Jakarta, Arina.id - Harga minyak mentah dunia melonjak 11 persen dalam sepekan terakhir hingga 19 Juni 2025. Bisa ditebak, penyebabnya sudah tentu gejolak di Timur Tengah, terutama perang Israel vs Iran. Perang dikhawatirkan memicu masalah gangguan pasokan dan perdagangan di kawasan Middle East tersebut.
Dikutip dari Anadolu, harga spot minyak mentah Brent sebagai patokan global naik dari level penutupan USD 69,65 per barel pada 12 Juni 2025, sehari sebelum Israel menyerang Iran menjadi USD 77,32 per barel hingga Jumat, 19 Juni 2025, harganya konsisten sebesar itu.
Hari ini, Senin 23 Juni, harganya dibuka pada pagi hari USD 77,44 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) juga naik 11 persen selama periode yang sama. Meskipun begitu, kenaikan harga minyak Brent saat ini masih tetap di bawah rata-rata tahun 2024 sebesar USD 80 per barel.
Akan tetapi dalam sepekan ke depan tidak ada jaminan harganya bakal sama, mengingat gejolak di Timur Tengah masih terjadi, terutama pasca-keterlibatan Amerika Serikat (AS) yang mulai masuk perang dengan mengebom Iran kemarin, Minggu 22 Juni 2025.
Akibat serangan itu, Iran memutuskan bakal menutup Selat Hormuz yang dipastikan bakal berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Menurut Kirill Dmitriev, CEO Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), sekaligus Perwakilan Khusus Presiden untuk Investasi dan Kooperasi Ekonomi untuk Negara Asing, penutupan Hormuz akan memicu "Global Oil Shock".
"Minyak adalah harga global. Jika Selat Hormuz ditutup, AS tidak akan diselamatkan. Tidak ada yang kebal dari guncangan minyak global - harga untuk pemompaan minyak akan meroket," demikian tulisnya di jejaring media sosial X.
Saat ini saja, kata dia melanjutkan, harga kontrak cadangan minyak Brent untuk pengiriman Agustus 2025 telah naik di atas USD 81 per barel di Institution of Civil Engineers (ICE) London untuk pertama kalinya sejak 20 Januari, demikian menurut data perdagangan hari ini.
Sementara itu di Indonesia, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu guncangan besar pada pasar energi global.
"Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, punya potensi memicu guncangan besar pada pasar energi global," ujarnya dikutip dari ANTARA.
Menurut dia, ancaman terbesar dari konflik ini terhadap ekonomi Indonesia berasal dari potensi lonjakan harga minyak dunia. Indonesia disebut bukan lagi eksportir minyak bersih, sehingga setiap kenaikan harga minyak mentah secara langsung berdampak pada biaya impor dan tekanan terhadap neraca perdagangan.
Dampak lanjutan yang paling cepat terasa adalah pada nilai tukar (kurs) rupiah. Dalam perdagangan hari ini, rupiah terpantau melemah. Data exchange rate transaction Bank Indonesia (BI), pada Jumat, 21 Juni 2025 lalu kurs rupiah ditutup di harga Rp 16.459 per dolar Amerika (USD). Hari ini melemah menjadi Rp 16.480 per dolar Amerika.
Yusuf menjelaskan, ketika harga minyak naik dan ketidakpastian global meningkat, investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk dialihkan ke berbagai aset safe haven seperti dolar Amerika Serikat (AS) atau emas. Hal ini berakibat pada pelemahan kurs rupiah.
"Kita sudah melihat pola ini berulang kali dalam krisis global sebelumnya, ketegangan geopolitik langsung memicu volatilitas pasar mata uang," kata Yusuf.
Pelemahan rupiah kemudian dianggap akan membawa implikasi fiskal yang cukup serius, terutama terhadap beban subsidi pemerintah. Saat harga minyak dunia naik dan rupiah melemah, kata dia, maka harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) otomatis melonjak.
Padahal, apabila pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi tetap seperti pertalite dan solar, selisih antara harga pasar dan harga jual harus ditanggung oleh anggaran pendapatan belanja negara (APBN) dalam bentuk tambahan subsidi energi.
"Artinya, ruang fiskal menjadi semakin sempit, dan ini bisa mengganggu prioritas anggaran lain seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan," ucapnya.
Situasi ini juga dinilai membawa nuansa deja vu terhadap dampak ekonomi yang terjadi di awal perang Rusia-Ukraina. Kala itu, eskalasi konflik menyebabkan lonjakan tajam harga komoditas, ketidakpastian pasar keuangan, hingga tekanan berat terhadap subsidi energi nasional.
"Meskipun magnitudo konflik Iran-Israel saat ini belum sebesar invasi Rusia ke Ukraina, bukan berarti dampaknya bisa diremehkan. Justru karena sifat konflik ini berpotensi meluas di kawasan yang menjadi poros energi dunia, antisipasi harus tetap dilakukan secara serius," kata Yusuf menegaskan.
Editor: Muhammad Taufiq
