Jakarta, Arina.id – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin masif dan menjangkau berbagai aspek kehidupan manusia. Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) bahkan memperkirakan AI, robot, dan mesin-mesin otomatisasi, mampu menggeser peran strategis yang selama ini dilakukan oleh manusia.
Namun demikian, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ), Ulil Abshar Abdalla membantah sebagian pendapat yang mengatakan kemampuan mesin mampu menggantikan seluruh peran manusia.
Menurut sosok yang akrab disapa Gus Ulil ini, Al-Qur'an sudah menegaskan jika manusia tidak mungkin tergantikan, karena ada ayat yang menunjukkan bahwa seluruh alam yang diciptakan Allah di muka bumi memiliki manfaat untuk manusia.
Ia mengutip QS. Al-Luqman Ayat 20 yang artinya: "Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu."
Gus Ulil mengatakan bahwa kata "menundukkan" dalam ayat tersebut bukan berarti untuk mengeksploitasi alam, melainkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai tuan, sedangkan seluruh alam raya diciptakan untuk membantu manusia.
"Secanggih apa pun mesin tidak akan pernah bisa menggantikan manusia, karena manusia adalah ciptaan Allah yang paling istimewa," ujar Gus Ulil dalam perayaan 20 tahun Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) di Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu (15/2/2025).
Gus Ulil mencontohkan penghafal Al-Qur'an yang tak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, meskipun AI semakin canggih, tidak akan bisa menggantikan kedudukan penghafal Al-Qur'an.
"Mesin bisa menghafal Al-Qur'an tanpa kesalahan, sedangkan manusia menghafal Al-Qur'an dengan potensi kesalahan besar, tetapi tetap kedudukan manusia sebagai penghafal Al-Qur'an yang mungkin salah ini jauh lebih tinggi dibanding mesin yang mengetik tanpa kesalahan," katanya.
Dalam pandangan Islam, kata Gus Ulil, justru makhluk yang bisa salah ini (manusia) merupakan makhluk yang istimewa. Ia menukil hadits yang berbunyi seandainya di muka bumi ini ada manusia yang sesungguhnya melakukan tindakan yang benar, tidak melakukan kesalahan sedikit pun, maka Allah sebenarnya tidak menyukai dunia ini.
Gus Ulil yang juga menjabat sebagai Ketua PBNU itu menjelaskan bahwa manusia bisa salah dan bisa benar. Justru keistimewaan manusia terletak pada kemampuannya untuk salah.
"Hadits ini sebenarnya pernah dikemukakan oleh salah satu ahli dalam perdebatan soal AI, kira-kira setahun yang lalu. Ia mengatakan bahwa meskipun AI memang hebat, manusia jauh lebih hebat karena manusia bisa salah," tegasnya.
Editor: Kendi Setiawan
