Arina.id - Dalam kalender Jawa, bulan Muharram dikenal sebagai bulan Suro. Bulan ini diyakini mempunyai banyak keistimewaan dan pahala berlipat dengan berbagai ibadah seperti sedekah, tahajud, puasa sunnah, mengusap kepala anak yatim.
Kata Suro memang mirip dengan kata Asyura. Akan tetapi pemaknaannya berbeda. Suro adalah bagian dari bulan dalam kalender Jawa. Sedangkan Asyura adalah hari ke sepuluh bulan Muharram.
Secara historis, biasanya pada hari Asyura, kaum Quraisy melaksanakan puasa sunah. Dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan:
حدثنا عبد الله بن مسلمة عن مالك عن هشام بن عروة عن أبيه أن عائشة رضي الله عنها قالت كان يوم عاشوراء تصومه قريش في الجاهلية وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصومه فلما قدم المدينة صامه وأمر بصيامه فلما فرض رمضان ترك يوم عاشوراء فمن شاء صامه ومن شاء تركه
Artinya: "Abdullah bin Muslimah meriwayatkan kepada kami dari Malik dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya bahwa Aisyah RA berkata: “Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura pada masa jahiliyah, dan Rasulullah biasa berpuasa pada hari itu. Ketika beliau sampai di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu (Asyura) dan memerintahkan agar hari itu dipuasakan. Kemudian, ketika Ramadhan diwajibkan, maka hari Asyura ditinggalkan. Maka barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan saja, dan barangsiapa yang ingin meninggalkan puasa sunah Asyura, silakan ditinggalkan saja.”
Dalam riwayat lain, puasa Asyura merupakan kebiasaan umat Yahudi. Maka, disunahkan untuk berpuasa sebelum atau sesudah hari Asyura. Imam Baghawi mengutip riwayat Ibnu Abbas:
صُومُوا الْيَوْمَ التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ، وَخَالِفُوا الْيَهُودَ.
Artinya: "Berpuasalah hari ke 9 dan ke 10 Muharam, dan bedakan dengan kebiasaan kaum Yahudi."
وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ، وَيُرْوَى عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: «صُومُوا قَبْلَهُ، وَخَالِفُوا الْيَهُودَ
Artinya: "Riwayat ini dipilih oleh Imam Syafii, Imam Ahmad, Ishaq. Redaksi lain dari Ibnu Abbas berbunyi: puasalah sebelum hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi."
Oleh karena itu puasa sebelum tanggal 10 Muharram (Asyura) biasa disebut dengan puasa Tasu'a.
Doa Hari Asyura
Berkenaan dengan hari Asyura, Syaikh Nawawi Banten dalam kitab Nihayatuz Zain (1/196) mengatakan:
وَقد ذكر إِمَام الْمُحدثين ابْن حجر الْعَسْقَلَانِي فِي شرح البُخَارِيّ كَلِمَات من قَالَهَا فِي يَوْم عَاشُورَاء لم يمت قلبه وَهِي
Artinya: "Imam para pakar hadits Ibnu Hajar Asqalani menyebutkan dalam syarah Bukhari beberapa kalimat (doa) yang barang siapa membacanya di hari Asyura, maka hatinya tidak akan mati. Berikut ini doanya:"
سُبْحَانَ الله ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش وَالْحَمْد لله ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش وَالله أكبر ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش لَا ملْجأ وَلَا منجا من الله إِلَّا إِلَيْهِ سُبْحَانَ الله عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا وَالْحَمْد لله عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا وَالله أكبر عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا أَسأَلك السَّلامَة بِرَحْمَتك يَا أرْحم الرَّاحِمِينَ وَلَا حول وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاللَّه الْعلي الْعَظِيم وَصلى الله على سيدنَا مُحَمَّد وعَلى آله وَصَحبه أَجْمَعِينَ وَالْحَمْد لله رب الْعَالمين
Subhanallah mil’al mizan wa muntahal ilmi wa mablagha rridla wa zinatal arsyi walhamdu lillah mil’al mizan wa muntahal ilmi wa mablaghar ridla wa zinatal arsyi wallahu akbar mil’al mizan wa muntahal ilmi wa mablaghar ridla wa zinatal arsyi la malja’a wa la manja’a minallah illa ilaihi, subhanallahi ‘adadassyaf’i wal watri wa ‘adada kalimatillahi at-taammati kulliha walhamdu lillaj ‘adadasyyaf’i wal watri wa ‘adada kalimatillahi at-taammati kulliha wallahu akbar ‘adadassyaf’i wal watri wa ‘adada kalimatillah attaammati kulliha, as’alukas salamata birahmatika ya arhamarrahimin, wala haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim wa shallallahu ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi wa shahbihi ajma’in walhamdu lillah rabbil alamin.
Artinya: "Maha suci Allah dengan (suci) memenuhi timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya Arsy. Dan segala puji bagi Allah dengan (pujian) memenuhi timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya Arsy. Dan Maha besar Allah dengan (kebesaran) memenuhi timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya Arsy. Tidak ada perlindungan dan tidak ada keselamatan dari Allah kecuali berlindung kepadaNya. Maha suci Allah dengan (sebanyak) bilangan genap dan ganjil dan dengan (sebanyak) bilangan kalimat-kalimat Allah yang semuanya sempurna. Dan Segala puji bagi Allah dengan (sebanyak) bilangan genap dan ganjil dan dengan (sebanyak) bilangan kalimat-kalimat Allah yang semuanya sempurna. Aku memohon keselamatan kepadaMu dengan rahmatMu, wahai Dzat yang Maha Pengasih diantara para pengasih!, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah yang maha tinggi dan agung. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, segala puji hanya milik Allah penguasa alam semesta."
Meski tidak ada riwayat hadits sahih khusus doa Asyura, namun upaya Syekh Nawawi Banten merujuk dari Ibnu Hajar Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjadi salah satu doa populer saat hari Asyura. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin
