Arina.id - Menangis, merasa marah, atau bahkan menyimpan dendam saat putus cinta adalah hal yang wajar. Bagaimanapun, kehilangan seseorang yang pernah berarti dalam hidup meninggalkan luka yang membekas dan perlu waktu untuk menyembuhkannya. Orang yang mengalami hal ini mungkin merasa dunia tidak adil, hati terasa hancur, dan hari-hari menjadi kosong tanpa arah.
Namun, sesakit apa pun yang dirasakan, tangisan atau kemarahan tidak akan mengubah keadaan. Menangis tidak akan memperbaiki yang telah rusak, dan dendam hanya akan menambah masalah. Islam menganjurkan untuk membaca sebuah doa untuk menghadapi duka seperti putus cinta. Doa bukan hanya cara untuk mengadukan rasa sakit kepada Allah, tetapi juga menjadi bukti tawakal kita dan Allah mencintai orang orang yang bertawakal:
إِنَّ اللَّهَ يَحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (Q.S Ali Imran ayat 159)
Seseorang yang memutuskan hubungan dengan kita adalah makhluk Allah, ciptaan-Nya. Maka, ketika hati terluka oleh perbuatan manusia, bukankah sebaiknya kita mengadukannya langsung kepada Sang Pemiliknya? Dengan menyerahkan segala rasa kecewa kepada Allah, kita tidak hanya memohon keadilan, tetapi juga ketenangan hati dan kekuatan untuk melanjutkan hidup.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat Abdullah Bin Mas’ud berpesan kepada para umatnya yang sedang dilanda duka termasuk putus cinta, untuk membaca sebuah doa:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ هَمٌّ ، أَوْ حَزَنٌ فَلْيَقُلِ
Artinya: "Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian merasa gelisah atau bersedih hati, hendaknya dia berdoa
اللَّهُمَّ ، إِنِّي عَبْدُكَ ، وَابْنُ عَبْدِكَ ، وَابْنُ أَمَتِكَ ، وَفِي قَبْضَتِكَ ، نَاصِيَتِي فِي يَدَيْكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ: أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي ، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي ، وَذَهَابَ هَمِّي
Allahumma inni ‘abduka, wabnu ‘abdika, wabnu amatika, wa fī qabdhatika, nāṣiyatī fī yadayka, māḍin fiyya ḥukmuka, ‘adlun fiyya qaḍā’uka. As’aluka bikulli ismin sammayta bihi nafsaka, aw anzaltahu fī kitābika, aw ‘allamtahu aḥadan min khalqika, aw istā’tharta bihi fī ‘ilmi al-ghaybi ‘indaka: an taj‘ala al-Qur’āna rabī‘a qalbī, wa nūra ṣadrī, wa jilā’a ḥuznī, wa dhahāba hammī.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu (ayahku) dan anak dari hamba perempuan-Mu (ibuku). Aku ada dalam genggaman-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Ketetapan-Mu berlaku padaku, keputusan-Mu adalah keadilan bagiku. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki, baik yang Engkau namakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghapus kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.” (At Tadwin fi Akhbar Qazwiin, Beirut; Dar Kutub Al ilmiyyah,1987 juz 2 halaman 338)
Rasulullah juga memberi jaminan bila seorang Muslim membaca doa ini, Allah akan menghilangkan kesedihannya dan menggantinya dengan kebahagiaan.
قَالَ: فَمَا قَالَهُنَّ عَبْدٌ قَطُّ إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا
Artinya: “Tidaklah seorang hamba mengucapkan doa ini kecuali Allah akan menghilangkan kesedihannya dan menggantikan kesedihannya dengan kebahagiaan.” (At Tadwin fi Akhbar Qazwiin, Beirut; Dar Kutub Al ilmiyyah,1987 juz 2 halaman 338)
Doa ini hanyalah salah satu cara untuk menyembuhkan luka akibat putus cinta. Jika doa ini belum mampu sepenuhnya meredakan perasaan sedih, setidaknya kita telah menyerahkan segala urusan kepada Allah. Bukankah Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya?
Mungkin saja, kekasih yang selama ini diperjuangkan bukanlah yang terbaik menurut-Nya. Bisa jadi, Allah sedang mempersiapkan seseorang yang lebih tepat, seseorang yang akan benar-benar menjadi pelengkap hidup. Sebab, Dia-lah yang paling tahu apa yang dibutuhkan manusia, meskipun terkadang hal itu berbeda dengan apa yang diinginkan.
Ada maqalah bijak menyebut:
كُلٌّ مَيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
Artinya: “Setiap sesuatu yang memang milikmu akan dimudahkan.”
Pesan untuk yang sedang putus cinta: Bila ia memang milikmu, tentu tidak akan Allah halangi bahkan akan Allah mudahkan. Tetaplah positive thinking, berdoa, bersabar, dan yakin bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Apa yang mungkin tampak sebagai kehilangan hari ini, bisa jadi adalah persiapan untuk kebahagiaan yang lebih besar di masa depan. Wallahu a’lam bis shawab
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin
