Pidato Pengukuhan Guru Besar UIN Bandung, Prof Rohmat Mulyana Sapdi​​: Urgensi Nilai dalam Pendidikan Islam

Pidato Pengukuhan Guru Besar UIN Bandung, Prof Rohmat Mulyana Sapdi​​: Urgensi Nilai dalam Pendidikan Islam

Arina.id 

UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Sidang Senat Terbuka dan mengukuhkan Rohmat Mulyana Sapdi sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam. 

Rohmat Mulyana Sapdi tercatat sebagai Guru Besar UIN Bandung setelah menerima Surat Keputusan (SK) Guru Besar bidang ilmu agama yang diterbitkan Kementerian Agama RI dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi. 

Dilansir pddikti Kemdikbud, Prof Rahmat Mulyana Sapdi menyelesaikan jenjang Strata 1 di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati tahun 1990, kemudian melanjutkan Strata 2 (1996) dan S3 (2021) di Universitas Pendidikan Indonesia.

Selain menjadi dosen tetap di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Rohmat Mulyana Sapdi adalah Sekretaris pada Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.

Berikut ini Arina.id sajikan ringkasan pidato Pengukuhan Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Rohmat Mulyana Sapdi.​

Urgensi Nilai dalam Pendidikan Islam

Salah satu tantangan paling nyata dalam iktiar Pendidikan Islam adalah bagaimana memadukan nilai preskriptif yang datang dari langit dengan nilai deskriptif yang ada di bumi yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Nilai preskriptif berkenaan dengan ultimate meaning yang kebenarannya bersifat mutlak sepertihalnya kebenaran yang tercantum dalam Al-Quran dan Hadits, sedangkan nilai deskriptif adalah nilai yang termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Di antara nilai preskriptif dan deskriptif ini sesungguhnya terdapat celah untuk bereksplorasi dalam mengembangkan pemahaman nilai Islam secara naratif dan dialogis sehinga peserta didik mampu mendalami agama secara kontekstual dan kritis.

Peluang bereksplorasi dalam mengurai varian nilai seperti nilai logika, etika, estetika, dan ketuhanan dalam fenomena kehidupan beragama sejatinya merupakan upaya dalam memperkokoh tiga domain konstruk keilmuan Pendidikan Islam, yakni: (1) konstruk epistemologi pendidikan Islam, (2) konstruk logika berpikir kritis, dan (3) konstruk model pembelajaran Agama Islam. 

1. Konstruk epistemologi pendidikan Islam

Konstruk epistemologi Pendidikan Islam pada konteks kebutuhan eksplorasi nilai, tentu saja berkenaan dengan kemampuan memadukan pemahaman ilmiah dengan irfaniah, logis dengan mistis, dan aqliyah dengan naqliyah, dan obyektif dengan subyektif yang dalam sejarah keilmuan dikenal dengan perpaduan antara kelompok ilmu fides quaren intellektus, yakni ilmu yang berkembangan untuk memperkuat kesadaran agama yang berpusat pada hati dengan kelompok ilmu intellektus quarens fides atau ilmu yang berkembang secara ilmiah yang berbasis pada kecerdasan otak dan bukti empirik. Selain itu, secara epistemologis, Pendidikan Islam perlu merekonstruksi dominasi pendekatan theosentris ke theo-antroposentris dalam arti nilai-nilai kesadaran yang berpusat pada ketuhanan juga harus disempurnakan dengan lahirnya kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan secara holistik dan integral. 

2. Konstruk logika berpikir kristis 

Seperti kita ketahui, logika berpikir kritis merupakan pintu masuk untuk pemahaman terhadap nilai-nilai Islam secara komprehensif dan mendalam. Berpikir kritis, yang prosesnya melibatkan klarifikasi, inferensi dan integrasi pengetahuan, perlu dibangun secara terpola dalam pembelajaran agama Islam. Bila kita ingin membentuk anak menjadi kritis, maka pembelajarannya harus dikembangkan secara deskriptif, naratif, dan dialogis dengan sejumlah problematika kehidupan dan konflik nilai di dalamnya. Kemampuan berpikir kritis ini diyakini berdampak besar terhadap fleksibilitas berpikir anak yang pada gilirannya anak dapat menjalankan agama dengan penuh kesadaran dan mampu mengembangkan nilai-nilai keutamaan seperti nilai tawasuth, tasamuh, tawazzun dan i’tidal dalam kehidupannya.

3. Konstruk model pembelajaran Agama Islam

Untuk mengimplementasikan gagasan pendidikan nilai dalam PAI serta memperkuat ekplorasi nilai, maka dibutuhkan model pembelajaran nilai yang berbasis kasus (case-based value learning). Untuk keperluan konstruk model pembelajaran ini sesungguhnya saya telah mengembangan model pembelajaran nilai yang dituangkan dalam buku Model Pembelajaran N-I-L-A-I melalui PAI yang diterbitkan pada tahun 2013. Model ini menjelaskan bahwa setiap huruf pada kata N-I-L-A-I sesunggunya mengambarkan tahapan pembelajaran yang dapat dikembangkan oleh guru atau dosen, yaitu: N = Narasi peristiwa, I = Identifikasi nilai, L = Literasi norma, A = Afiksasi pemahaman, I = Internalisasi nilai. Tahapan ini sekaligus menggambarkan siklus pembelajaran mulai dari ceritera kritisi→perkaya→miliki.

Untuk lebih detailnya ikhwal model pembelajaran N-I-L-A-I ini dapat dipelajari dalam buku yang sudah lama terbit dan beredar di pasaran.

Terakhir, ijinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pencapaian gelar akademik tertinggi ini, khusunya kepada Bapak Menteri Agama Gus Yaqut Cholil Qoumas, pak Sekjen, pak Dirjen Pendis, pak Direktur Diktis, Ketua Senat dan Rektor UIN Sunan Gunung Djati, dan Dekan FITK UIN SGD Bandung. Dan last but not least pada istri dan anak-anaku tercinta yang selalu menjadi penyemangat dalam meraih kesuksesan dan kemulyaan hidup. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kita semua. Aamiin

Demikian yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya.​​​​​​​

Wallahul muwafiq ilaa aqwamith tharieq

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Editor: Muhammad Zunus
logo