setelah reformasi perumahan yang bertujuan untuk meredam protes masyarakat, meskipun usulan pemilu sela dibatalkan parlemen.
Permasalahan di Albania sedikit berbeda dengan permasalahan di Eropa Barat. Korupsi pemerintah adalah salah satu alasan utama mendorong masyarakat menuntut perubahan di Ibu Kota Tirana, di mana para politisi menyatakan menggunakan taktik licik untuk menyetujui pembangunan perumahan mewah di tepi pantai yang terkait dengan keluarga Trump.
Di Perancis, pemerintah telah mengadakan pembicaraan krisis, dengan pemberlakuan jam malam di beberapa bagian Paris dan Lille. Hal ini terjadi setelah para demonstran berjanji bakal meningkatkan aksi mereka dalam beberapa hari mendatang. Padahal negara itu kurang dari enam bulan lagi pemilihan presiden, dan partai-partai politik saling menyalahkan karena memicu kekerasan.
Misalnya, pemimpin politik sayap kanan Marine Le Pen sepenuhnya membenarkan pemerintah, menggambarkan Perancis sebagai negara yang "terjebak, bahkan disandera, antara kekerasan dan ketidakberdayaan".
Singkatnya, fakta-fakta yang ada di Eropa memang sedang menuju pada satu titik yang oleh beberapa ahli disebut sebagai siklus besar kekuasaan: pemilihan nasional (pemilu), yang dapat memicu ketegangan karena banyak negara akan mengadakan pemilihan dalam 12 bulan ke depan.
Sementara itu, di Albania, Perdana Menteri Edi Rama telah berjanji tetap bertahan meskipun menghadapi seruan untuk mundur, sehingga protes yang telah ditenangkan oleh polisi tampaknya akan kembali berkobar.
Pemerintah di Italia, Portugal, dan Belgia semuanya mengutuk meningkatnya kekerasan, dan tidak menawarkan konsesi apa pun. Aksi berskala kecil juga tercatat di Yunani, Austria, Irlandia, dan Jerman selama beberapa minggu terakhir ini.
Editor: Muhammad Taufiq
