Hari Buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei menjadi momen istimewa untuk meninjau kembali kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan pekerja di berbagai sektor. Di tengah-tengah diskusi tentang hak buruh, upah layak, dan tantangan dunia kerja yang terus berkembang, film dapat menjadi medium refleksi yang kuat.
Beberapa karya sinematik tidak sekadar menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran tentang realitas sosial, ketimpangan ekonomi, dan perjuangan kolektif. Berikut beberapa rekomendasi film yang cocok ditonton pada Hari Buruh. Pilihan film tidak hanya akan menemani hari penting ini, tetapi juga mengajak penonton berpikir lebih dalam tentang esensi keadilan dan martabat kerja.
1. The Goat Life
The Goat Life yang tayang perdana di Netflix (19/7/2024) merupakan film garapan Blessy yang diadaptasi dari novel berjudul Aadujeevitham (2008) karya Benyamin, salah satu buku terlaris dan paling populer dalam bahasa Malayalam. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 12 bahasa, termasuk bahasa asing.
The Goat Life mengisahkan perjuangan seorang pria di tengah gurun Saudi, menghadapi eksploitasi dan kerasnya kehidupan sebagai pekerja migran. The Goat Life menjadi salah satu film yang relevan untuk ditonton pada Hari Buruh, terutama karena tema yang diusungnya menggambarkan realitas pekerja migran dan eksploitasi tenaga kerja.
Film ini tidak hanya menghadirkan kisah bertahan hidup yang menegangkan, tetapi juga mengajak penonton untuk merenungkan kondisi kerja yang masih menjadi tantangan besar di berbagai belahan dunia. Melalui narasi yang emosional dan mendalam, The Goat Life berhasil mengungkap sisi kelam dari sistem ketenagakerjaan yang sering kali tidak terlihat. Film ini bisa menjadi pemantik diskusi tentang hak buruh, perbudakan modern, dan pentingnya keadilan dalam dunia kerja.
2. 12 Years a Slave
12 Years A Slave (2013) merupakan film drama biografi yang sutradara Steve McQueen. Film ini berhasil meraih 7 nominasi Golden Globe Awards, dan memenangi satu di antaranya, yakni kategori Best Motion Picture Drama. 12 Years A Slave juga sukses mendapat 9 nominasi Academy Awards 2014, dan berhasil membawa pulang 3 Piala Oscar untuk kategori: Best Picture, Best Supporting Actress, dan Best Adapted Screenplay.
12 Years a Slave mengisahkan perjalanan nyata Solomon Northup, seorang pria kulit hitam yang awalnya hidup sebagai individu merdeka, namun kemudian terjebak dalam perbudakan selama 12 tahun akibat tawaran kerja yang menipu.
Film ini secara gamblang menampilkan penderitaan yang dialami Solomon dan para budak lainnya, memperlihatkan kekejaman sistem perbudakan dengan detail yang menyayat hati. Setiap adegan membawa penonton lebih dekat pada realitas kelam yang dihadapi para korban, membangun empati terhadap ketidakadilan yang mereka alami.
Lebih dari sekadar kisah bertahan hidup, 12 Years a Slave juga menjadi refleksi mendalam tentang ketahanan manusia, perjuangan melawan penindasan, dan harapan untuk meraih kembali kebebasan. Dengan narasi yang kuat dan penyampaian yang emosional, film ini mengajak penonton untuk memahami sejarah kelam perbudakan serta dampaknya yang masih terasa hingga kini.
3. Migrant Dreams
Migrant Dreams (2016) adalah film dokumenter Kanada karya Min Sook Lee yang mengungkap pelanggaran hak asasi manusia terhadap pekerja migran asal Indonesia. Mereka bekerja sebagai buruh tani di Ontario Barat Daya di bawah Program Pekerja Asing Sementara, namun justru menghadapi eksploitasi dan ketidakadilan.
Melalui sudut pandang yang tajam, Lee mengikuti perjalanan para pekerja migran yang awalnya tergiur oleh janji pekerjaan di Amerika, tetapi akhirnya terjebak dalam kondisi kerja yang jauh dari harapan. Dengan akses dari organisasi Justicia untuk Pekerja Migran, film ini mengekspos tantangan yang dihadapi para buruh, termasuk keterbatasan bahasa dan ketakutan akan deportasi.
Sebagai bagian dari proses dokumentasi, Lee bahkan menyelami langsung kehidupan para pekerja migran, memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang realitas yang mereka hadapi. Migrant Dreams menjadi karya yang menggugah kesadaran tentang ketidakadilan dalam sistem ketenagakerjaan global dan pentingnya perlindungan bagi pekerja migran.
4. Made in Dagenham (2010)
Diadaptasi dari kisah nyata, Made in Dagenham merupakan film garapan sutradara Nigel Cole dan penulis William Ivory. Film ini bercerita tentang para perempuan yang bekerja di pabrik Ford, Dagenham, Inggris. Berlatar tahun 1968, Rita O`Grady menuntut kesetaraan upah antara pekerja perempuan dengan pekerja laki-laki. Dalam kisah nyata, perjuangan Rita O`Grady berujung pada disahkannya Undang Undang Kesetaraan Upah pada tahun 1975 di Inggris.
Stereotipe gender dalam film ini begitu terasa, bagaimana pekerjaan perempuan yang dinilai sebagai pekerjaan tidak terampil membuat upah mereka berbeda dengan laki-laki. Ketidakadilan ini kemudian membawa nyala api perjuangan aksi untuk menuntut keadilan upah.
Kendati tergolong sebagai genre komedi, film ini justru menampilkan sesuatu yang begitu berbeda dengan film komedi lainnya. Alih-alih memberikan penampilan lucu dan receh, film ini malah memiliki banyak muatan kritik sosial sesuai dengan zamannya.
Dalam konteks Hari Buruh Internasional, film ini sangat relevan karena memiliki nilai perjuangan yang tinggi, terlebih balutan komedi yang memuat kritik sosial di dalamnya. Film ini pun pernah mendapatkan nominasi BAFTA pada tahun 2011 untuk kategori Film Inggris Terbaik dan Aktris Pendukung terbaik untuk Miranda Richardson yang berperan sebagai Menteri Perburuhan.
5. Suffragette (2015)
Berbeda dengan Made in Dagenham, Suffragette (2015) mengisahkan perjuangan seorang pekerja perempuan yang memperjuangkan hak pilih. Disutradarai oleh Sarah Gavron, film ini mendapatkan beberapa penghargaan termasuk British Independent Film Award dan 19th Hollywood Film Awards.
Film ini berawal dengan kisah Maud Watts (Carey Mulligan), seorang buruh laundry yang tidak tertarik pada gerakan aktivisme. Akan tetapi hidupnya berubah drastis setelah ia mengamati banyak terjadi ketidakadilan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari. Bahkan Maud sendiri mengalami pelecehan seksual di tempat kerja. Ia pun memantapkan diri untuk bergabung dalam kelompok aktivis perempuan yang bernama Suffragette.
Di sana ia banyak belajar dan memperjuangkan hak-hak perempuan melalui berbagai aksi. Ia banyak mengalami tekanan dari masyarakat, aparat, dan bahkan dari suaminya sendiri. Saking vokalnya, tak jarang ia ditangkap dan dianiaya. Tragisnya, film ini berujung dengan sad ending. Bagaimana Emily Davosin, teman Maud Watts meregang nyawa ketika menyuarakan hak-hak perempuan di depan Raja George V.
6. North Country (2005)
Norht Country (2005) dinukil dari kisah nyata yang dikenal dengan Jensen vs Eveleth Mines. Dengan konteks tahun 1975 di Minnesota, Amerika Serikat, film ini disutradarai oleh Nikola Jean Caro. Menariknya, kisah ini menceritakan bagaimana penderitaan pekerja perempuan di wilayah tambang yang notabene didominasi oleh laki-laki. Carita berpusat pada Josey Aimes (Charlie Theron), seorang ibu tunggal yang bekerja di tambang besi untuk memenuhi kebutuhan kedua anaknya.
Alih-alih bekerja tanpa tantangan, Josey dan perempuan lainnya justru mendapatkan banyak pelecehan dari rekan kerja laki-laki. Ia bersama rekan perempuannya tak hanya mengalami pelecehan secara verbal, melainkan hingga menyentuh kategori pelecehan secara fisik. Niat baik untuk bekerja secara tulus dan kerja keras tidak mudah bagi pekerja perempuan. Mereka harus menghadapi male gaze setiap hari. Josey pun memutuskan untuk melawan dan melakukan gugatan ke pengadilan.
Di persidangan, Josey tidak terlalu mendapat dukungan dari rekan kerja perempuan lainnya. Namun, kesaksian dari salah satu sahabatnya menjadi bara api yang menyala bagi para perempuan lainnya untuk lantang bersuara. Kesaksian ini membuka jalan bagi pekerja perempuan lain untuk maju dan membuktikan bahwa pelecehan memang sistemik dan nyata di tempat kerja mereka. Pada akhirnya, perjuangan mereka dibayar penuh dengan keberpihakan pengadilan
Editor: Kendi Setiawan
