Jenis dan Jumlah Makanan yang Pantang Dikonsumsi saat Buka Puasa

Jenis dan Jumlah Makanan yang Pantang Dikonsumsi saat Buka Puasa

Puasa merupakan salah satu ibadah penting dalam berbagai agama, termasuk Islam. Selama bulan Ramadan, umat Muslim di seluruh dunia menjalankan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Saat berbuka puasa, umat Muslim mengakhiri periode berpuasa dengan mengonsumsi makanan dan minuman. Proses berbuka puasa ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kesehatan tubuh setelah seharian menahan diri dari asupan makanan dan minuman.

Namun, pemilihan jenis maupun jumlah makanan yang dikonsumsi saat berbuka puasa dapat berdampak signifikan pada kesehatan. Beberapa makanan mungkin memberikan energi dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, sementara makanan lainnya dapat menyebabkan gangguan pencernaan, mengacaukan suhu tubuh, dan masalah kesehatan lainnya. Oleh karena itu, penting untuk memahami jenis dan jumlah makanan yang sebaiknya dihindari saat berbuka puasa untuk menjaga kesehatan serta kebugaran selama bulan Ramadan.

Orang yang berpuasa dianjurkan untuk menghindari makanan berlemak atau berminyak dalam jumlah besar saat berbuka. Makanan yang berlemak tinggi lebih sulit dicerna oleh lambung. Dengan kata lain proses pengubahan makanan yang berlemak menjadi unsur-unsur makanan yang lebih sederhana menuntut kerja keras sel-sel hati yang dapat membahayakan tubuh manusia.

Dibandingkan dengan karbohidrat dan protein, makanan yang mengandung lemak atau minyak dengan kadar tinggi lebih lama dicerna di lambung. Proses pencernaan lemak selanjutnya di usus juga tidak kalah sulit karena memerlukan bantuan dari garam-garam empedu yang dihasilkan dari hati. Garam empedu inilah yang akan mengemulsikan lemak sehingga dapat bercampur dengan air dan dapat dicerna serta diserap tubuh.

Pada saat berbuka puasa juga disarankan untuk tidak berlebihan dalam menggunakan bumbu seperti cabai rawit, lada, maupun zat-zat asam pada masakan yang akan dikonsumsi di awal berbuka. Semua bumbu tersebut bersifat “tajam” yang bisa memberi pengaruh negatif terhadap selaput saluran pencernaan. 

Selain terhadap selaput organ pencernaan, bumbu-bumbu yang “tajam” juga berpengaruh tidak baik terhadap cairan pencernaan dan cairan kelenjar sehingga akan menambah jumlah unsur asam di dalam cairan pencernaan. Hal ini bisa menyebabkan iritasi dan infeksi berbahaya pada selaput organ pencernaan mulai dari kerongkongan, lambung, hingga usus.

Selain makanan di atas, ketika umat Islam berbuka puasa juga dianjurkan untuk tidak mengonsumsi minuman yang terlalu dingin seperti es. Dalam kitab At-Thibbun Nabawi, Al-Hafiz Adz-Dzahabi menyampaikan anjuran untuk menghindari konsumsi air yang sangat dingin. 

Dalam kitab At-Thibbun Nabawi, tertulis keterangan sebagai berikut: 

"Sungguh, Anda mesti menghindari air yang sangat dingin sebab ia merusak gigi, berbahaya dan mengakibatkan keparauan serta batuk.” (Adz-Dzahabi, 1990, At-Thibbun Nabawi, Beirut, Dar Ihyail Ulum, halaman: 188).

Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan dan minuman dingin saat berpuasa atau berbuka puasa dapat menimbulkan berbagai efek pada tubuh. Minum minuman dingin saat perut kosong setelah berpuasa dapat menyebabkan masalah pencernaan. Perubahan suhu yang tiba-tiba dapat menyebabkan kontraksi pada organ pencernaan, yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan.

Selain itu, konsumsi minuman yang terlalu dingin dapat menimbulkan problem pada pengaturan suhu tubuh. Penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi air dingin dapat menurunkan suhu inti tubuh (Leow dkk, 2022, Cultural differences in hydration practices among physically active individuals: a narrative review, Journal of The International Society of Sports Nutrition, 19 [1]: halaman 150-163).

Puasa sendiri dapat menurunkan suhu tubuh karena perubahan metabolisme dan berkurangnya asupan kalori. Mengonsumsi makanan dan minuman dingin dapat memperparah rasa dingin ini, karena tubuh perlu mengeluarkan energi tambahan untuk menghangatkan minuman dingin yang masuk ke saluran pencernaan.

Minuman dingin juga menimbulkan dampak buruk terhadap proses adaptasi metabolisme tubuh. Selama berpuasa, tubuh mengalami adaptasi metabolisme untuk menghemat energi. Memperkenalkan makanan dan minuman dingin saat buka puasa dapat semakin menantang kemampuan tubuh untuk mempertahankan suhu internal yang stabil, yang menyebabkan rasa dingin.

Secara umum, dianjurkan untuk mengonsumsi makanan dan minuman hangat atau bersuhu ruangan saat berbuka puasa. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalkan ketidaknyamanan pencernaan dan membantu tubuh mempertahankan suhu internalnya dengan lebih efektif.

Bagaimana bila ada pilihan untuk makan makanan ringan atau yang langsung porsi berat saat buka puasa? Hendaknya makanan ringan yang digunakan untuk berbuka agar orang yang berbuka tidak merasa lelah dan lemas setelah berbuka serta tidak malas. 

Menurut Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad As-Sayyid dalam bukunya yang berjudul at-Taghdziyah an-Nabawiyah al-Ghadza bayna ad-Da'i wad Dawa, anjuran makanan ringan untuk berbuka puasa diuraikan secara khusus. Buku ini diterjemahkan ke dalam Edisi Indonesia dengan judul Pola Makan Rasulullah Makanan Sehat Berkualitas Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah.

Selama seharian berpuasa, lambung istirahat dan tidak beraktivitas sehingga apabila buka diawali dengan mengonsumsi makanan berat, maka lambung akan kesulitan untuk mencerna makanan. Hal-hal tersebut akan menyebabkan dispepsia (kesulitan mencerna) sebagaimana yang dijelaskan oleh para dokter di zaman ini (Muhammad as-Sayyid, 2006: 65-66).

Nabi sendiri telah menyampaikan hal tersebut pada 14 abad yang lalu:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidaklah anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang punggungnya. Kalaupun harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (HR. At-Tirmidzi).

Namun, pada praktiknya orang-orang justru banyak mengonsumsi makanan dan minuman di bulan Ramadan. Padahal tidak ada perbedaan kebutuhan makanan pada bulan Ramadan dengan bulan-bulan lainnya. Kebiasaan-kebiasaan buruk inilah yang menyebabkan gangguan pada pencernaan.

Sebagaimana makanan padat, konsumsi cairan atau minuman dalam jumlah yang banyak juga bisa menyebabkan berkurangnya kadar getah lambung yang akan memperkecil kemampuan proses pencernaan. Pada akhirnya hal tersebut bisa menyebabkan munculnya perasaan tidak nyaman karena kondisi lambung yang dipenuhi oleh makanan, bahkan bertumpuk di sana. Hingga akhirnya muncul gas-gas karena proses pengasaman.

Selayaknya umat Muslim memperhatikan jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi untuk berbuka puasa. Puasa Ramadhan menuntut fisik yang kuat untuk menjalankannya selama sebulan penuh. Oleh karena itu, pola berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang menyehatkan tubuh  serta menghindarkan diri dari yang berefek buruk mutlak diperlukan. Wallahu a’lam bis shawab.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Yuhansyah Nurfauzi
Apoteker dan Peneliti Farmasi. Alumni Madrasah Diniyah Ali Maksum PP Krapyak Yogyakarta, Program Studi S1 Farmasi-Apoteker UGM, Magister Farmasi ITB, dan Doktor Ilmu Farmasi UGM.


Editor: Kendi Setiawan
logo