Donald Trump Kembali Klaim Pasukannya Telah Menyerang Dermaga Venezuela

Donald Trump Kembali Klaim Pasukannya Telah Menyerang Dermaga Venezuela

Arina.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengatakan pasukannya telah menyerang area dermaga yang diklaimnya terkait dengan kapal narkoba Venezuela. Klaim itu disampaikan Trump di Florida Senin kemarin, 29 Desember 2025.

Dilaporakan media-media barat, Trump mengatakan telah terjadi ledakan besar pekan lalu di mana mereka (Venezuela) memuat kapal dengan narkoba. Namun Trump tidak memberikan rincian di mana dermaga tersebut berada, atau apakah militer AS atau CIA terlibat. 

Di sisi lain, seperti dikutip dari BBC, Pemerintah Venezuela sampai sekarang juga belum menanggapi, dan tidak jelas apakah serangan itu terjadi di dalam wilayah Venezuela atau bukan. 

Sejak September 2025, AS telah melakukan serangan terhadap apa yang mereka sebut sebagai kapal penyelundup narkoba, dengan menargetkan lebih dari 20 kapal. Kapal-kapal tersebut mayoritas berasal dari Venezuela, di perairan Pasifik dan Laut Karibia hingga menewaskan sedikitnya 100 orang.

Serangan terbaru terjadi pada Senin kemarin, ketika Komando Selatan AS mengatakan dalam sebuah posting media sosial bahwa dua "teroris-narkoba" tewas dalam serangan kinetik mematikan di Pasifik timur. Trump sebelumnya juga telah mengancam serangan darat di Venezuela, serta mengizinkan tindakan rahasia CIA di negara itu sebagai bagian dari kampanye tekanan pada Presiden Nicolás Maduro.

Jurnalis sempat bertanya kepada Trump pada apakah CIA telah melakukan serangan? Trump menjawab, "Saya tidak ingin mengatakan itu. Saya tahu persis siapa itu, tetapi saya tidak ingin mengatakan siapa itu".

"Kami menabrak semua perahu, dan sekarang kami mencapai daerah itu... Ini adalah area implementasi. Di situlah mereka menerapkan, dan itu tidak ada lagi," katanya kembali menegaskan terkait serangan ke Venezuela.

Komentar Trump ini merupakan kedua kalinya dengan menyebutkan "ledakan itu". Dalam sebuah wawancara radio pekan lalu, Trump menggambarkan operasi AS terhadap fasilitas besar, tetapi hanya memberikan rincian terbatas. Pentagon kemudian merespons informasi tersebut dengan menerbitkan gambar dan video di media sosial untuk mengkonfirmasi serangan tersebut. 

Akan tetapi video-video tersebut tidak menunjukkan ledakan di sebuah dermaga, namun hanya ledakan kapal di lautan saja. Di sisi lain klaim Trump justru mengatakan AS telah melakukan serangan di area dermaga yang terkait dengan dugaan kapal narkoba Venezuela.

Sebelumnya, AS telah mengerahkan 15.000 tentara dan berbagai kapal induk, kapal perusak dilengkapi dengan rudal, dan kapal serbu amfibi ke Karibia. Tujuannya untuk menghentikan aliran fentanil dan kokain ke AS. Dan pengerahan armada juga disebut sebagai yang terbesar di wilayah tersebut sejak AS menginvasi Panama pada 1989. 

Di antara kapal-kapal perang itu antara lain; USS Gerald Ford, kapal induk terbesar di dunia. Helikopter AS dilaporkan lepas landas sebelum pasukan AS menyita sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela pada 10 Desember.

Pemerintahan Trump telah menuduh Venezuela menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai kejahatan terkait narkoba. Venezuela mengutuk penyitaan itu sebagai "pembajakan". Akan tetapi Maduro telah membantah klaim AS dan balik menuduh AS menggunakan "perang melawan narkoba" sebagai alasan untuk mencoba menggulingkannya dan mendapatkan cadangan minyak Venezuela.

Pekan lalu, Trump ditanya apakah tujuan dari penyitaan itu adalah untuk memaksa Maduro turun dari kekuasaan. Trump menjawab: "Yah, saya pikir itu mungkin akan ... Terserah dia apa yang ingin dia lakukan. Saya pikir akan cerdas baginya untuk melakukan itu. Tapi sekali lagi, kita akan mencari tahu."


Editor: Muhammad Taufiq
logo