Salah satu malam yang selalu menjadi perhatian umat Islam adalah malam Nisfu Sya‘ban. Pasalnya, sejumlah ulama telah menjelaskan berbagai keutamaan yang ada di malam pertengahan bulan Sya‘ban tersebut. Umat Islam juga disarankan untuk melewati malam Nisfu Sya‘ban dengan melakukan amalan tertentu, di antaranya adalah dengan berdoa.
Berkaitan dengan berdoa di malam Nisfu Sya‘ban, Rasulullah pernah mencontohkannya. Hal ini sebagaimana diungkap oleh Imam Baihaqi dalam kitab Fadla’ilul Auqat (Makkah Al-Mukarramah, Maktabah al-Manarah: 1990), halaman 126-128.
Di dalam kitab tersebut dijelaskan, Urwah bin Zubair meriwayatkan bahwa di malam Nisfu Sya’ban, istri Rasulullah, Aisyah terbangun dan mendapati Rasulullah sedang bersujud dan memanjatkan doa sebagaimana berikut:
سَجَدَ لَكَ سَوَادِي وَخَيَالِي وَاَمَنَ لَكَ فُؤَادِي، وَأَبُوْءُ لَكَ بِالنِّعَمِ، وَاعْتَرِفُ بِالذُّنُوْبِ الْعَظِيْمَةِ، ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الْذُنُوْبَ إلَّا أنْتَ، أعُوْذُ بعَفْوِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِرَحْمَتِكَ مِنْ نَقَمَتِكَ، وَأعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سُخْطِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أَحْصِي ثَنَاءَ عَلَيْكَ، أنْتَ كَمَا اثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Sajada laka sawâdî wa khayâlî wa âmana laka fuâdî, wa abû’u laka bin ni‘ami, wa‘tarifu bidz dzunûbil ‘adhîmati, dhalamtu nafsî faghfir lî, innahu lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta, a‘ûdzu bi‘afwika min ‘uqûbatika, wa a‘ûdzu birahmatika min naqamatika wa a'udzu biridhâka min sukhtika waa'ûdzu bika minka, lâ aḫshî tsanâ’a ‘alaika, anta kamâ atsnaita ‘alâ nafsika.
Artinya: “Bayangan dan pikiranku telah bersujud kepada-Mu, hatiku telah beriman kepada-Mu, aku mengakui atas semua nikmat yang Engkau beri, aku mengakui banyaknya dosaku, aku telah berbuat zalim pada diriku sendiri, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Dengan ampunan-Mu Aku berlindung dari siksa-Mu, dengan rahmat-Mu aku berlindung dari murka-Mu, dengan ridla-Mu aku berlindung dari amarah-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Aku tidak kuasa menghitung pujian untuk-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu.”
Dalam riwayat tersebut dijelaskan, Rasulullah kemudian meneruskan sholatnya hingga datang waktu Subuh. Di pagi hari, Aisyah mendapati kaki Rasulullah membengkak, ia pun merasa terenyuh hatinya dan berkata:
“Bukankah Allah telah menjaminmu dan memaafkan semua dosamu, wahai Rasulullah?”
“Benar wahai Aisyah, tetapi bukankah sudah sepantasnya aku menjadi hamba yang bersyukur? Apakah kamu tahu ada apa di malam ini?” jawab Rasulullah sambil melontarkan pertanyaan pada Aisyah.
“Tidak, wahai Rasulullah,”
Rasulullah kemudian bersabda:
فِيْهَا يُكْتَبُ كُلُّ مَوْلُوْدٍ مِنْ بَنِي آدَمَ فِي هَذِهِ السَّنَةِ، وَفِيْهَا أَنْ يُكْتَبَ كُلُّ هَالِكِ مِنْ بَنِي آدَمَ فِي هَذِهِ السَّنَةِ، وَفِيْهَا تُرْفَعُ أَعْمَالُهُمْ، وَفِيْهَا تُنَزَّلُ أَرْزَاقُهُمْ
Artinya: “Pada malam ini, setiap bayi yang lahir pada tahun ini dicatat, semua orang yang akan meninggal tahun ini juga dicatat dan pada malam ini pula amal mereka diangkat dan pada malam ini juga rezki mereka diturunkan.”
Demikian doa yang dibaca Rasulullah di malam Nisfu Sya'ban. Mudah-mudahan kita bisa mengamalkannya dan mampu mewarnai malam Nisfu Sya'ban dengan berbagai amal ibadah. Amin
Editor: Muhammad Faizin
