BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta, 31 Rumah Sakit Disiagakan

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta, 31 Rumah Sakit Disiagakan

Jakarta, Arina.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mencapai DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiagakan 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan, citra sebaran asap yang dirilis pada Jumat (16/10/2026) pukul 10.00 menunjukkan partikel asap telah memasuki sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

“Dari citra sebaran asap wilayah Indonesia yang dirilis BMKG jam 10.00 tadi, terdeteksi asap yang sudah masuk ke wilayah Banten, Jawa Barat, ataupun Jakarta sendiri,” kata Guswanto kepada wartawan Jumat (16/10/2026) dikutip dari merdeka.com.

Menurutnya, sebaran asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan. Asap terpantau meluas ke sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. BMKG juga mendeteksi pergerakan asap dari Sumatra menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura, serta dari Kalimantan ke Semenanjung Malaysia.

Guswanto menjelaskan, arah angin di Indonesia secara umum bergerak dari timur hingga tenggara menuju barat laut. Namun, keberadaan asap di Jakarta perlu dipantau lebih lanjut untuk memastikan apakah konsentrasinya meningkat di permukaan atau hanya melintas di lapisan atmosfer atas.

“Yang perlu dicermati itu adalah tingkat konsentrasi air quality. Dari gambar tersebut, kita melihat arah pergerakan asap di Jawa bergerak ke arah tenggara hingga barat. Sehingga perlu dipantau terus apakah konsentrasi di Jakarta benar-benar meningkat di permukaan atau hanya melintas di lapisan atmosfer atas,” ujarnya.

Kualitas Udara Jakarta Tercatat Tidak Sehat
Laporan tvOn, Sabu (17/10/2026) menyebutkan, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta tercatat mencapai 186 pada Jumat pagi. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat. Meski demikian, angka indeks itu perlu dibaca sesuai sumber, waktu pengukuran, dan lokasi pemantauannya.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, pola angin timuran lazim terjadi selama musim kemarau. Namun, arah dan kecepatan angin dapat berbeda antardaerah maupun pada ketinggian atmosfer yang berbeda.

Menurut Daryono, partikel halus dari asap karhutla, termasuk PM2.5, dapat terangkat ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi akibat turbulensi dan konveksi. Pada ketinggian tersebut, arah angin bisa berbeda dari angin permukaan sehingga asap berpotensi terbawa melintasi jarak ratusan kilometer.

Ia menambahkan, konsentrasi asap dapat berubah selama perjalanan karena bercampur dengan udara sekitar, mengalami proses kimia, mengencer, atau mengendap. Karena itu, terdeteksinya asap di Jakarta tidak serta-merta berarti pencemaran udara di permukaan sudah mencapai tingkat berat.

Dampak asap, lanjutnya, bergantung pada besarnya emisi kebakaran, arah dan kecepatan angin, curah hujan, serta kestabilan atmosfer.

Pemprov DKI Siagakan Fasilitas Kesehatan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan telah memerintahkan sejumlah fasilitas kesehatan untuk bersiaga menghadapi kemungkinan warga mengalami gangguan pernapasan atau dampak kesehatan lainnya.

Sebanyak 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu disiapkan untuk menangani warga yang terdampak kondisi udara dan cuaca.

Pramono mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dampak kesehatan yang mungkin timbul. Ia juga menyebut kondisi udara perlu menjadi perhatian, meski penyebab dan tingkat dampaknya masih perlu dicermati.

Sementara itu, BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama jika kualitas udara memburuk. Masker berstandar KN95, KF94, atau N95 disebut lebih efektif menyaring partikel halus di udara.

Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menutup jendela untuk membatasi masuknya polusi ke dalam rumah. Perkembangan kualitas udara perlu terus dipantau melalui informasi resmi dari instansi terkait.


Editor: Kendi Setiawan
logo