5 Trik Menguatkan Kesiapan Anak Masuk Hari Pertama Sekolah

5 Trik Menguatkan Kesiapan Anak Masuk Hari Pertama Sekolah

Masuk sekolah pertama kali adalah pengalaman berharga yang akan melekat sepanjang umur, terutama saat memasuki Sekolah Dasar (SD). Bayangan keseruan bermain, mendapatkan teman baru, dan rasa ingin unjuk kepintaran bercampur menjadi semangat yang tak terelakkan.

Kendati demikian, ada saja momen-momen di luar kontrol orang tua yang menyebabkan anak tiba-tiba murung, manja kepada orang tuanya, takut, malas-malasan, dan lain-lain yang intinya terjun semangatnya, tak seperti di awal mendaftar. 

Ada beberapa hal yang menyebabkan anak menjadi kurang teguh pada komitmennya semula. Misalnya, sulit menyesuaikan diri, belum mendapatkan perhatian dari guru, ada temannya yang begitu dominan dan berkuasa, atau cemas karena takut belum bisa menulis dan membaca. Jika sikap semacam itu terdeteksi sedari awal maka harus segera ditangani agar anak tidak sakin jatuh terpuruk dan berdampak pada gairah belajarnya yang bisa pupus. 

Kali ini saya akan membagikan 5 cara praktis agar anak-anak tetap menjaga semangat dan keyakinannya melewati semua tantangan perubahan kondisi dari yang semula bergantung pada ibunya, saat ini harus menerima otoritas sosok lain, gurunya. Dari cara bermain yang monoton dengan teman-teman yang hanya sedikit, menuju komunitas yang lebih besar dan beragam, termasuk bertemu dengan kakak kelas yang jumlahnya banyak. 

1. Tumbuhkan Rasa Percaya Diri
Rasa percaya diri adalah sikap yang sangat penting dan memang perlu ditumbuhkan sejak dini. Agar anak-anak memiliki rasa percaya diri, berikan kepercayaan yang penuh. Jangan sekali-kali meragukan kemampuannya, misalnya, saat mempersiapkan diri berangkat ke sekolah, usahakan tidak semua dilakukan oleh ibu atau pengasuh. Tanyakan kepada ananda, mana yang ia bisa sendiri melakukannya atau hal apa yang perlu dibantu. 

Anak-anak merasa berharga sekaligus mendapatkan kehormatan dari orang tersayang bahwa mereka mempercayai ananda sepenuh hati. Rasa diterima oleh orang tua, kakak, atau pengasuhnya adalah pangkal tunas percaya diri ini akan tumbuh subur.

Setelah itu, berikan penghargaan sewajarnya, seperti, memberikan pujian bahwa sang anak telah belajar mandiri. Tidak lupa ucapkan rasa terima kasih yang tulus kepadanya, bahwa kemandiriannya membuat suasana menjadi lebih ringan sekaligus menggembirakan. 

2. Tidurlah Lebih Cepat
Istirahat yang cukup akan berpengaruh positif kepada anak-anak di esok paginya. Energi yang dihimpun dengan istirahat yang benar membuat emosional lebih stabil dan cenderung menghasilkan kesegaran yang memicu keriangan. Tentu saja ada caranya, mengajak anak tidur lebih cepat tak boleh disertai dengan ancaman.

Semangat menyambut hari perdana sekolah perlu terus digelorakan, agar semua terwujud sempurna, katakanlah, "Nak, besok kita sambut bersama hari yang indah, hari yang akan berkesan untuk kamu dan untuk bunda. Agat esok pagi semua berjalan lancar, mari tidur, Nak"

3. Sambut Bangun Paginya dengan Hati Gembira
Anak-anak merasa senang apabila bangun tidurnya di waktu pagi dibangkitkan dengan lemah lembut, tidak menakut-nakuti anak terlambat, dan tidak terburu-buru.

Kenalkan disiplin melalui dialog yang tenang dan mengesankan, bukan mengatakan, "Ayo, kamu harus cepat supaya tidak terlambat,"

Kalimat intimidatif semacam itu akan sia-sia belaka. Anak-anak, bagaimanapun kondisinya dia hanya akan melakukan sesuatu yang membikin hatinya berbunga. 

4. Sambut Kepulangannya Tanpa Pertanyaan Bertubi-tubi
Pengalaman perdana masuk sekolah merupakan langkah awal anak memulai kenormalan baru. Ia masih diliputi rasa serba baru dan butuh penyesuaian. Diperlukan waktu untuk sampai pada perasaan emosional yang teratur dan stabil. Ia harus mampu berlatih menempatkan diri di antara teman-teman dan gurunya. Kadang-kadang ia menginginkan penghargaan, namun pada kesempatan lain ia juga harus belajar menghargai teman-temanmya. 

Orang tua perlu mengerti untuk tak segera ingin mengetahui bagaimana ia di sekolah. Biarkan cerita itu mengalir otomatis dari sang buah hati. Jika perlu, waktu kepulangan adalah ibarat penyambutan sang raja kecil yang kelak akan memimpin banyak orang. Maka, tawarkanlah apa yang ia perlukan, istirahat, makan siang yang sesuai dengan seleranya, atau minuman segar. 

5. Ajarkanlah Kata 'Maaf' dan 'Terima Kasih'
Sedini mungkin, biasakan anak menggunakan kata 'maaf' atau terima kasih' sesuai situasi yang dihadapi. Jika ada temannya yang menangis atau terjatuh sebab kesenggol, ia harus berani mengatakan 'maaf'.

Sementara itu, dengan siapa pun kalau ia memperoleh sesuatu, bantuan atau pemberian apapun, hendaknya terbiasa menyunggingkan senyum dan berkata, "terima kasih".

Akhirnya, selamat, anak anda adalah calon pemimpin masa depan yang ditunggu-tunggu oleh zaman untuk mengisi gagasan-gagasan yang akan memandu masa depan masyarakat. Tentu saja, anda harus menjadi orang tua yang berkarakter pemimpin yang tegas namun lemah lembut. Disiplin namun tidak saklek. Mengatur namun tidak otoriter. O

rang tua bukanlah seperti seorang insinyur teknik yang bisa mengutak-atik bagian tertentu di dalam mesin yang rusak. Orang tua adalah penyelam sejati samudera hati  anak. Seorang penyelam akan senantiasa sabar mengamati dan tak pernah panik menghadapi gelombang.

Selamat memetik makna.


Editor: Kendi Setiawan
logo