Riset tentang Berbagai Manfaat Medis Puasa Ramadan yang Perlu Kamu Ketahui

Riset tentang Berbagai Manfaat Medis Puasa Ramadan yang Perlu Kamu Ketahui

Arina.id - Meskipun tujuan utama puasa Ramadan lebih bermakna spiritual, yakni meningkatkan ketakwaan pada Allah, akan tetapi sejumlah penelitian menunjukkan puasa juga dapat memberikan berbagai manfaat kesehatan jika dilakukan dengan penuh kesadaran.

Dikutip dari Theweek, salah satu manfaat puasa Ramadan yang paling menonjol ialah peningkatan kesehatan metabolisme. Selama jam puasa, tubuh beralih dari menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama ke pembakaran lemak yang tersimpan. 

Peralihan metabolisme ini dapat mendorong penurunan lemak dan meningkatkan sensitivitas insulin, membantu mengatur kadar gula darah. 

Sebuah studi berjudul: "Intermittent Fasting During Ramadan Improves Insulin Sensitivity and Anthropometric Parameters in Healthy Young Muslim Men", pernah mengamati penurunan berat badan, BMI, massa lemak, dan peningkatan sensitivitas insulin dengan resistensi insulin yang lebih rendah.

Selain itu, puasa juga memberi sistem pencernaan periode istirahat. Dengan istirahat dari makan dan ngemil terus-menerus, usus memiliki waktu untuk memperbaiki diri dan melakukan detoksifikasi diri. 

Selanjutnya, makan dengan penuh kesadaran selama jam-jam di luar puasa juga dapat mendorong pengendalian porsi yang lebih baik dan mengurangi kebiasaan makan berlebihan yang sering berkontribusi pada penambahan berat badan.

Manfaat lain menyebutkan, kesehatan kardiovaskular juga dapat memperoleh manfaat dari puasa Ramadan. 

"Studi ini menunjukkan peningkatan signifikan pada skor risiko penyakit jantung koroner 10 tahun dan faktor risiko kardiovaskular lainnya seperti berat badan, BMI, dan lingkar pinggang pada subjek dengan riwayat penyakit kardiovaskular sebelumnya setelah rata-rata berpuasa selama 26 hari di bulan Ramadan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa puasa Ramadan mungkin bermanfaat untuk memperbaiki faktor risiko penyakit kardiovaskular," demikian bunyi penelitian tersebut.

Namun, manfaat ini juga bergantung pada faktor lain, seperti menghindari konsumsi berlebihan makanan gorengan dan makanan manis. Adapun untuk manfaat jangka panjangnya juga tergantung dengan perubahan gaya hidup pasca-Ramadan.

Seperti disampaikan Sherif Hassan, profesor penyakit dalam di Fakultas Kedokteran UC Riverside, dalam sebuah wawancara khusus dengan news.ucr, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang manfaat-manfaat puasa Ramdan.

Hassan yang memperoleh gelar kedokteran dan doktornya dari Universitas Kairo, Mesir, dan menyelesaikan pelatihan residensi di bidang kedokteran umum, bedah, dan patologi klinis dan kimia.

Saat ditanya tentang perbandingan puasa Ramadan dengan puasa intermiten dari perspektif medis Ia menjelaskan, puasa selama Ramadan secara fisiologis mirip dengan pola makan terbatas waktu (intermitten), karena keduanya mengalihkan tubuh dari penggunaan glukosa ke lemak setelah 12–16 jam. 

Perbedaan utamanya adalah Ramadan melarang konsumsi cairan selama siang hari, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi. Perubahan pola tidur selama Ramadan juga dapat memengaruhi hasil metabolisme.

Puasa 12–16 jam atau lebih menyebabkan cadangan glikogen menurun, insulin turun dan tubuh meningkatkan pemecahan lemak serta produksi keton ringan. Hormon pertumbuhan meningkat dan sensitivitas insulin dapat membaik untuk sementara waktu. Energi bergeser dari ketergantungan glukosa ke pemanfaatan lemak yang lebih besar.

Lalu apa manfaat kesehatan jangka panjang dari puasa Ramadan? Bukti menunjukkan ada manfaat perbaikan metabolisme jangka pendek, tetapi jangka panjangnya akan tergantung gaya hidup selanjutnya.

"Tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahaya pada orang dewasa sehat. Manfaat jangka panjang bergantung pada perilaku sehat yang berkelanjutan," katanya.

Bagi individu yang kelebihan berat badan dan mereka yang mengalami resistensi insulin ringan seringkali mengalami peningkatan metabolisme paling signifikan. 

"Orang yang meningkatkan kualitas diet selama Ramadan mendapatkan manfaat lebih besar daripada mereka yang mengonsumsi makanan tinggi kalori secara berlebihan. Individu yang kurus dan sehat secara metabolik mungkin hanya melihat perubahan minimais," katanya menegaskan.


Editor: Muhammad Taufiq
logo