Jakarta, Arina.id—Kanselir Jerman, Friedrich Merz mengumumkan akan menangguhkan persetujuan ekspor senjata ke Israel. Hal itu sebagai respons keinginan Benjamin Netanyahu yang berencana mencaplok wilayah Gaza. Diketahui 25 persen wilayah di Jalur Gaza belum berhasil dikuasai Israel.
"Dalam situasi ini, pemerintah Jerman tidak akan menyetujui ekspor peralatan militer apa pun yang dapat digunakan di Jalur Gaza hingga pemberitahuan lebih lanjut," kata Merz dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Al Arabiya.
Kebijakan Jerman disambut baik Pengamat Timur Tengah, Hasibullah Sastrawi. Penghentian pengiriman senjata ini lantaran sikap Israel terus melakukan ekskalasi yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
"Kita tahu Israel terbaru mengeluarkan kebijakan untuk menguasai jalur Gaza secara total dan Israel tidak kunjung serius melakukan gencatan senjata," kata Hasibullah kepada Arina.id, Sabtu, 9 Agustus 2025.
Menurut dia, kebijakan Jerman dan negara Eropa lainnya memberi harapan bagi terciptanya perdamaian di Timur Tengah atau menjadi tekanan sendiri.
"Kita tahu dalam beberapa bulan terakhir beberapa negara seperti Prancis, Jerman, bahkan Inggris memberikan tekanan yang sangat kuat kepada Israel dalam bentuk mengakui kemerdekaan Palestina," ujarnya.
Hasibullah melihat sikap Jerman untuk menghentikan ekspor senjata berangkat dari kesadaran negara Eropa dan sekitarnya bahwa Israel tidak melihat aspek-aspek kemanusiaan.
"Itu lah yang membuat negara Eropa melakukan koreksi dan sikap yang keras kepada Israel meskipun tidak sama fasenya," imbuhnya.
Sikap Jerman dan negara Eropa lainnya, kata Hasibullah, harus didukung agar kemanusiaan tetap bisa diselamatkan tidak dinjak karena ambisi kekuasaan seperti yang dilakukan Netanyahu dan pemerintah Israel saat ini.
Jerman salah satu sekutu internasional Israel yang rajin mengirimkan senjata dari 7 Oktober 2023 hingga 13 Mei 2025, Jerman mengeluarkan izin ekspor untuk pengiriman senjata ke Israel dengan total EUR485,1 juta (USD554,3 juta).
Ekspor yang disetujui mencakup berbagai peralatan militer termasuk sistem persenjataan, amunisi, radar dan perangkat komunikasi serta suku cadang untuk kendaraan lapis baja.
Namun, persetujuan telah menurun tahun ini, dengan hanya 14,5 juta euro yang diberikan dari Januari hingga 21 Agustus, menurut data yang diberikan oleh Kementerian Ekonomi dalam menanggapi pertanyaan parlemen.
Pernyataan Merz tidak muncul tiba-tiba, sebelumnya gelombang massa di Jerman mendesak agar Merz segera menghentikan seluruh pengiriman senjata ke Israel dan menerapkan sanksi tambahan terhadap Tel Aviv.
Lebih dari 160 selebritis dan jurnalis Jerman pada Rabu, 6 Agustus 2025, menyatakan dukungan terhadap kampanye yang menuntut pemerintah Jerman menghentikan ekspor senjata ke Israel, seiring meningkatnya kritik terhadap operasi militer Israel di Gaza.
"Bapak Merz, sudah waktunya untuk bertindak!” demikian pernyataan yang disampaikan dalam surat terbuka tersebut, seperti dikutip Anadolu Agency.
Pada 2024, gelombang gugatan hukum dilayangkan terhadap pemerintah Jerman agar menghentikan eskpor senjata ke Israel namun pemerintah bersikeras bantuan militer kepada Israel dianggap sesuai konstitusi dan hukum internasional.
Namun putusan Mahkamah adalah bahwa pengurangan tajam ekspor senjata Jerman ke Israel pada Maret 2024 dan minimnya ekspor senjata perang yang berpotensi digunakan di Gaza, menyebabkan Mahkamah tidak memiliki urgensi untuk memerintahkan Jerman menangguhkan semua ekspor senjata ke Israel.
Mahkamah berkesimpulan bahwa “keadaan, sebagaimana yang sekarang disajikan kepada Mahkamah, bukanlah keadaan yang mengharuskan Mahkamah untuk menggunakan kewenangannya … untuk menunjukkan tindakan sementara” terkait ekspor senjata Jerman ke Israel.
Editor: Muhammad Taufiq
