Arina.id ~ Dalam Konferensi Moderasi Beragama Asia Afrika dan Amerika Latin (KMBAAA) yang digelar di Hotel Savoy Bandung, Kamis (21/12/2023), dua orang peneliti menyoroti harmoni dakwah Mustasyar PBNU KH Mustofa Bisri atau Gus Mus dan Habib Husen Jafar dalam ruang digital.
Peneliti Badan Inovasi dan Riset Nasional, Arnis Rachmadani, mengangkat tema KH Mustafa Bisri Religious Moderation in The Digital Space. Dalam papernya Arnis memaparkan bahwa Gus Mus, seperti halnya Gus Dur, membawa pendekatan inovatif yang merangkul semua kalangan masyarakat, tanpa memandang perbedaan agama.
"Gus Mus selalu mengedepankan kemanusiaan dan moderasi beragama, mengajak tanpa ada perbedaan antar personal. Dakwah Gus Mus, baik melalui YouTube, Twitter, Instagram, maupun radio, menunjukkan konsep-konsep moderasi beragama dari kitab kuning," ungkap Arnis.
Gus Mus, yang menjadi rujukan di jaringan Nahdlatul Ulama, tak hanya dicintai karena dakwahnya, tapi juga konteks tasawuf dan ilmu menata hati yang disampaikannya. Transformasi Gus Mus dari media analog ke digital, khususnya untuk generasi milenial, membuat pesannya lebih relevan dan menyejukkan.
Melalui rubrik tasawufnya, Gus Mus menyentuh hati para pencari kesejukan dan memberikan edukasi kesehatan, terutama selama pandemi Covid-19. Dakwahnya yang tidak hanya untuk satu generasi menunjukkan bahwa Gus Mus mampu merangkul berbagai kalangan masyarakat dalam semangat moderasi beragama.
Sementara itu, mahasiswa Nur Romdlon Maslahul Adi dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya menyoroti pesan moderasi beragama ala Habib Jafar dalam era digital. Habib Jafar menggunakan akun Instagramnya untuk menyampaikan pesan-pesan moderasi agama, menanggapi isu-isu kontemporer, dan menekankan pentingnya toleransi, pemahaman, dan moderasi dalam agama Islam.
Dikatakan, di era digital di mana platform media sosial menjadi ruang berpengaruh Habib Husen Jafar Al Hadar telah menggunakan akun Instagramnya untuk menyampaikan pesan-pesan moderasi agama kepada khalayak yang luas.
Melalui serangkaian posting yang merangsang pemikiran, Habib Jafar menanggapi isu-isu kontemporer dan menekankan pentingnya toleransi, pemahaman, dan moderasi dalam agama Islam. Pendekatannya melibatkan kutipan ayat-ayat relevan dari Al-Quran dan berbagi anekdot sejarah yang menyoroti aspek-aspek damai dan inklusif Islam.
Habib Jafar juga berinteraksi dengan pengikutnya melalui sesi langsung, memungkinkan interaksi langsung dan pertukaran ide. Selama sesi ini, ia menjawab pertanyaan, membantah miskonsepsi, dan mendorong audiensnya untuk merangkul perspektif seimbang dan toleran dalam menafsirkan ajaran agama.
Habib Jafar tidak hanya berinteraksi dengan pengikutnya melalui sesi langsung, tetapi juga berkolaborasi dengan cendekiawan dan pemimpin agama lainnya di Instagram. Dengan pendekatan multimedia, termasuk infografis dan video, ia berhasil menyederhanakan konsep-konsep agama kompleks, menjadikannya dapat diakses oleh berbagai audiens.
"Pendekatan multimedia ini meningkatkan efektivitas pesannya, mencapai tidak hanya para cendekiawan tetapi juga individu yang mencari pemahaman yang lebih dalam tentang Islam dalam dunia modern," paparnya.
Konferensi ini menjadi wadah bagi para pakar dan peneliti untuk mendalami harmoni dakwah Gus Mus dan Habib Jafar di era digital, menjelajahi konsep moderasi beragama yang menjembatani perbedaan dan mengajak seluruh umat untuk merangkul keberagaman dengan penuh kemanusiaan.
Sebelumnya, Kepala Balitbang Diklat Kementerian Agama Suyitno mengatakan call for paper digelar untuk mengakomodir masyarakat, cendekiawan, praktisi, dan akademisi menyampaikan pemikirannya tentang kemanusiaan dan agama.
Pertemuan akademisi yang menghadirkan para ahli dan perwakilan dari berbagai negara, diharapkan dapat memberikan solusi nyata terhadap isu tersebut.
"Melalui tema yang kita usung, yaitu Religion and Humanity kita ingin menggali sumber-sumber nilai agama sebagai instrumen untuk memberikan solusi terhadap isu-isu kemanusiaan," pungkasnya.
Editor: Muhammad Faizin
