Makkah, Arina.id
Di sebuah kota berjarak ribuan mil dari kampung halamannya, ia menaruh dua mushaf persis sejajar dengan kepalanya. Mushaf-mushaf itu diletakkan di tempat ia berbaring, disandarkan pada tembok di sisi kirinya.
Mushaf pertama ukurannya lebih kecil. Terbungkus dalam kotak hitam beludru. Itu mushaf yang baru diperoleh, dan belum pernah ia buka.
Musfah kedua ukurannya lebih lebar. Mushaf dengan sampul kuning keemasan itu ia bawa dari rumahnya. Entah berapa kali ia telah mengkhantamkannya. Yang pasti ia hanya membaca dan menyelesaikannya secara rutin. Tidak ada waktu khusus. Karena baginya, waktu adalah membaca. Dan yang ia baca hanyalah kalam-kalam suci dalam mushaf Al-Quran itu.
Lebih dari dua pekan ia telah meninggalkan Dusun Gollae, Desa Alletangae, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ini adalah kali pertama ia menempuh perjalanan hingga ribuan kilometer.
Baginya, ini adalah kota terbaik yang ia singgahi. Di dua kota suci ini, seluruh mimpinya telah menemukan batas muara.
Rennu Side Lauma (98 tahun) menempati kamar 407 Hotel Al Hassan, sektor 4 Wilayah Syisyah, Makkah. Sebelumnya, selama delapan hari ia dan rombongannya menetap di Madinah; melaksanakan sholat di Masjid Nabawi, bersimpuh dan memanjatkan doa di Raudhah, sekaligus menziarahi Rasulullah saw.
Perempuan kelahiran 1925 ini berangkat haji bersama putranya, Abdul Halim, melalui embarkasi Makassar dan tergabung dalam kloter UPG-3. Ia berangkat dari Bandara Hasanuddin Makassar dan tiba di Bandara Internasional Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, Selasa (14/5/2024).
"Anak saya sudah punya istri. Tapi dia ingin berangkat bareng saya. Dia yang selama ini mendampingi," ujar Rennu memulai obrolan bersama jurnalis MCH, Minggu (2/6/2024).
Rennu memang sempat khawatir lantaran tak memiliki pendamping saat berangkat ibadah haji. Ia didaftarkan haji oleh anaknya pada tahun 2015. Beruntung, mengajukan pendampingnya disetujui oleh Kementerian Agama.
Selama di Makkah, Rennu mengaku tidak banyak beraktivitas. Ia hanya melakukan umrah wajib, selebihnya menderas dan 'bermain' dengan Al-Quran di kamarnya. "Saya hanya umrah wajib. Setelah itu di kamar, ngaji," sambungnya.
Selain karena jaraknya yang cukup jauh, dan harus naik turun bus, Rennu juga punya kesulitan jalan lantaran kakinya sering nyeri.
"Kemarin pas di Madinah masih jalan ke masjid. Baru di sini tidak bisa pergi," ungkap Rennu sembari mengusap matanya yang sendu.
Meski berusia 98 tahun, tetapi kondisi fisik nenek Rennu masih cukup sehat. Dia tidak punya masalah dengan pendengaran maupun penglihatan. Daya ingatnya juga kuat. Namun karena kakinya mengalami kesakitan, selama menjalankan umrah wajib ia difasilitasi kursi dorong.
Akan Terus Mengajar
Rennu merasa tertarik sejak hari pertama ibunya mengenalkannya pada alif, ba, ta. Hingga pada hari berikutnya, dia benar-benar menyempurnakan cintanya pada deretan hijaiyah yang tersusun dalam lembar mushaf Al-Quran.
Rennu mempelajari Al-Qur’an dari ibunya. Ia tidak pernah singgah dan bermukim di pesantren. Ibunya yang meninggal di usia 100 tahun, hanya mengajarkan dan mewariskan Al-Qur’an. Turunan itulah yang ia estafetkan kepada delapan anaknya.
“Anak ada yang bekerja di Papua, dia tetap ngajar ngaji anak-anak,” terangnya.
Satu dari delapan anaknya adalah penghafal Al-Quran (Hafidhah). Ia tak hanya menghafal. Berbagai penghargaan diterima dalam musabaqah tilawatil qur'an. Hebatnya, sang hafidhah mempelajari Al-Quran dalam mata tertutup.
Ya, anaknya Rennu yang menghafal itu adalah penyandang disabilitas mata sejak lahir.
Di usia senja, Rennu memang tidak lagi bekerja di ladang padi. Namun ada satu kewajiban yang terus ia tunaikan yakni menderas dan mengajarkan kepada mereka yang membutuhkan bimbingan bacaan Al-Qur'an.
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا ۚ سَيَجْعَلُ ٱللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
Artinya: "Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan."
“Bacalah setiap saat, agar hidup kita dilapangkan dan dimudahkan,” pungkas Nenek Rennu sembari memberi amalan salah satu potongan ayat Al-Qur'an surat At-Thalaq ayat 7.
Editor: Muhammad Faizin
