Jakarta, Arina.id — Wacana libur sekolah selama bulan suci Ramadan mengemuka beberapa waktu belakangan. Masyarakat pun teringat masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada 1999 lalu yang meliburkan kegiatan pendidikan sebulan penuh.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) turut memberikan pendapatnya.
"Soal libur ini yang libur apa? Sekolah? Kalau sekolah yang mana. Ya sekolah formal yang libur kan? Selama sebulan penuh. Jadi ya wacana. Tapi kita sudah pernah sekolah libur sebulan penuh itu dulu sudah pernah. Tidak libur juga sudah pernah," kata Gus Yahya saat Konferensi Pers di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (3/1/2024).
Gus Yahya mengatakan masalah utama bukan pada kebijakan libur atau tidak, tetapi pada apa yang harus dilakukan anak-anak selama periode libur.
Menurutnya, model yang bisa diandalkan untuk mengisi waktu anak-anak libur dalam sebulan saat ramadan ini harus dikuatkan.
"Dulu pernah ada anak-anak disuruh ikut tarawih, lalu minta tanda tangan imam sholatnya supaya mereka beribadah lebih tekun. Apakah itu model yang bisa kita andalkan? Tergantung kerangkanya," ujar Gus Yahya.
Gus Yahya mencontohkan kegiatan di pesantren selama ramadan justru cenderung lebih intensif lantaran ramadan penuh berkah sehingga jadwal ngaji lebih padat.
"Pesantren lebih banyak ngaji daripada libur di luar ramadan. Di pesantren, mereka bisa belajar hingga jam 12 malam," lanjutnya.
Ia menekankan kegiatan libur sekolah selama ramadan perlu dipertimbangkan dengan baik, terutama nasib anak-anak non-Muslim.
"Ini yang harus dibangun dulu, libur Ramadan anak-anak suruh apa? Apalagi kalau kita ingat dengan anak-anak sekolah non-Muslim. Mereka libur suruh apa? Ini bukan hanya soal libur enggak libur. Model ini yang jelas selama ini belum ketemu," tandasnya.
Editor: Kendi Setiawan
