Di era kini, manusia sering terjebak dalam kebiasaan yang terlihat sepele tetapi berdampak negatif pada kesehatan mental. Beberapa di antaranya ialah overthinking, begadang, malas bergerak, menunda makan, dan toxic positivity. Praktik ini, meskipun sering muncul karena beban pekerjaan atau justru menjadi kebiasaan, sangat berpotensi merusak keseimbangan emosi dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Memahami kebiasaan tersebut secara lebih mendalam adalah langkah awal untuk melindungi diri dari berbagai dampak negatif dan mulai menciptakan ruang mental yang lebih sehat.
1. Overthinking
Overthinking atau kebiasaan berpikir berlebihan terjadi saat seseorang terus-menerus memikirkan situasi, masalah, atau keputusan tertentu secara berulang tanpa menemukan solusi. Kebiasaan ini sering kali membuat seseorang merasa seperti terjebak dalam lingkaran pikiran yang melelahkan. Pikiran-pikiran ini biasanya dibumbui kecemasan, keraguan, atau rasa takut terhadap masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Contohnya, seseorang yang mengalami overthinking akan sering memikirkan komentar kecil yang mereka sampaikan di percakapan. Ia mengkhawatirkan tanggapan dari orang lain. Bahkan setelah percakapan berlalu, pikiran tetap terpaku pada skenario ‘bagaimana jika,’ yang akhirnya menyebabkan stres yang tidak perlu.
Efek negatif dari overthinking sangat besar. Stres kronis yang dihasilkan dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa overthinking dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan bahkan insomnia. Lebih jauh lagi, kebiasaan ini dapat merusak produktivitas, karena terlalu banyak waktu dan energi dihabiskan untuk memikirkan sesuatu tanpa mengambil tindakan nyata.
2. Begadang
Begadang atau kurang tidur merupakan kebiasaan yang sering dianggap sepele tetapi berdampak besar pada kesehatan fisik dan mental. Kurangnya waktu tidur berkualitas dapat meningkatkan risiko gangguan mood seperti kecemasan dan depresi. Selain itu, begadang juga merusak kemampuan otak untuk mengolah informasi dan mengontrol emosi yang akhirnya membuat seseorang lebih rentan terhadap stres.
Kebiasaan begadang sering kali berasal dari tuntutan pekerjaan, aktivitas malam yang berlebihan, atau sekadar penggunaan perangkat elektronik. Kebiasaan ini tidak hanya berdampak buruk terhadap fisik tetapi juga mental. Stanford Medicine dalam tulisan Night owl behavior could hurt mental health, sleep study finds menukilkan bahwa begadang dapat menyebabkan tingkat gangguan mental dan pengambilan keputusan yang buruk.
3. Malas Bergerak
Gaya hidup yang malas bergerak atau jauh dari aktivitas olahraga merupakan kebiasaan yang juga sering diabaikan tetapi memiliki dampak pada kesehatan mental. Kurang aktivitas fisik dapat menurunkan produksi hormon endorphin yang berperan dalam menciptakan perasaan bahagia dan mengurangi stres.
Dalam jangka panjang, gaya hidup ini dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi. Penelitian yang dilakukan oleh WHO dan beberapa akademisi yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Global Health menemukan kesimpulan bahwa kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke, diabetes tipe 2, demensia, dan kanker seperti kanker payudara dan kanker usus besar.
4. Menunda Makan
Menunda makan mungkin terlihat seperti kebiasaan kecil, tetapi dampaknya pada kesehatan mental dan fisik tidak boleh diremehkan. Ketika tubuh kekurangan nutrisi karena terlambat makan, kadar gula darah bisa turun drastis. Kondisi itu dapat mempengaruhi mood dan kemampuan berpikir. Hal ini seringkali menyebabkan seseorang menjadi mudah marah, cemas, atau sulit berkonsentrasi.
Kebiasaan ini juga dapat mempengaruhi pola makan seseorang dalam jangka panjang, seperti makan berlebihan saat waktu makan berikutnya yang akhirnya bisa memperburuk kondisi kesehatan. Tidak menunda makan dan memastikan asupan nutrisi seimbang sangat penting untuk menjaga kesehatan mental.
5. Toxic Positivity
Toxic positivity ialah kebiasaan untuk selalu berusaha terlihat positif, bahkan ketika menghadapi situasi yang sulit. Dalam budaya saat ini yang sering mendorong pandangan hidup "berpikir positif," toxic positivity dapat dengan mudah menyelinap ke dalam cara berpikir kita.
Berpikir positif tentu menjadi hal yang baik. Namun, toxic positivity berbeda. Kebiasaan ini memaksa seseorang untuk menekan emosi negatif dan menggantinya dengan senyuman palsu. Misalnya, seseorang mungkin menyembunyikan rasa sedih mereka dengan berkata, "Semua akan baik-baik saja," meskipun kenyataannya mereka sedang menghadapi tekanan batin yang berat.
Masalah utama dari toxic positivity adalah ketika emosi negatif sengaja ditekan atau dipaksa untuk hilang tanpa proses yang tepat. Tindakan itu sangat tidak tepat karena bisa menumpuk emosi negatif dan menyebabkan munculnya perasaan frustasi, isolasi, dan bahkan gangguan mental dalam jangka panjang.
Selain itu, kebiasaan ini dapat menciptakan rasa tidak nyaman untuk berbagi perasaan secara jujur karena takut dianggap lemah atau tidak bersyukur.
Langkah Mengatasi Kebiasaan Buruk
Untuk mengatasi overthinking, salah satu strategi terbaik adalah dengan membatasi waktu merenungkan suatu masalah. Misalnya, tetapkan "waktu khawatir" selama 10-15 menit setiap hari, dan setelah itu, alihkan fokus ke aktivitas lain. Menuliskan masalah pada kertas lalu menganalisisnya juga bisa membantu dalam mengurai masalah lebih jelas.
Memupuk pikiran positif juga bisa berdampak dalam mengendalikan emosi negatif. Teknik mindfulness juga dapat membantu seseorang untuk tetap fokus pada momen saat ini, sehingga mengurangi kecenderungan untuk terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Menghindari begadang dan malas bergerak dapat dilakukan dengan mengatur jadwal tidur yang konsisten dan membatasi penggunaan layar gawai sebelum tidur. Olahraga ringan seperti berjalan kaki atau yoga dapat menjadi cara sederhana untuk meningkatkan kesehatan mental dan fisik, bahkan aktivitas kecil seperti peregangan atau berdiri setelah duduk terlalu lama dapat membuat perbedaan besar.
Sementara itu, untuk menghindari toxic positivity, penting untuk memberi ruang bagi emosi negatif. Jangan takut untuk merasa sedih, marah, atau frustrasi; emosi-emosi ini adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Alih-alih menekan perasaan, cobalah untuk mengenali dan memvalidasi perasaan tersebut. Berbicara dengan teman atau konselor juga dapat membantu menciptakan keadaan lebih baik.
Selain itu, kita juga perlu mengubah cara berpikir kita tentang kesulitan. Alih-alih melihat kesulitan sebagai sesuatu yang harus selalu dihadapi dengan senyuman, anggaplah itu sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh. Dengan cara ini, kita bisa tetap positif tanpa mengabaikan realitas emosional kita.
Dengan memahami risiko dan dampak dari berbagai kebiasaan diatas, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri dan menciptakan kehidupan yang lebih seimbang. Mengelola pikiran, emosi, dan aktivitas rutin dengan bijaksana bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah kekuatan yang akan membantu kita menghadapi tantangan hidup dengan lebih sehat dan bahagia.
Editor: Kendi Setiawan
