Ternyata Begini Dunia Medis Memandang Masuk Angin

Ternyata Begini Dunia Medis Memandang Masuk Angin

Masuk angin adalah istilah yang sangat familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Hampir setiap orang pernah mengaku mengalami masuk angin, baik itu disertai gejala seperti perut kembung, mual, menggigil, demam ringan, sakit kepala, hingga pegal-pegal. Namun, istilah ini sebenarnya tidak dikenal dalam dunia medis modern.

Dalam terminologi kedokteran, tidak ada penyakit bernama “masuk angin.” Hal ini menimbulkan pertanyaan: Apakah masuk angin itu benar-benar penyakit? Atau hanya sekadar kumpulan gejala dari gangguan kesehatan lain?

Secara umum, masyarakat meyakini bahwa masuk angin terjadi karena tubuh terlalu lama terpapar udara dingin, kehujanan, atau berada dalam kondisi fisik yang lelah dan tidak bugar. Istilah “angin” dalam konteks ini bukan berarti angin secara fisik benar-benar masuk ke dalam tubuh, melainkan menggambarkan ketidakseimbangan tubuh yang dirasakan, terutama berkaitan dengan sistem pencernaan dan daya tahan tubuh. Beberapa kebiasaan seperti kerokan atau minum minuman hangat sering dilakukan sebagai cara untuk “mengeluarkan angin” dari tubuh.

Dalam pendekatan ilmiah, sebagian gejala yang dikategorikan sebagai masuk angin dapat dijelaskan melalui mekanisme medis tertentu. Misalnya, perut kembung dan mual biasanya disebabkan oleh akumulasi gas dalam saluran pencernaan. Gas tersebut berasal dari fermentasi makanan oleh bakteri usus atau dari udara yang tertelan saat makan atau minum (aerophagia). Kondisi ini bisa diperparah oleh stres atau gangguan motilitas usus.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Camilleri (2020) dalam Functional Gastrointestinal Disorders, gangguan pencernaan fungsional seperti dispepsia dan sindrom iritasi usus besar (IBS) memang sering menunjukkan gejala yang mirip dengan apa yang disebut sebagai masuk angin.

Sementara itu, gejala lain seperti menggigil dan meriang dapat dikaitkan dengan infeksi virus ringan seperti flu atau selesma. Virus ini menyebabkan tubuh bereaksi dengan menaikkan suhu untuk melawan patogen yang masuk. Pada saat itulah, tubuh akan merasa lemah, pegal, dan menggigil.

Gejala tersebut umumnya akan hilang setelah sistem imun berhasil mengatasi infeksi. Hal ini dijelaskan oleh Kumar dan Clark (2020) dalam buku Clinical Medicine, bahwa respons imun tubuh terhadap infeksi virus bisa menimbulkan serangkaian gejala sistemik seperti demam, menggigil, dan kelelahan, yang semuanya sering dikaitkan dengan kondisi masuk angin.

Adapun kebiasaan masyarakat Indonesia dalam melakukan kerokan sebagai solusi untuk masuk angin, juga menarik untuk ditinjau dari sisi medis. Kerokan dipercaya bisa melancarkan peredaran darah dan mengeluarkan “angin” dari tubuh. Dalam sudut pandang medis, kerokan memang menimbulkan efek vasodilatasi lokal, yaitu pelebaran pembuluh darah di kulit akibat iritasi ringan. Efek ini membuat seseorang merasa lebih hangat dan rileks.

Studi oleh Nielsen et al. (2007) dalam jurnal Complementary Therapies in Medicine menyatakan bahwa metode serupa seperti gua sha (kerokan versi Tiongkok) dapat meningkatkan mikrosirkulasi kulit dan memberikan efek analgesi ringan, meskipun belum terbukti secara ilmiah bisa menyembuhkan penyakit.

Dari perspektif fisiologis, paparan udara dingin yang ekstrem memang dapat memengaruhi fungsi sistem imun. Studi oleh Eccles (2002) dalam jurnal Rhinology menunjukkan bahwa suhu dingin dapat menyebabkan vasokonstriksi pada mukosa saluran napas, yang berpotensi menurunkan pertahanan lokal terhadap infeksi virus. Maka tidak mengherankan jika setelah kehujanan atau tidur dengan kipas angin menyala, seseorang merasa tidak enak badan atau mengalami gejala yang disebut masuk angin.

Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa istilah masuk angin sering kali bersifat subjektif. Setiap individu dapat mengartikan dan merasakan masuk angin secara berbeda. Karena tidak adanya definisi medis yang baku, maka masuk angin lebih cocok dikategorikan sebagai lay terminology atau istilah awam untuk menggambarkan kombinasi gejala ringan yang tidak spesifik.

Meski demikian, tidak berarti kondisi ini boleh diabaikan sepenuhnya. Jika gejala terus berlanjut lebih dari tiga hari, disertai demam tinggi, muntah, atau sesak napas, maka harus segera mendapat perhatian medis karena bisa jadi merupakan tanda penyakit serius.

Dalam kajian antropologi medis, masuk angin juga mencerminkan cara masyarakat menafsirkan kesehatan dan penyakit berdasarkan pengalaman dan budaya lokal. Konsep ini serupa dengan apa yang disebut folk illness atau penyakit rakyat dalam etnomedisin. Kleinman (1980) dalam bukunya Patients and Healers in the Context of Culture menyatakan bahwa dalam banyak budaya, istilah lokal mengenai penyakit membantu individu memahami ketidakseimbangan dalam tubuh dan memilih tindakan yang dianggap sesuai secara sosial dan spiritual.

Di sisi lain, dunia medis juga semakin terbuka terhadap pendekatan integratif yang memperhatikan pengalaman subjektif pasien. Pendekatan biopsikososial misalnya, melihat bahwa gangguan kesehatan tidak hanya berasal dari faktor biologis, tetapi juga dari psikologis dan sosial. Dengan demikian, rasa tidak enak badan yang disebut masuk angin bisa jadi adalah bentuk awal dari stres fisik dan emosional yang dialami seseorang.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa masuk angin bukanlah entitas medis yang jelas, melainkan istilah budaya yang mencakup berbagai gejala ringan akibat kelelahan, gangguan pencernaan, infeksi virus ringan, atau gangguan sirkulasi. Pengetahuan ilmiah dapat membantu masyarakat memahami gejala tersebut secara lebih tepat, sekaligus menghargai kearifan lokal yang berkembang dalam merawat kesehatan.

Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya istirahat cukup, asupan gizi seimbang, menjaga kebersihan, dan mengenali tanda-tanda gejala serius perlu terus ditingkatkan. Selain itu, pendekatan budaya seperti kerokan, minum jamu, atau penggunaan minyak angin dapat tetap dipertahankan selama tidak menimbulkan efek negatif dan tidak menggantikan peran medis profesional ketika dibutuhkan.

Dengan demikian, memahami masuk angin bukan hanya soal membahas penyakit, tetapi juga menyelami cara masyarakat Indonesia merawat tubuhnya, menjembatani antara sains dan budaya dalam menjaga kesehatan secara holistik.
 


Editor: Kendi Setiawan
logo