Arina.id - Setiap manusia pada dasarnya mendambakan kasih sayang dan penghormatan dari sesamanya. Menjadi pribadi yang dicintai dan dihargai bukan hanya membawa kebahagiaan batin, tetapi juga membuka jalan bagi hubungan sosial yang harmonis dan kehidupan yang lebih bermakna.
Dalam Islam, selain berusaha memperbaiki akhlak dan memperluas manfaat kepada orang lain, ada amalan lain yang dapat dilakukan, yakni berdoa. Doa menjadi wujud ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta, sekaligus sarana untuk memohon kebaikan dalam hubungan antarmanusia.
Terdapat doa yang maknanya menunjukkan agar dijadikan orang yang terhormat di mata masyarakat. Doa itu tertulis dalam hadits riwayat Abdullah bin Buraidah yang dicatatat oleh Ahmad bin Amr al-Bazzar dalam Musnad-nya, Al-Bahru al-Zakhar [Madinah Munawarah: Maktabah al-Ulum wal Hikam, 2009, vol. 10, hal. 315] berikut:
عَنْ عَبد اللَّهِ بْنِ بُرَيدة، عَن أَبيهِ، رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي شَكُورًا وَاجْعَلْنِي صَبُورًا وَاجْعَلْنِي فِي عَيْنَيَّ صَغِيرًا وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ كَبِيرًا.
Artinya: "Dari Abdullah bin Buraidah, dari bapaknya, Sesungguhnya Rasulullah mengatakan “Ya Allah. Jadikanlah aku orang yang bersyukur, jadikanlah aku orang yang sabar, jadikanlah aku kerdil di mataku sendiri, dan berwibawa di mata masyarakat”.
Doa tersebut merupakan representasi dari sikap rendah hati (tawadhu’), sebab sikap rendah hati seseorang tidak menjadikannya membanggakan dirinya sendiri (ujub) terutama sombong (takabur), justru menjadikannya terhormat di mata orang lain.
Doa tersebut sangat berhubungan erat dengan hadits Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syu’bul Iman [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2000, vol. 6, hal. 276] no. 8140 berikut:
عن ابراهيم بن عابس بن ربيعة قال: قال عمر وهو على المنبر أيها الناس تواضعوا فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «من تواضع لله رفعه الله فهو في نفسه صغير وفي أعين الناس عظيم ومن تكبر وضعه الله فهو في أعين الناس صغير وفي نفسه كبير حتى لهو أهون عليهم من كلب أو خنزير.
Artinya: "Dari Ibrahim bin Abis bin Rabi’ah berkata, Umar bin Khattab berkata ketika di atas minbar, Wahai masyarakat, rendah hatilah, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda “Barang siapa yang tawadhu’, dia akan diangkat derajatnya oleh Allah, dia memandang rendah dirinya sendiri, sedangkan dia berwibawa di mata masyarakat. Barang siapa sombong, dia akan dihinakan oleh Allah, dia hina di mata masyarakat, sedangkan dia merasa dirinya besar, hingga mereka menganggapnya lebih rendah dari anjing dan babi”.
Selain doa agar terhormat di mata orang lain, terdapat juga doa yang maknanya agar dicintai oleh mereka. Doa tersebut merupakan doa dari Nabi Dawud, doa itu tercatat dalam riwayat Muhammad bin Abdullah al-Hakim dalam Al-Mustadrak ala al-Sahihain [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1990, vol. 2, hal. 470] no. 3621 berikut:
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " قَالَ دَاوُدُ عليه السلام: رَبِّ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ، رَبِّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهلي، وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
Artinya: "Dari Abu Darda’, dari Nabi bersabda “Nabi Dawud berkata: Wahai Tuhanku, aku meminta cinta-Mu, dan cinta orang yang mencintai-Mu, dan amal perbuatan yang mengantarkanku kepada cinta-Mu. Wahai Tuhanku, jadikanlah cinta-Mu lebih ku cintai dari pada diriku sendiri, dan keluargaku, serta air yang sejuk menyegarkan”.
Kedua doa tersebut bisa untuk dibaca secara berkala, terutama disertakan dalam setiap doa yang dipanjatkan, baik setelah shalat 5 waktu, atau di sepertiga malam. Pada intinya, doa tersebut tidak meminta kehormatan dan kecintaan dari orang lain, akan tetapi meminta kepada Allah agar dijadikan sebagai orang yang terhormat dan dicintai oleh-Nya, dengan memperoleh cinta-Nya, otomatis cinta makhluk-Nya juga akan ikut serta. Wallahu a’lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin
