Doa dan Amalan Rezeki Lancar dari KH Maimoen Zubair

Doa dan Amalan Rezeki Lancar dari KH Maimoen Zubair

Rezeki menjadi tujuan utama manusia dalam bekerja. Kelancaran rezeki menjadi hal yang sering didambakan manusia agar diberi kemudahan dalam menjalankan kehidupan di dunia. Pasalnya, salah satu faktor ketenangan hidup manusia yang menunjangnya untuk bisa lebih nyaman beribadah dan melakukan kebaikan sosial adalah terpenuhnya rezeki yang cukup bahkan lebih dikehidupannya.

Terdapat beberapa doa dan ritual untuk melancarkan rezeki yang penulis dapatkan dari KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) sewaktu penulis masih nyantri di Pesantren Al-Anwar Sarang, diantaranya adalah sebagai berikut:

Membaca Surat al-Ikhlas Sebelum Masuk Rumah

Mbah Moen menganjurkan untuk membaca surat al-Ikhlas sebelum masuk rumah agar terhindar dari kefakiran. Anjuran Mbah Moen ini berdasarkan Hadits Nabi Muhammad berikut ini:

عَنْ سَهْل بن سَعْد وَهُوَ آخِرُ مَنْ مَاتَ مِنْ الصَّحَابَةِ بِالْمَدِيْنَةِ قَالَ شَكَا رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قِلَّةَ الرِّزْقِ فَقَالَ إِذَا دَخَلَتَ البَيْتَ فَسَلِّمْ عَلَى أَهْلِكَ وَاقْرَأْ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ مَرَّةً فَقَرَأَهَا فَأَدَرَّ اللهُ الرِّزْقَ عَلَيْهِ حَتَّى فَاضَ عَلَيْهِ وَعَلَى جِيْرَانِهِ .

Artinya: "Dari Sahl bin Sa’d dia adalah sahabat terahir yang wafat di Madinah dia mengatakan “seorang pria curhat kepada Nabi Muhammad terkait kesulitan rezeki, kemudian Nabi menjawab “ketika kamu masuk rumah, ucapkanlah salam kepada keluargamu dan bacalah surat al-Ikhlas satu kali”, kemudian dia mempraktikkannya, maka Allah melancarkan rezekinya hingga tumpah ruah sampai kepada tetangganya." (Abdurrahman al-Shafuri, Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafais, [Kairo: Maktabah al-Tsaqafi, 2004], hal. 54.).

Membaca Do’a Pelancar Rezeki setelah Sholat Jum’at

Kebiasaan masyarakat Muslim Indonesia, khususnya Nahdliyyin, adalah membaca wirid khusus setelah selesai melaksanakan sholat Jumat, baik dipimpin langsung oleh imam sholat atau membaca sendiri. Wirid itu adalah sebagaimana dicatat oleh Sayyid Bakri berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ قَرَأَ بَعْدَ صَلَاة ِالجُمُعَةِ قل هو الله أحد و قل أعوذ برب الفلق و قل أعوذ برب الناس سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعَاذَهُ اللهُ بِهَا مِنْ السُّوْءِ إِلَى الجُمُعَةِ الاُخْرَى.

وَقَالَ ابنُ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه: مَنْ قَالَ بَعْدَ قِرَاءَةِ مَا تَقَدَّمَ: اَللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ، يَا رَحِيْمُ يَا وَدُوْدُ، اَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَبِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ. أَغْنَاهُ اللهُ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: "Dari A’isyah bekata: Rasulullah bersabda “Siapa yang setelah sholat Jumat membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan al-Nas masing-masing tujuh kali Allah akan menjaganya dari keburukan hingga Jumat setelahnya”.

Ibnu Mas’ud mengatakan: “Siapa yang setelah membaca itu menambahkan bacaan yang artinya “ya Allah wahai dzat yang Maha kaya, wahai dzat yang Maha terpuji, wahai dzat yang Maha memulai, wahai dzat yang Maha mengembalikan, wahai dzat yang Maha mengasihi, wahai dzat yang Maha mencintai kayakanlah aku dengan keutamaan-Mu yang jauh dari selain-Mu, dan dengan rezeki-Mu yang halal yang jauh dari segala yang Engkau haramkan”, niscaya Allah akan menjadikannya kaya dan diberikan rezeki yang tidak terduga." (Sayyid Bakri Syatha, I’anatut Thalibin, [Damaskus: Darul Faiha, 2021], juz 2, hal. 179.).

Dalam riwayat yang lain menambahkan membaca surat al-Fatihah 7 kali sebelum membaca ketiga surat tersebut, dan juga dilakukan dalam posisi selesai salam yakni dalam duduk tawarruk.

Do’a yang dibaca setelahnya dalam riwayat lain dibaca sebanyak empat kali sebagaimana catatan Imam Bujairami dengan redaksi yang sedikit berbeda akan tetapi sering digunakan oleh Nahdliyin berikut:

قَالَ أَبُو طَالِبٍ الْمَكِّيُّ : وَيُسْتَحَبُّ لَهُ بَعْدَ الْجُمُعَةِ أَنْ يَقُولَ " يَا غَنِيُّ يَا حَمِيدُ يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيدُ يَا رَحِيمُ يَا وَدُودُ ، أَغْنِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ " أَرْبَعَ مَرَّاتٍ

Artinya: "Abu Thalib al-Makki mengatakan disunnahkan setelah selesai shalat Jumat untuk membaca doa yang artinya ““ya Allah wahai dzat yang Maha kaya, wahai dzat yang Maha terpuji, wahai dzat yang Maha memulai, wahai dzat yang Maha mengembalikan, wahai dzat yang Maha mengasihi, wahai dzat yang Maha mencintai. Kayakanlah aku dengan Kehalalal-Mu yang jauh dari segala yang Engkau haramkan, dan dengan taat kepada-Mu dari segala kemaksiatan kepada-Mu, dan dengan keutamaan-Mu yang jauh dari selain-Mu”, sebanyak empat kali." (Sulaiman al-Bujairami, Tuhfatul Habib ala Syarhil Khathib, [Beirut: Darul Fikr, 2006], juz 2, hal. 205.).

Mbah Moen mengatakan, sebagaimana yang penulis dengarkan ketika mengaji, bahwa rahasia dari empat kali bacaan doa itu adalah untuk memenuhi empat dasar rezeki manusia yakni sandang (pakaian), pangan (makanan), papan (tempat tinggal), dan sehat. Khusus untuk poin keempat menurut Mbah Moen tiga poin sebelumnya tidak akan sempurna jika tanpa disertai dengan kesehatan.

Doa khusus dari Mbah Moen

Ketika Mbah Moen menggelar acara shalawat di Pesantren Al-Anwar bersama Habib Syekh al-Segaf pertama kali, Mbah Moen dalam sambutannya mengijazahkan doa untuk melancarkan rezeki, yang mana doa ini juga dibacakan setelah membaca wirid setelah shalat Jumat.

Doa itu adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمًّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَمْوَالاً كَثِيْرَةً أَسْتَعِيْنُ بِهَا عَلَى الفِعَالِ.

Artinya: "Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu harta yang melimpah untuk aku gunakan memenuhi segala kebutuhanku."

Mbah Moen memberikan catatan khusus yang penulis dengarkan dan pahami, bahwa doa itu dibaca sebanyak 7 kali dengan satu tarikan nafas atau dengan menahan nafas. Mbah Moen juga menceritakan bahwa dulu sejak mondok di Lirboyo, beliau sering membaca doa itu ketika dalam keadaan tidak mempunyai uang.

Namun, Mbah Moen mengingatkan untuk tidak lagi mengamalkannya ketika sudah menjadi orang kaya dan bergelimang harta, karena akan ada madharat tersendiri yang tidak beliau sebutkan secara jelas.

Walhasil, sebagaimana telah diketahui oleh banyak umat Islam, doa adalah sebuah bentuk memasrahkan diri kepada Allah agar dilancarkan segala usaha yang dilakukan, dan agar segala usahanya diberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.

Oleh karena itu selain memanjatkan doa dan wirid tentunya juga harus berusaha dan bekerja semaksimal mungkin agar seseorang bisa mendapatkan rezeki yang sesuai dengan apa yang dia butuhkan. Wallahu a'lam bis shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo