Suatu ketika, saya pernah mengajar di kelas delapan di sebuah sekolah. Saya datang ke sekolah itu karena diminta untuk berbagi strategi menumbuhkan minat membaca para siswa. Setelah perkenalan, saya bertanya kepada siswa di kelas itu, apakah ada di antara mereka yang pernah membaca buku, selain buku paket pelajaran dan buku Lembar Kerja Siswa (LKS).
Siswa-siswi di kelas itu menjawab, “Tidak.” Jadi, pengalaman menjelajah bacaan buku-buku berkualitas hampir tak pernah terjadi. Ketika membicarakan buku, yang ada dalam benak mereka adalah buku paket pelajaran dan LKS.
Betapa kita memahami satu hal penting yang sangat fundamental dalam pendidikan kita hari ini: bahwa dari berbagai survei dan penelitian, kelemahan anak didik kita adalah tidak hadirnya rasa cinta membaca dalam sikap mental mereka. Artinya, salah satu elemen rendahnya kualitas pendidikan kita terletak pada aspek ini: membaca. Ya, hanya dengan membaca, segala pintu ilmu pengetahuan dan karakter akhlak mereka bisa terbentuk. Bukankah membaca adalah perintah pertama dari Tuhan?
Kelemahan ini sudah diketahui sejak lama. Ketika teknologi televisi pertama kali masuk, tradisi tutur kita yang kuat belum sempat beralih ke tradisi membaca. Tradisi tersebut langsung digempur oleh kemudahan informasi dan hiburan lewat layar TV.
Saat ini, kita bahkan bisa mengatakan bahwa kondisinya bukan semakin membaik. Budaya membaca yang belum juga tumbuh kini bersaing dengan video-video pendek di layar smartphone yang menyita perhatian hingga berjam-jam. Bahayanya, anak-anak kita telah terpapar cukup parah oleh kebiasaan ini.
Tentang kecintaan pada membaca, penelitian andalan yang biasa dijadikan rujukan adalah penelitian dari UNESCO tahun 2012, yang menyebutkan bahwa indeks membaca masyarakat Indonesia adalah 0,001. Artinya, hanya ada satu orang yang terbiasa membaca di antara 1.000 orang.
Penelitian lain yang kerap dipandang penting berasal dari Programme for International Student Assessment (PISA), yang meneliti tingkat kemahiran membaca anak-anak usia SMP. Sejak tes ini diadakan tahun 2000, Indonesia selalu berada di level bawah. Bahkan kerap ada yang mengatakan bahwa anak-anak kita bisa membaca, namun tak paham substansi bacaan tersebut.
Pertama, memang akses anak terhadap buku sulit. Sekolah tidak menyediakan buku dengan banyak pilihan. Namun hal seperti ini semestinya telah terdeteksi sejak lama. Seandainya sekolah, melalui berbagai bantuan dana dari pemerintah, mau menyisihkan sebagian untuk belanja buku-buku bermutu, maka kendala akses bisa teratasi. Hari-hari ini, misalnya, banyak aktivis literasi yang memiliki taman bacaan masyarakat (TBM) dan bisa diajak bekerja sama dalam hal pinjam-meminjam buku.
Kedua, aktivitas membaca bukan menjadi menu utama yang disajikan guru dalam pembelajaran.
Orang dewasa yang tidak terbiasa membaca buku sering kali membela diri dengan berkata, “Saya bukan tipe orang yang suka membaca.” Kalimat ini justru bermasalah. Tidak suka membaca itulah masalah sesungguhnya yang menjangkiti kita. Jadi, tidak suka membaca bukanlah "tipe seseorang", melainkan penyakit mental yang seharusnya diatasi.
Sebenarnya ini sesuatu yang aneh: orang dewasa yang mengatakan tidak suka membaca. Bukankah untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan dan seluk-beluk kehidupan, kita perlu membaca? Tapi membaca yang dimaksud apakah terbatas pada membaca buku? Memang, membaca juga bisa diartikan sebagai mengalami banyak pengalaman. Kendati begitu, pengalaman-pengalaman yang dialami akan memiliki ruh dan makna mendalam ketika diperkaya dengan membaca buku.
Dari aktivitas membaca pulalah otak kita dilatih. Pemikiran kritis dengan cara menggunakan logika yang benar hanya akan diperoleh jika kebiasaan membaca telah menempel pada sikap mental kita. Berbeda dengan hanya menyaksikan video-video atau mendengarkan ceramah, dalam aktivitas membaca, otak diajak berdialog dengan sang penulis buku, atau berdialog dengan buku itu sendiri. Otak akan memiliki layar imajinasi yang kreatif saat membaca buku. Dialog yang terjadi di alam pemikiran itulah yang membuat otak semakin produktif dan mampu peka terhadap banyak peristiwa dan fenomena, tentu, kepekaan yang positif. Dengan sendirinya, saat membaca, otak juga dilatih untuk menganalisis sebuah wacana.
Sementara itu, jika hanya dengan mendengarkan ceramah atau menonton video-video pendek, wacana yang dilihat hanya mampir sekilas, untuk kemudian gampang dilupakan. Pengalaman semacam itu kurang memberikan kesempatan bagi otak untuk berdialog dalam pikiran sendiri. Membaca langsung adalah peristiwa belajar yang aktif, sementara mendengar dan melihat video pendek hanya menerima informasi secara pasif. Mempelajari sebuah wacana dan menerima suatu isu adalah dua hal yang berbeda: yang satu aktif, satunya lagi pasif.
Membaca menjadi semacam aktivitas jalan pagi, melintasi berbagai pengalaman dan renungan reflektif saat melakoninya, melintasi berbagai tempat dan jalan, melihat langit dan awan, menatap begitu banyak binatang yang mematuki alam dengan kodratnya, sambil merenungi makna yang dikandung pada semua peristiwa itu. Sementara mendengar ceramah atau menonton video pendek laksana berjalan di lintasan treadmill yang hanya membantu otot bergerak, namun sedikit mengandung pengalaman berharga.
Aktivitas membaca juga seperti aktivitas baik lainnya: memang perlu dilatih. Dalam kapasitas keterampilan tertentu, orang sering menyebut istilah, “bisa karena biasa.” Ya, aktivitas membaca memang perlu dilatih. Akan semakin baik jika melatihnya sejak belia. Kadang terpikir oleh saya, kenapa ya, sudah diketahui umum bahwa kelemahan mendasar anak-anak kita adalah kurangnya minat dan kecintaan membaca buku, tapi kok sekolah tidak secara serius mengembangkan sikap mental ini menjadi budaya yang dibangun?
Jadi, guru cinta adalah pendidik yang memiliki hati dan jiwa lapang dada. Ia seorang pembelajar sejati yang memerankan diri menjadi teladan dalam sikap bajik. Guru menjadi teladan membaca adalah bentuk kecintaan yang sejati pada murid-muridnya.
Di sini saya berpendapat bahwa jawaban atas pertanyaan: Apakah guru mencintai anak didiknya? secara mendalam, Sebaiknya direnungkan ulang. Cinta, sudah barang tentu, menginspirasi dan mengilhami seseorang untuk berkarya, visioner, dan berkarakter baik.
Selain itu, cinta juga membahagiakan. Jika cara belajar di kelas lebih menunjukkan bahwa siswa harus belajar sementara guru tak lagi belajar, maka suasana pembelajaran jelas bukan gerak jiwa dan raga yang menyenangkan. Dan itu bukan cermin belajar karena cinta.
Editor: Kendi Setiawan
