Belajar Empati dari Kasus Yurizal: 7 Tips Bijak Berkomentar di Media Sosial

Belajar Empati dari Kasus Yurizal: 7 Tips Bijak Berkomentar di Media Sosial

Media sosial kini bukan sekadar ruang untuk berbagi informasi. Ia telah menjadi tempat bagi masyarakat untuk dapat menyampaikan pendapat, meluapkan emosi, memberikan dukungan, bahkan mengkritik tindakan orang lain.

Namun, kebebasan tersebut juga membawa tanggung jawab: setiap komentar yang ditulis dapat berdampak kepada orang lain.

Fenomena yang muncul dalam kasus Yurizal, seorang pasien yang ingin mendapatkan layanan rumah sakit dengan fasilitas BPJS baru-baru ini menjadi salah satu pengingat bahwa persoalan di media sosial tidak selalu berhenti pada benar atau salahnya sebuah pernyataan. Cara seseorang menyampaikan pendapat juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Pernyataan yang secara isi mungkin dimaksudkan sebagai kritik, misalnya, dapat diterima sebagai bentuk ketidakpedulian apabila disampaikan tanpa mempertimbangkan kondisi emosional orang yang menjadi sasaran.

Sorotan terhadap komentar tenaga kesehatan (nakes) yang dinilai tidak menunjukkan empati dalam fenomena tersebut juga membuka pembahasan yang lebih luas. Profesi apa pun, termasuk tenaga kesehatan, tidak membuat seseorang kebal terhadap kritik. Namun, posisi profesional tertentu memang sering kali membuat publik memiliki ekspektasi lebih tinggi terhadap cara berkomunikasi, terutama ketika berhadapan dengan persoalan yang menyangkut penderitaan, kehilangan, atau kondisi sensitif.

Terlepas dari kasus tertentu, ada pelajaran penting yang bisa diterapkan siapa saja ketika menggunakan media sosial: berkomentar bukan hanya soal apa yang ingin kita katakan, tetapi juga bagaimana perkataan itu akan diterima oleh orang lain.

Diolah dari berbagai sumber, berikut tujuh tips agar tetap empatik ketika berkomentar di media sosial.

1. Berhenti Sejenak sebelum Menekan Tombol Kirim
Media sosial membuat orang dapat bereaksi dalam hitungan detik. Ketika melihat unggahan yang memancing emosi, tangan sering kali lebih cepat mengetik daripada pikiran mempertimbangkan dampaknya.

Oleh karena itu, biasakan memberikan jeda sebelum mengirim komentar. Tanyakan kepada diri sendiri: apakah saya sedang bereaksi karena informasi yang lengkap atau karena emosi sesaat?

Jeda beberapa detik dapat membuat kita melihat sebuah persoalan dengan lebih jernih. Komentar yang semula terasa perlu ditulis mungkin ternyata tidak perlu dikirim.

2. Bedakan Kritik dengan Serangan Pribadi
Kritik diperlukan dalam ruang publik. Namun, kritik tidak harus berubah menjadi serangan terhadap pribadi seseorang.

Jika tidak setuju dengan sebuah tindakan, fokuskan komentar pada tindakan atau gagasannya. Hindari menghakimi karakter, kecerdasan, moralitas, atau latar belakang orang tersebut.

Misalnya, daripada menulis, "Orang seperti ini memang tidak punya otak," lebih baik menyampaikan, "Saya tidak setuju dengan tindakan tersebut karena berpotensi menimbulkan dampak seperti ini."

Dengan pilihan kalimat tersebut, pesannya tetap kritis, tetapi tidak merendahkan.

3. Ingat bahwa di Balik Akun Ada Manusia
Salah satu masalah komunikasi digital adalah kita sering lupa bahwa akun media sosial mewakili manusia nyata.

Foto profil yang kecil, nama pengguna, dan layar ponsel dapat menciptakan jarak psikologis. Akibatnya, seseorang lebih mudah mengatakan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah ia ucapkan ketika bertatap muka.

Sebelum berkomentar, bayangkan orang yang menjadi sasaran komentar tersebut sedang duduk di depan kita. Apakah kalimat yang sama masih pantas disampaikan?

Jika jawabannya tidak, mungkin komentar tersebut perlu diperbaiki atau bahkan tidak perlu dikirim.

4. Jangan Menjadikan Kondisi Sensitif sebagai Ajang Pembuktian Diri
Tidak semua momen membutuhkan opini kita.

Ketika seseorang sedang mengalami musibah, kehilangan, sakit, konflik keluarga, atau tekanan psikologis, komentar yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kita "lebih tahu" justru dapat terasa menyakitkan.

Dalam situasi seperti itu, empati sering kali lebih penting daripada keinginan untuk memenangkan argumen.

Tidak masalah jika kita memilih diam. Tidak semua percakapan harus dimenangkan, dan tidak semua unggahan membutuhkan respons.

5. Periksa Fakta sebelum Menghakimi
Komentar yang tidak empatik sering kali lahir dari kesimpulan yang dibuat terlalu cepat.

Satu unggahan belum tentu menggambarkan keseluruhan peristiwa. Potongan video belum tentu menunjukkan konteks lengkap. Bahkan informasi yang viral sekalipun belum tentu seluruhnya benar.

Sebelum memberikan penilaian, cari informasi dari sumber yang kredibel. Jika informasi masih belum jelas, gunakan kalimat yang menunjukkan kehati-hatian, seperti "Jika informasi ini benar..." atau "Perlu dilihat konteks lengkapnya."

Sikap tersebut bukan tanda kelemahan. Justru menunjukkan kedewasaan dalam menggunakan media sosial.

6. Gunakan Prinsip "Benar, Perlu, dan Baik"
Sebelum mengirim komentar, coba gunakan tiga pertanyaan sederhana: Apakah yang saya sampaikan benar? Apakah perlu disampaikan? Apakah cara menyampaikannya baik?

Sebuah komentar mungkin benar, tetapi belum tentu perlu disampaikan. Sebuah kritik mungkin diperlukan, tetapi cara penyampaiannya bisa diperbaiki.

Tiga pertanyaan tersebut dapat menjadi penyaring sederhana sebelum kita ikut masuk dalam sebuah perdebatan di media sosial.

7. Jangan Takut Menghapus atau Mengoreksi Komentar
Manusia bisa salah. Kita bisa salah memahami konteks, terbawa emosi, atau menulis sesuatu yang ternyata melukai orang lain.

Jika menyadari kesalahan, menghapus komentar, meminta maaf, dan memberikan klarifikasi bukanlah tanda kalah. Sebaliknya, itu menunjukkan tanggung jawab.

Di era ketika jejak digital dapat bertahan lama, kemampuan mengakui kesalahan justru menjadi bagian penting dari literasi digital.

Empati Tidak Berarti Harus Selalu Setuju
Empati bukan berarti kita harus menyetujui semua pendapat orang lain. Kita tetap boleh berbeda pandangan. Kita boleh mengkritik kebijakan, mempertanyakan tindakan, bahkan menyampaikan ketidaksetujuan dengan tegas.

Hal yang perlu dijaga adalah cara kita menyampaikannya.

Media sosial seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan, bukan tempat menghilangkan rasa kemanusiaan. Kasus dan fenomena yang ramai diperbincangkan publik dapat menjadi pelajaran bahwa satu kalimat yang ditulis dengan tergesa-gesa bisa memiliki dampak jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Karena itu, sebelum berkomentar, berhentilah sejenak.

Baca kembali.

Bayangkan jika komentar itu ditujukan kepada diri kita sendiri.

Jika masih terasa pantas, kirimkan. Jika terasa menyakitkan, perbaiki. Dan jika sebenarnya tidak memberikan manfaat apa pun, tidak berkomentar pun merupakan pilihan yang bijak.


Editor: Kendi Setiawan
logo