Arina.id — Robert Kabera, mantan tentara Rwanda yang dikenal vokal mengkritik Presiden Paul Kagame, ditemukan tewas dengan kepala terpenggal di Uganda. Polisi kini menyelidiki kasus pembunuhan tersebut, sementara kepala korban belum ditemukan.
Jenazah pria berusia sekitar 50 tahun itu ditemukan di Desa Luwala, kawasan dekat Kampala, Uganda bagian selatan-tengah. Juru bicara Kepolisian Uganda, Kituuma Rusoke, mengatakan pada Senin (20/10) bahwa kerabat telah mengidentifikasi jenazah tersebut sebagai Robert Kabera.
“Seorang pria dewasa, berusia sekitar 50 tahun, ditemukan dengan kepala terpenggal. Hingga saat ini, kepala tersebut belum ditemukan,” kata Rusoke kepada wartawan.
Polisi memperkirakan pembunuhan itu terjadi pada malam 16 Oktober atau dini hari 17 Oktober 2026. Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap pelaku dan motif pembunuhan.
Kasus ini menjadi sorotan karena Kabera merupakan mantan anggota militer Rwanda yang meninggalkan negaranya dan menetap di Uganda. Dalam beberapa tahun terakhir, ia dikenal semakin vokal menentang pemerintahan Kagame, yang telah memimpin Rwanda sejak 2000.
Aktif Mengkritik Kagame Lewat YouTube
Kabera memiliki kanal YouTube bernama Major Robert TV yang diikuti sekitar 144.000 pelanggan. Melalui kanal tersebut, ia menyampaikan pandangan politik dan menampilkan lagu yang memuji Victoire Ingabire, salah satu tokoh oposisi Rwanda yang berulang kali dipenjara.
Sebelum meninggalkan Rwanda, Kabera merupakan seorang sersan di militer. Menurut keterangan keluarganya, ia kemudian menghadapi persoalan hukum setelah berada di luar negeri.
Saudaranya, Victor Agaba, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa Kabera tidak memiliki masalah dengan siapa pun selama tinggal di Uganda.
“Masalah kami berasal dari rumah,” kata Agaba, merujuk pada Rwanda. Ia juga menyebut perkara pidana yang dihadapi saudaranya sebagai “perburuan penyihir”.
Kabera sebelumnya dinyatakan sebagai buronan oleh otoritas Rwanda setelah meninggalkan negara tersebut. Ia dituduh melakukan tindakan seksual terhadap anak di bawah umur, tuduhan yang dibantahnya.
Belum ada bukti yang diumumkan kepolisian Uganda yang menghubungkan tuduhan tersebut dengan pembunuhan Kabera. Polisi juga belum menyampaikan kesimpulan mengenai apakah aktivitas politiknya berkaitan dengan kematiannya.
Bukan Kasus Pertama bagi Oposisi Rwanda di Pengasingan
Kematian Kabera kembali menyoroti kekhawatiran mengenai keselamatan para pengkritik pemerintah Rwanda yang tinggal di luar negeri. Dalam sejumlah kasus sebelumnya, tokoh oposisi atau mantan pejabat yang berseberangan dengan Kagame ditemukan tewas atau menjadi sasaran upaya pembunuhan.
Pada 2021, Revocat Karemangingo, mantan letnan militer Rwanda yang tinggal di Mozambik, ditembak mati. Ia dicurigai memiliki hubungan dengan kelompok oposisi Rwanda.
Pada tahun yang sama, Seif Bamporiki, tokoh oposisi Rwanda, juga ditembak mati di Afrika Selatan.
Sebelumnya, pada 2014, Patrick Karegeya, mantan kepala intelijen Rwanda yang kemudian menjadi pengkritik pemerintah, ditemukan tewas dicekik di sebuah kamar hotel di Afrika Selatan.
Sementara itu, Faustin Kayumba Nyamwasa, mantan jenderal Rwanda yang ikut mendirikan partai oposisi Rwanda National Congress bersama Karegeya, dilaporkan selamat dari sejumlah upaya pembunuhan selama hidup di pengasingan.
Rangkaian kasus tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan oposisi Rwanda mengenai ancaman terhadap para pembangkang di luar negeri. Pemerintah Rwanda selama bertahun-tahun menghadapi tuduhan dari sejumlah pihak mengenai tindakan represif terhadap lawan politiknya. Tuduhan-tuduhan itu perlu dibedakan dari temuan penyelidikan dalam setiap kasus individual.
Pemerintahan Kagame dan Sorotan terhadap Oposisi
Paul Kagame menjadi pemimpin de facto Rwanda setelah genosida 1994 dan kemudian menjabat sebagai presiden pada 2000. Genosida tersebut menewaskan sekitar 800.000 orang, terutama dari komunitas Tutsi, menurut perkiraan yang umum digunakan.
Pemerintahan Kagame kerap mendapat pengakuan atas stabilitas dan pembangunan Rwanda setelah genosida. Namun, pemerintahannya juga menghadapi kritik dari organisasi hak asasi manusia dan kelompok oposisi terkait pembatasan kebebasan politik, penindakan terhadap pembangkang, serta keselamatan para pengkritik pemerintah.
Untuk saat ini, kepolisian Uganda belum mengumumkan tersangka ataupun mengonfirmasi motif politik. Penyelidikan terhadap temuan jenazah tanpa kepala itu akan menjadi penentu untuk membedakan dugaan yang berkembang dari fakta yang dapat dibuktikan.
Kematian Kabera menambah daftar kasus kekerasan yang menimpa sejumlah tokoh Rwanda di pengasingan. Namun, apakah kasus terbaru ini berkaitan dengan pola penyerangan terhadap oposisi masih harus dibuktikan melalui penyelidikan resmi.
Editor: Muhammad Zunus
