Jakarta, Arina.id — Cuaca ekstrem diperkirakan masih membayangi sejumlah wilayah Indonesia pada 28–29 Januari 2026, seiring menguatnya Monsun Asia dan meningkatnya potensi Bibit Siklon Tropis 91S di selatan Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Menurut prakiraan BMKG, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpeluang terjadi di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, serta Papua, pada periode 26–29 Januari, dengan puncak potensi cuaca signifikan pada 28–29 Januari 2026.
BMKG mencatat, dalam beberapa hari terakhir telah terjadi hujan lebat di sejumlah wilayah, antara lain Nusa Tenggara Barat (83,8 mm/hari), Maluku (70,4 mm/hari), Sulawesi Selatan (63,4 mm/hari), Bali (61,5 mm/hari), Banten (60,2 mm/hari), dan Jawa Barat (54,8 mm/hari). Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi faktor regional berupa sirkulasi siklonik dan penguatan monsun dingin Asia.
Salah satu faktor utama adalah Bibit Siklon Tropis 91S yang terpantau berada di Samudra Hindia selatan Sumbawa, dengan tekanan minimum sekitar 1004 hPa dan kecepatan angin maksimum mencapai 30 knot. Bibit ini bergerak ke arah selatan–tenggara dan dalam 48–72 jam ke depan berpotensi tinggi berkembang menjadi siklon tropis. Dampaknya, kecepatan angin lebih dari 25 knot diperkirakan terjadi di perairan selatan Jawa Timur hingga Sumba, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta perairan utara Madura hingga Flores.
Selain itu, Bibit Siklon Tropis 92P yang berada di Teluk Carpentaria juga turut memengaruhi dinamika cuaca, meski peluang berkembang menjadi siklon tropis tergolong rendah. Bibit ini tetap berkontribusi meningkatkan angin kencang dan pembentukan awan hujan di Laut Banda, Laut Arafura, Maluku bagian selatan hingga tenggara, serta Papua Selatan.
Penguatan Monsun Asia yang membawa massa udara lembap dari Laut Cina Selatan, diperkuat fenomena Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS), membuat aliran udara lembap melintasi ekuator semakin intens. Kondisi ini mendorong pertumbuhan awan hujan secara signifikan, terutama di Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
BMKG juga mencatat aktifnya Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin di sejumlah wilayah perairan dan daratan Indonesia, yang semakin meningkatkan potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.
Untuk periode 28–29 Januari 2026, BMKG menetapkan status Siaga hujan lebat hingga sangat lebat di Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Pegunungan, serta potensi angin kencang di Banten, Bali, NTB, dan NTT.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, banjir bandang, longsor, dan gangguan transportasi darat, laut, maupun udara. Aktivitas luar ruang, termasuk perjalanan dan kegiatan wisata, diharapkan direncanakan dengan cermat dengan memantau informasi resmi BMKG melalui situs web, aplikasi InfoBMKG, dan kanal media sosial @infoBMKG.
Informasi cuaca akan terus diperbarui seiring perkembangan dinamika atmosfer yang masih sangat aktif di wilayah Indonesia.
Editor: Kendi Setiawan
