Dalam dunia profesional, keterampilan komunikasi tidak hanya diukur dari apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana kita mengatakannya, termasuk melalui bahasa tubuh.
Sering kali, tanpa disadari, gerak-gerik tubuh kita justru menyampaikan pesan yang bertolak belakang dengan maksud sebenarnya. Akibatnya, kesan yang muncul bisa salah arah: bukannya terlihat percaya diri, kita justru tampak gugup, tertutup, atau bahkan tidak profesional.
Tubuh kita memang berbicara lewat bahasa yang khas. Saat sedang stres atau ketika kata-kata gagal menyampaikan maksud, postur, gerakan, dan ekspresi wajah kita akan mengungkapkan hal yang sebenarnya.
Berikut ini 7 kebiasaan bahasa tubuh yang kerap luput dari perhatian, namun berdampak besar terhadap citra diri kita di lingkungan kerja maupun pertemuan penting, dikutip dari laman www.inc.com
1. Postur Tubuh yang Buruk Merusak Wibawa
Banyak orang cenderung membungkuk setelah seharian bekerja. Tapi hati-hati, membungkukkan bahu dan melengkungkan tulang belakang membuat tubuh tampak lebih kecil dan kurang percaya diri. S
Ketika seseorang duduk atau berdiri tegap dalam rapat, orang lain jadi lebih memperhatikan mereka. Tujuannya bukan menjadi sempurna, tapi menunjukkan bahwa kita layak diperhatikan. Bonusnya, punggung pun akan merasa lebih nyaman.
2. Menyilangkan Tangan Menciptakan Jarak
Pernahkah kamu mengingat gerakan tangan saat merasa canggung dalam pergaulan. Menyilangkan tangan salah satunya, dapat menciptakan penghalang fisik yang lebih kuat daripada ucapan “jangan dekati saya”.
Kebiasaan menyilangkan tangan ini juga bisa merusak hubungan di tempat kerja karena memberi kesan yang salah. Kamu akan terlihat lebih terbuka dan ramah jika membiarkan tangan rileks di samping tubuh, atau menggunakannya untuk memberi penekanan saat berbicara.
3. Gugup Menunjukkan Rasa Tidak Percaya Diri
Semua orang pernah merasa gugup, tapi tidak perlu menunjukkannya lewat bahasa tubuh.
Gerakan berulang seperti mengklik pulpen, memutar-mutar rambut, atau terus-menerus mengecek ponsel menunjukkan bahwa kamu sedang gelisah. Bahkan pencari kerja dengan kualifikasi hebat pun bisa merusak peluang mereka sendiri karena kebiasaan ini.
Alih-alih berusaha diam total, lebih baik arahkan energi gugupmu ke dalam gerakan yang disengaja. Dengan begitu, ketegangan dalam diri Anda bisa berubah menjadi kesan percaya diri.
4. Kontak Mata Berlebihan Menimbulkan Intimidasi
Kontak mata yang efektif dapat membangun kepercayaan. Namun, jika dilakukan berlebihan, bisa membuat orang lain tidak nyaman.
Semua orang tahu rasa tidak enak saat ditatap terus-menerus. Komunikator yang baik tahu bagaimana menjaga kontak mata yang menunjukkan ketertarikan tanpa membuat lawan bicara merasa diawasi. Ingat, bahasa tubuh yang efektif adalah bagian dari percakapan, bukan interogasi.
5. Terlalu Sering Mengangguk Mengesankan Putus Asa
Mengangguk biasanya digunakan untuk menunjukkan bahwa Anda mendengarkan. Tapi jika dilakukan terlalu cepat atau terlalu sering, justru bisa menunjukkan rasa ingin disetujui yang berlebihan.
Dalam negosiasi, orang yang terlalu sering mengangguk cenderung diabaikan dan pendapatnya jadi dianggap bisa ditawar. Sebaliknya, anggukan yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa Anda benar-benar mempertimbangkan ucapan lawan bicara.
6. Sering Melihat Waktu Dianggap Tidak Sopan
Jika kamu terus-menerus melihat jam tangan atau ponsel saat berbicara dengan seseorang, orang itu akan bertanya-tanya: “Apakah dia tidak tertarik?” atau “Apakah dia merasa ada hal lain yang lebih penting?”
Pemimpin yang dihormati adalah mereka yang benar-benar hadir dalam setiap percakapan. Ketika Anda sepenuhnya hadir, orang lain akan menyadari dan menghargainya.
7. Ketidaksesuaian antara Kata dan Bahasa Tubuh Menciptakan Ketidakpercayaan
Kepercayaan orang kepada kita bisa langsung goyah ketika bahasa tubuh tidak selaras dengan ucapan. Otak manusia secara alami bisa mendeteksi ketidaksesuaian ini, itulah sebabnya kita bisa merasakan ketidaktulusan tanpa tahu alasannya.
Orang akan lebih percaya jika ekspresi wajah dan postur tubuh Anda sejalan dengan nada dan isi ucapan Anda.
Kesadaran akan bahasa tubuh akan membantu kita tampil lebih profesional, karena ini memastikan pesan yang kita sampaikan konsisten dan jelas.
Ketika bahasa tubuh selaras dengan ucapan, sinyal yang kita kirimkan terasa lebih otentik. Kesan tulus seperti ini akan menonjol, terutama di lingkungan kerja yang semakin kacau dan tidak pasti.
Editor: Kendi Setiawan
