Arina.id - Setelah menyerang Venezuela dan menangkap Presidennya Nicolas Maduro, Presiden AS Donald Trump berperan di depan Kolombia. Ia menuduh Presiden Kolombia Gustavo Petro memproduksi kokain dan tidak menunda kemungkinan serangan terhadap negara tersebut.
“Kolombia juga sangat sakit, dipimpin oleh seorang pria sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan dia tidak akan bisa melakukannya lama-lama,” kata Presiden Donald Trump kepada wartawan, seperti dikutip dari Sputnik.
Seorang reporter kemudian bertanya, “jadi, akankah ada operasi militer AS di Kolombia?”
Trump menjawab pendek, “kedengarannya bagus bagi saya, ya. Anda tahu kenapa? Mereka membunuh banyak orang,” sambil mengisyaratkan kalau militer AS telah membunuh banyak warga Kuba yang melindungi Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Sebelumnya, Venezuela dan Kolombia merupakan negara sosialis, sekutu dekat yang sama-sama kerap bersikap keras kepada Amerika Serikat. Kolombia terang-terangan mendukung kepemimpinan Nicolas Maduro dan mengkritik sikap AS ketika mengancam akan menyamakan Maduro.
Gustavo Petro pada Sabtu, 3 Januari 2026, bahkan memerintahkan pengerahan pasukan ke perbatasan Venezuela, menyusul serangan militer AS ke Caracas. Pengerahan itu diumumkan setelah Donald Trump mengeklaim pasukannya telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.
Dalam serangan singkat tersebut, pasukan AS diklaim telah membunuh banyak prajurit Kolombia, dan pada akhirnya berhasil menculik dan menangkap Maduro, kemudian dibawa ke persahabatan di Brooklyn. Maduro sendiri menyatakan telah menyebarkan narkoba ke Amerika Serikat.
Meskipun pihak Venezuela membantah dan balik menuduh AS sebenarnya ingin menguasai minyak negara mereka. Hal itu yang memicu ketegangan kawasan dalam beberapa hari sampai akhirnya serangan cepat benar-benar dilakukan oleh militer Amerika.
Editor: Muhammad Taufiq
