Arina.id - Dua sosok Gus ini bakal selalu melekat sepanjang sejarah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) berdiri. Gus Dur dan Gus Imin--seringnya dipanggil Cak Imin. Dua tokoh yang terikat darah: paman dan keponakan. Gus Dur pendiri PKB, sedangkan Cak Imin, suksesor Ketum PKB dengan periode kepemimpinan terlama (2005-sekarang).
Gus Dur dan Gus Imin memang tidak bisa disejajarkan. Mereka berada di tengah arena dan nuansa gejolak politik yang berbeda. Akan tetapi banyak yang bilang, kedua Gus itu sama-sama pendekar politik di masanya masing-masing, terutama dalam puak politik PKB.
Peran Gus Dur dan Cak Imin memang sentral di PKB. Gus Dur meletakkan dasar ideologi partai sampai sekarang. Sementara Cak Imin, berhasil mengangkat dan menguatkan kembali eksistensi partai berlambang bumi dengan selimut sembilan bintang itu; lalu menata manajemen partai lebih kuat, sentralistik, bisa beradaptasi secara dinamis dengan situasi politik di usia partai ke-27 tahun sekarang ini.
Kecerdikan dua Gus ini acap kali mengisi ruang-ruang diskusi. Mahfud MD menyebut Gus Dur sebagai sosok banyak akal. Dahlan Iskan dalam artikel berjudul: "Pendekar Politik" di Harian Disway menyebutnya sebagai pendekar politik. Dan banyak lagi kesaksian-kesaksian sepak terjang Gus Dur yang menyentuh level multidimensi.
Kecerdasan dan kecerdikannya diakui: dijuluki sebagai pendekar politik di masanya, disebut sebagai begawan di masa tuanya. Gus Dur juga dianggap Guru Bangsa, dilabeli Bapak Pluralisme. Dalam dimensi lain juga dikenal sebagai ulama, penganjur kebenaran. Meskipun dalam wajah yang lain disebut sebagai politisi ulung, budayawan dan seterusnya.
Para pengagumnya juga menyebut Gus Dur sebagai sosok humanis karena keberpihakannya pada kaum minoritas. Gagasan, pandangan-pandangannya sering dikutip dan diteliti. Namun lainnya mengenal Gus Dur humoris dengan joke-joke cerdas ala dirinya. Buku soal humor-humor Gus Dur ini banyak sekali jumlahnya.
Sementara Cak Imin bagaimana? Semua tahu sepak terjangnya di palagan politik Tanah Air. Cak Imin yang sempat "nyantri" di rumah Gus Dur juga dikenal banyak akal. Manuvernya susah ditebak, bahkan seringkali mengejutkan.
Jurnalis Senior Tempo, Bambang Harymurti (BHM), sempat berseloroh dalam sebuah diskusi menganalisis langkah PKB dengan menyebut Cak Imin sebagai "Kancil" di Channel Totalpolitik tahun lalu. "Nah ini kancil, menurut saya kancil ini Cak Imin," selorohnya menganalisis langkah PKB menjelang Pilpres 2024 lalu.
Filosofi kancil dalam khazanah budaya dan sastra Indonesia dilekatkan pada simbol karakter dan sifat cerdik. Ini banyak ditemui dalam fabel-fabel khas Nusantara. Misalnya dongeng kancil vs buaya, kancil vs harimau, kancil vs ular dan sebagainya. Kecerdikan kancil membantunya lolos dari berbagai marabahaya.
Julukan "kancil" memang kerap disematkan pada kedua sosok ini. Jika Gus Dur adalah kancil yang frontal dan suka membongkar kemapanan di masa Orde Baru rezim Soeharto, maka Cak Imin adalah kancil yang lincah menyesuaikan diri dengan keadaan. Kecerdikan mereka inilah yang dianggap sebagai kekuatan PKB sehingga mampu bertahan sampai sekarang ini.
Mereka membaca Gus Dur dan Cak Imin
Sejumlah tokoh mengakui karakter dua gus ini. Penulis sejarah NU Abdul Mun’im DZ, mengakui kecerdikan Cak Imin, terutama ketika dirinya gagal menjadi wapres namun memilih bergabung dengan kubu pemenang, Prabowo. "Itu taktik yang bagus. Itu pilihan bagus karena untuk menghidupkan sisi kepartaian harus begitu," kata Mun’im.
Mun'im menilai bergabungnya PKB ke Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus saat itu, justru memberikan dukungan politik kepada pemerintah saat ini dalam mengambil langkah-langkah strategis. Perundingan politik ini berbeda dengan sebelumnya PKB dikenal mengedepankan politik kerakyatan dan rasionalistik. "Itu gagasan baru PKB," jelasnya.
Ia menyebut Cak Imin sebagai kancil yang cerdik, mengingat berpolitik tidaklah mudah. Ia mencontohkan bagaimana pada Pemilu 2024, partai-partai besar seperti Golkar bisa diacak-acak pihak luar, begitu pula dengan Demokrat dan PPP namun PKB tidak.
PKB, meski sempat dipermainkan, tetap menunjukkan eksistensinya sebagai partai yang nyaris independen. Tidak mudah berada dalam posisi itu. Manuver Cak Imin yang lihai mampu menyelamatkan dirinya sekaligus partainya. "Tidak mudah berada dalam posisi itu. PKB selamat, dia juga selamat," katanya.
Kehebatan Cak Imin dalam merangkul berbagai partai politik terlihat dalam peringatan Harlah ke-27 PKB, yang dihadiri oleh Ketua DPR, MPR, DPD, seluruh jajaran parpol, bahkan presiden dan wakilnya. "Ini kan enggak lazim," ungkapnya.
PKB kini juga ikut menentukan haluan negara. Dalam pidato Harlah, PKB berani mengusulkan sejumlah kebijakan kepada presiden. Namun bila dibandingkan dengan Gus Dur, tentu ada perbedaan zaman. Gus Dur menghadapi situasi era Orde Baru, lebih keras. Cak Imin, yang sejak muda sudah dididik oleh Gus Dur, sepertinya betul-betul mewarisi nilai-nilai yang diajarkan gurunya.
"Tidak semua politisi Indonesia selincah Cak Imin. Itu idealis dari Gus Dur. Yang lain mengandalkan uang dan kekuasaan. Mereka tidak, tapi moral dan ideologi," jelas Mun’im.
Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy juga seirama. Ia menyebut Cak Imin sebagai politisi hebat. "Politisi paling hebat saat ini Cak Imin, karena tidak pernah tanpa jabatan," ujarnya saat menjadi bintang tamu dalam Primetime News Metro TV, Juli 2023.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif juga mengakui manuver politik Cak Imin, khususnya saat ia meyakinkan Presiden Joko Widodo berdampingan dengan Kiai Ma’ruf Amin. "You are the real politician," ujar Buya Syafii dalam artikel Kompas tahun 2018 berjudul: "Buya Syafii Sebut Cak Imin Politisi Sejati".
Ketua DPW PKB Nusa Tenggara Barat, Lalu Hadrian memuji kepemimpinan Cak Imin yang telah membawa PKB menjadi partai Islam terbesar saat ini. Menurutnya, kader-kader PKB di semua tingkat DPRD kota atau kabupaten, provinsi, maupun DPR RI banyak melahirkan gagasan lewat peraturan daerah.
Khusus di DPR, kader PKB juga banyak mengusulkan RUU. "Grafik prestasinya luar biasa sejak PKB dinakhodai oleh beliau," ujar Lalu yang kemudian secara khusus menyoroti inisiatif Cak Imin dalam transformasi pesantren. Menurut dia hal itu penting agar pesantren yang kerap dianggap tradisional bisa setara dengan lembaga pendidikan modern.
"Sekarang PKB menginisiasi transformasi pesantren agar mampu melahirkan generasi bangsa yang mampu bersaing, baik nasional maupun global," katanya.
Namun di sisi lain ada juga yang menganggap Cak Imin sebagai politisi pragmatis. Misalnya Mahasiswa UI Maulana Riziq. Dia enggak heran jika PKB selalu berhasil masuk lingkaran kekuasaan. Riziq kemudian membandingkan dengan kepemimpinan Gus Dur yang disebutnya tanpa ambisi kekuasaan. "Cak Imin lebih pragmatis, yang penting PKB kuat dan menang. Gus Dur lebih santai," kata Riziq.
Warga Bogor, Anty justru menyebut gaya kepemimpinan Cak Imin yang personalistik bisa menghambat kaderisasi di tubuh PKB. Ketergantungan pada figur tunggal berpotensi menimbulkan dinamika internal yang tidak sehat. "Ini menunjukkan Imin punya power besar, bisa berdampak buruk meski gaya politiknya bagus," ujar Anty.
Menurut dia, peluang PKB ada pada penguatan kelembagaan partai, pelibatan kader secara luas dan transparansi internal yang jika dilakukan bisa menjadi aset jangka panjang dan memperkuat kapasitas PKB sebagai partai modern.
Sementara itu, aktivis Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Izam menilai PKB partai hijau yang lekat dengan NU telah menjauh dari nilai-nilai era Gus Dur. "Partai ini tidak sejalan lagi dengan yang saya tafsirkan sebagai Islam dan NU," ujar Izam.
Ketika Gus Dur memimpin PKB, ia dikenal progresif dan berani menyatakan hal yang salah, meski secara frontal. Bagi Gus Dur, politik bukan sesuatu yang kompleks. Sebaliknya, Cak Imin ini pragmatis. Contohnya, saat ia mencalonkan diri sebagai wakil presiden untuk melawan kekuasaan pada akhirnya memilih dekat dengan kekuasaan. Hal ini sangat berbeda dengan sosok Gus Dur.
"Cak Imin sukses mempertahankan PKB, terutama dalam pembagian kursi. Maju bersama Anies Baswedan adalah strategi bagus untuk menghadapi gurita besar macam PDIP dan Gerindra," katanya.
Akan tetapi tidak bisa dimungkiri, faktanya memang Cak Imin sukses membawa PKB melesat menjadi partai ketiga terbesar di DPR. Izam menilai Cak Imin memang cerdik dalam akrobat politik. Berbeda dengan Gus Dur yang blak-blakan dan progresif. Namun, Cak Imin tidak memiliki sikap politik yang jelas.
"Gus Dur sikap politiknya jelas. Sementara Cak Imin jago kompromi saja. Keduanya tidak bisa disamakan," tandasnya.
Dalam konteks politik, opini Dahlan Iskan agaknya lebih pas menyebut Gus Dur dan Cak Imin sama-sama sebagai pendekar politik di eranya masing-masing. Kalau kemudian Gus Dur pada akhirnya disebut sebagai begawan politik, maka Cak Imin sebagai penerusnya sudah pas disebut sebagai pendekar politik PKB sekarang ini.
Editor: Muhammad Taufiq
