Arina.id - Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan dengan menahan lapar, dahaga, serta hawa nafsu, umat Islam menyambut datangnya 1 Syawal sebagai hari kemenangan, yakni Hari Raya Idul Fitri. Pada hari yang mulia ini, umat Islam sangat dianjurkan untuk melaksanakan sholat Id secara berjamaah sebagai bentuk syiar dan ungkapan syukur kepada Allah SWT.
Dalam penjelasannya dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, Imam An-Nawawi menerangkan bahwa para ulama telah bersepakat (ijma’), sholat Id tidak didahului dengan azan maupun iqamah. Mereka juga sepakat bahwa sholat Idul Fitri dilaksanakan sebanyak 2 rakaat.
Secara umum, tata cara sholat Id hampir serupa dengan sholat sunnah lainnya. Namun, terdapat perbedaan yang cukup menonjol, yakni adanya tambahan takbir di setiap rakaatnya.
Pertama, niat.
Niat merupakan rukun sholat yang wajib dilakukan di dalam hati. Adapun pelafalan niat dengan lisan hanya bersifat membantu agar hati semakin mantap. Berikut niatnya:
Niat Imam
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَــالَى
Ushallî sunnatan li‘idil fitri rak‘ataini imaman lillâhi ta‘ala
Artinya : “Aku berniat melaksanakan sholat sunnah Idul Fitri dua rakaat seraya menjadi imam karena Allah ta’ala.”
Niat Makmum
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَــالَى
Ushallî sunnatan li‘idil fitri rak‘ataini ma’muman lillâhi ta‘ala
Artinya : “Aku berniat melaksanakan sholat sunnah Idul Fitri dua rakaat seraya menjadi makmum karena Allah ta’ala.”
Kedua, takbiratul ihram.
Sholat dimulai dengan mengucapkan “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan, bersamaan dengan menghadirkan niat di dalam hati.
Ketiga, membaca doa iftitah.
Setelah takbiratul ihram, disunnahkan membaca doa iftitah sebagaimana dalam sholat pada umumnya.
Keempat, takbir 7 kali pada rakaat pertama.
Setelah doa iftitah, jamaah membaca takbir sebanyak 7 kali sambil mengangkat tangan pada setiap takbir. Di sela-sela takbir, dianjurkan membaca zikir:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Subḫanallâhi wal ḫamdulillâhi wallâhu akbar.
Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”
Kelima, membaca Surah Al-Fatihah.
Membaca Surat Al-Fatihah merupakan rukun sholat yang tidak boleh ditinggalkan.
Keenam, membaca surat setelah Al-Fatihah.
Masih menurut keterangan An-Nawawi, disunnahkan pada rakaat pertama membaca Surat Qaf dan pada rakaat kedua membaca Surat Al-Qamar. Alternatif lainnya adalah membaca Surat Al-A'la pada rakaat pertama dan Surat Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua.
Ketujuh, melanjutkan gerakan sholat seperti biasa.
Setelah menyelesaikan bacaan dalam posisi berdiri kemudian melanjutkan rukun selanjutnya yakni ruku’, i‘tidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, lalu sujud kedua, dan berdiri untuk rakaat yang kedua.
Kedelapan, takbir 5 kali pada rakaat kedua.
Setelah berdiri untuk rakaat kedua, sebelum membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca takbir sebanyak 5 kali dengan diselingi bacaan zikir sebagaimana pada rakaat pertama.
Kesembilan, menyempurnakan rakaat kedua.
Setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Qur'an kemudian dilanjutkan mengerjakan rukun sebagaimana sholat pada umumnya hingga salam. Dalam pandangan qaul jadid Imam Syafi’i, apabila makmum datang terlambat, ia cukup mengikuti jumlah takbir yang sedang dilakukan imam tanpa perlu menambah kekurangan agar genap 7 atau 5 kali.
Kesepuluh, mendengarkan khutbah.
Setelah sholat selesai, jamaah dianjurkan tetap duduk untuk menyimak khutbah Idul Fitri, karena khutbah tersebut berisi nasihat dan penguatan spiritual pasca Ramadhan.
Dengan memahami tata cara ini sesuai tuntunan para ulama, diharapkan setiap Muslim dapat melaksanakan sholat Idul Fitri dengan penuh kekhusyukan dan kesempurnaan, sehingga momentum hari kemenangan benar-benar menjadi sarana memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin
