Dalam ajaran Islam, menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban. Menuntut ilmu berkaitan erat dengan hablun minallah berupa ibadah wajib atau fardu serta hablun minannas berupa interaksi sosial antar sesama.
Selain itu, mereka yang menuntut ilmu berharap dapat mempersembahkan yang terbaik untuk masyarakatnya, dan bermanfaat untuk mereka. Hal ini ditegaskan dalam sebuah ayat:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya: "Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (Attaubah: 122)
Ayat ini oleh beberapa ulama tafsir, seperti Imam Tabari, dijelaskan sebagai peringatan agar kaum Mukmin tidak semuanya berangkat berperang. Akan tetapi sebagian didorong untuk menuntut ilmu agama agar ketika telah pulang ke daerahnya dapat mengajarkannya kepada masyarakat.
Menuntut ilmu sendiri butuh proses yang panjang, mulai belajar di bangku sekolah, pesantren, kampus, menyimak majelis pengajian, terlibat dalam forum bahtsul masail, hingga membaca buku dan kitab secara mandiri. Semua kegiatan mulia ini dapat mengangkat derajat seseorang semakin tinggi, sebab dia diibaratkan permata yang indah.
Sebagaimana sabda Rasulullah:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ
Artinya: "Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, dan siapa saja yang meletakkan ilmu tidak pada tempatnya, maka ibarat kalung permata, mutiara, dan emas yang diikatkan pada seekor babi." (HR Ibnu Majah).
Dalam hadits lain disebutkan:
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبُ الْعِلْمِ فَهُو َفِى سَبِيْل ِاللهِ حَتَّى يَرْجِعَ
Artinya: "Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang." (HR Tirmidzi).
Kemuliaan menuntut ilmu itu berbanding lurus dengan mengajarkannya. Sehingga ilmu itu dapat bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Oleh sebab itu siapa pun pasti menginginkan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Maka, tidak heran jika Hujatul Islam Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayah Al-Hidayah mencantumkan doa-doa agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَقَلْبٍ لا يَخْشَعُ وَعَمَلٍ لَا يُرْفَعُ وَدُعَاءٍ لَايُسْمَعُ
Artinya: "Ya Allah aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', amal yang tidak diterima, dan doa yang tidak didengar."
Doa lainnya:
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي, وَعَلِّمْنِيْ مَايَنْفَعُنِيْ, وَ زِدْنِيْ عِلْمًا
Artinya: “Ya Allah, berilah manfaat kepadaku dengan apa-apa yang Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku.” (HR. at-Tirmidzi)
Riwayat lain menyebutkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah berdoa:
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ
Artinya: "Ya Allah, Jadikanlah ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku bermanfaat bagiku. Ajarkanlah kepadaku ilmu yang berguna untukku dan tambahkanlah ilmu padaku. Segala puji bagi Allah atas segala hal, aku berlindung kepada Allah dari keadaan dan segala hal yang dilakukan penghuni neraka". (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Dari penjelasan ini bisa dipahami bahwa orang yang mencari ilmu merupakan orang yang mulia. Terlebih dalam agama Islam, hukum menuntut ilmu adalah wajib. Khususnya ilmu yang berkaitan dengan fondasi agama.
Namun harus diingat dengan baik bahwa tujuan utama menuntut ilmu adalah agar dapat bermanfaat diamalkan untuk dirinya, keluarga, dan masyarakat. Oleh sebab itu kita dianjurkan agar berdoa kepada Allah agar diberi semangat istiqamah menuntut ilmu, mendapatkan ilmu bermanfaat, dan dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Wallahu a’lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin
