Milad ke- 112, Long Life Muhammadiyah dan Teruslah Mendayung antara Dua Karang

Milad ke- 112, Long Life Muhammadiyah dan Teruslah Mendayung antara Dua Karang

Arina.id -- Kalaupun masih ada yang bertanya, ormas Islam apa yang terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia? Orang pasti secara mudah menjawab: Nahdlatul Ulama (NU) lalu Muhammadiyah, kemudian ada Persatuan Islam (Persis), berikutnya Persatuan Umat Islam (PUI) dan seterusnya. 

Jawaban itu wajar-wajar saja, mengingat hikayat eksistensi pergerakan mereka membentang melintasi masa demi masa perjalanan bangsa ini. Mereka sudah lahir sejak zaman penjajahan dulu, terus bertahan di tengah depresi ekonomi era malaise lama  -- resesi global 1929 -- kemudian memantapkan posisinya dari era ke era, sejak republik masih bayi sampai terus tumbuh dewasa kini.

Begitu pula perjalanan Muhammadiyah yang milad ke-112 di bulan ini. Muhammadiyah telah mencatatkan perjalanan panjang sebagai gerakan Islam modern yang beriorentasi pada kemajuan. Didirkan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912, Muhammadiyah kini berusia seabad lebih dengan kontribusi besar dalam dunia pendidikan, kesehatan, dakwah dan pembangunan sosial di Tanah Air. 

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, menegaskan bahwa Muhammadiyah berkomitmen menghadirkan kemakmuran yang merata, dengan menanamkan nilai-nilai Islam yang mendorong kemajuan masyarakat. 

Pernyataan ini sejalan dengan hasil survei Litbang Kompas yang menunjukkan bahwa 79,5 persen responden mengapresiasi peran Muhammadiyah dalam memajukan dunia pendidikan. Tidak berlebihan, nyatanya Muhammadiyah mengelola lebih dari 5.000 sekolah dan 178 perguruan tinggi di Indonesia terdiri dari 83 universitas, 53 sekolah tinggi, dan 36 institusi pendidikan tinggi berbentuk lainnya.

Meksipun begitu Muhammadiyah dihadapkan pada tantangan akses pendidikan dan kesehatan yang belum sepenuhnya merata. Pengurus Lembaga Hikmah Kebijakan Publik PP Muhammadiyah Sanaul Laili, mengungkapkan pendidikan tinggi masih sulit diakses oleh masyarakat kurang mampu, walaupun telah menjadi fokus utama Muhammadiyah sejak awal pendirian. 

"Masih banyak pekerjaan rumah misalnya yang mendapatkan akses terbesar terhadap pelayanan pendidikan tinggi yaitu orang-orang yang punya privilage resource material yang tidak main-main karena untuk masuk perguruan tinggi, butuh biaya tinggi," ujarnya. 

Pendidikan tinggi sebagaimana tujuan awal didirikan, harusnya mudah diakses oleh orang-orang yang tidak punya kemampuan finansial yang cukup. Menurutnya, ini menjadi refleksi dan evaluasi bagi pengurus Muhammadiyah mengulang teologi Al Maun- ajaran yang dikembangkan oleh Ahmad Dahlan- yang dipraktikkan dalam persyarikatan. 

"Tidak banyak warga Indonesia yang masuk perguruan tinggi karena persoalan finansial," 

Muhammadiyah juga memainkan peran penting dalam membangun diskursus Islam yang relevan dengan kebutuhan zaman sebagaimana ditegaskan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdalla dalam wawancara bersama Arina.id, pada Selasa (19/11/2024) malam.

Gus Ulil, sapaan akrabnya mengatakan perkembangan pemikiran di kalangan Muhammadiyah selama ini cukup dinamis, maju dan berkembang dengan baik. Hal itu terlihat dari banyaknya pemikir-pemikir besar Muhammadiyah yang turut berkontribusi dalam memperkaya diskursus Islam dan kebangsaan di Indonesia.

Misalnya penulis, sarjana, tokoh yang tergabung dalam Maarif Institute, Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah atau JIMM menjadi contoh kontribusi nyata Muhammadiyah dalam menjawab tantangan intelektual modern. Generasi setelah Buya Syafi'i Maarif termasuk Prof Amien Abdullah masih konsisten memberikan sumbangsih pemikiran progresif. Prof Amien cukup berkontribusi di dalam memperkaya diskusi tentang Islam di Indonesia bersama NU.

"Dunia pemikiran di lingkungan Muhammadiyah masih tetap menarik dan ini menjadi salah satu kekayaan dari intelektualisme Islam di Indonesia, kekayaan yang sangat berharga sekali," imbuh pendiri Ghozalian Collage itu.

Muhammadiyah tetap menjadi salah satu penggerak utama diskusi intelektual yang relevan meskipun secara umum kualitas diskursus Islam di Indonesia tidak sebaik di era 1990-an atau tahun 2000-an awal.

"Ada polemik yang betul-betul menarik dan melibatkan para intelektual dan para pemikir yang cukup intens. Kita tidak menyaksikan hal seperti itu lagi, tetapi tetap masih ada gagasan-gagasan yang terus muncul dari kalangan Muhammadiyah," ujarnya.

Gus Ulil menggarisbawahi bahwa Islam di Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia namun masih kurang mendapatkan perhatian di panggung global hal ini tak sebanding dengan demografis di Indonesia. Menurutnya, ini menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi Indonesia meningkatkan kehadiran Islam di Indonesia dalam panggung global melalui para pemikirnya, intelektualnya, para sarjana, para aktivis-aktivisnya. 

"Saya kira Muhammadiyah punya tanggung jawab sebagai salah satu ormas Islam penting di Indonesia bersama Nahdlatul Ulama dan ormas lain untuk bisa mengisi kehadiran Islam Indonesia yang begitu kurang intens, kurang terlihat atau less visible dalam panggung global dan kurang mendapat perhitungan sesuai jumlah demografisnya," terang dia. 

Padahal pengalaman-pengalaman di Indonesia sangat kaya untuk bisa disumbangkan, dibagikan dengan dunia luar. Indonesia punya banyak pengalaman dalam bidang mengelola hubungan agama dengaan negara, kelompok mayoritas-minoritas, Islam demokrasi, agama dengan pertumbuhan ekonomi, mengelola keragaman, dan kebhinekaan.

"Kita punya kekayaan dalam aspek-aspek ini yang bisa dibagikan kepada dunia global tetapi iya itu kita memamg masih kurang dalam aspek global presence (kehadiran di tingkat global)," ucapnya. 

Ia berharap Muhammadiyah terus menjadi inspirasi bagi perkembangan pemikiran Islam yang maju, pendidikan bermutu sebagaimana sudah terjadi selama ini menjadi inspirasi bagi semua organisasi yang memberikan layanan kepada masyarakat, khidmat terus menjadi inspirasi bagi civil society yang kuat, independen, dan punya integritas yang sangat baik.

"Terus menjadi inspirasi upaya membangun hubungan yang harmonis antara keislaman, keindonesiaan, kebhinekaan, kita berharap Muhammadiyah terus memberikan kontribusi dalam hal-hal tersebut," ujarnya.

Dosen sekaligus peneliti Maarif Institute Moh Shofan, mengatakan diskursus pemikiran di kalangan Muhammadiyah sama progresifnya dengan NU terutama dalam menjaga Islam Washatiyah (moderat). Pemikiran Islam progresif di internal Muhammadiyah diwakili oleh anak muda yang kritis, tergabung dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).

JIMM kelahirannya dilatarbelakangi oleh kegelisahan, keprihatinan anak-anak muda Muhammadiyah melihat isu-isu ekstremisme dan isu lain. Mereka (anak muda) mengkaji pemikiran Islam dari tokoh-tokoh di Indonesia maupun di luar misalnya melanjutkan pemikiran Buya Syafi'i Maarif, Kuntowijoyo, Prof Amien Abdullah yang dikenal sebagai sosok pemikir progresif humanis. Mereka juga mengkaji pemikiran Islam kontemporer tetapi tokoh-tokoh yang mengkaji pemikiran progresif tidak banyak jumlahnya. 

"Dinamika pemikiran Muhammadiyah itu mendayung di antara dua karang yakni progresif dan tekstual. Di kelompok tua Muhamadiyah juga demikian misalnya Prof Amien Abdullah yang sangat progresif, pemikir muslim kontemporer yang sangat diperhitungkan oleh banyak orang. Ide-idenya mengenai integrasi, hiperkoneksi, hermeneutika banyak dikaji orang termasuk buya Syafi'i sementara itu di sisi lain ada tokoh Muhammadiyah normatif seperti Anwar Abbas," katanya..

Penelitian yang dilakukan Abdul Munir Mulkhan di Jember, Jawa Timur, mencatat tiga varian Muhammadiyah. Muhammadiyah Munu (Muhammadiyah-NU), Marmud (Marhaen-Muhammadiyah), Mukhlas (Muhammadiyah al-Ikhlas). Keragaman ini menurutnya mencerimkan dinamika yang sehat yang mendorong lahirnya gagasan baru misalnya melalui dialog.

"Saya pikir ini wajar, kalau enggak begitu iya enggak dinamis," jelasnya. 

Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu, etos keilmuaannya relatif terjaga melalui forum diskusi, seminar baik di internal maupun di perguruan tinggi. Dua kelompok progresif dan teologis dikampus-kampus masih ada. Tetapi sebagai gerakan, Muhammadiyah pemikiran progresif lebih menonjol di individu bukan menjadi gerakan bersama. 

"Dinamika pemikiran di Muhammadiyah tidak akan bisa berjalan dengan baik kalau hanya satu arus. Jadi harus ada perjumpaan pemikiran Islam yang kultural, yang ideologis kalau tidak ada perjumpaan ya tidak ada dinamika.  Dari situ lahir pemikiran baru dari berbagai perjumpaan yang tadi. Apalagi ilmu pengetahuan ini makin berkembang," ujarnya.


Editor: Muhammad Taufiq
logo