Kenapa Ada Orang Makan Banyak Tapi Tetap Kurus?

Kenapa Ada Orang Makan Banyak Tapi Tetap Kurus?

Fenomena seseorang yang makan dalam jumlah besar namun tetap kurus sering kali menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Banyak yang menganggap hal ini sebagai keberuntungan, bahkan ada yang mencurigai kondisi tersebut sebagai tanda penyakit. Padahal, penjelasan mengenai mengapa seseorang tetap kurus meskipun banyak makan dapat dijelaskan secara ilmiah melalui pendekatan biologi, genetika, metabolisme, dan psikologi.

Tubuh manusia merupakan sistem biologis kompleks yang memiliki kecepatan metabolisme berbeda-beda. Metabolisme adalah serangkaian reaksi kimia dalam tubuh yang mengubah makanan menjadi energi. Kecepatan metabolisme basal (Basal Metabolic Rate/BMR) menunjukkan seberapa cepat tubuh membakar kalori saat istirahat. Beberapa orang memiliki BMR yang tinggi karena faktor genetika, usia, jenis kelamin, dan komposisi tubuh. Menurut McArdle, Katch, dan Katch (2010) dalam buku Exercise Physiology: Nutrition, Energy, and Human Performance, individu dengan massa otot lebih besar cenderung memiliki BMR lebih tinggi karena jaringan otot membakar lebih banyak kalori dibanding lemak, bahkan saat tidak aktif.

Genetika memainkan peran penting dalam menentukan bentuk tubuh dan kecepatan metabolisme. Beberapa orang mewarisi gen yang membuat mereka cenderung memiliki tubuh ramping meskipun asupan kalori mereka tinggi. Penelitian oleh Loos dan Bouchard (2008) dalam Nature Reviews Genetics menunjukkan bahwa variasi genetik, seperti pada gen FTO dan MC4R, berkaitan dengan kecenderungan berat badan seseorang. Orang yang memiliki variasi tertentu pada gen-gen ini mungkin lebih efisien dalam membakar energi atau memiliki respons yang berbeda terhadap rasa lapar dan kenyang.

Selain faktor genetik dan metabolisme, aktivitas fisik juga berpengaruh. Seseorang yang tampaknya “makan banyak tapi kurus” sering kali juga sangat aktif secara fisik tanpa disadari, seperti sering berjalan, berdiri, atau bergerak dalam kesehariannya. Aktivitas seperti ini disebut sebagai NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis). Menurut Levine (2007) dalam The American Journal of Clinical Nutrition, NEAT dapat menyumbang pengeluaran energi harian yang cukup besar dan berperan dalam mengatur berat badan. Orang yang memiliki tingkat NEAT tinggi akan membakar lebih banyak kalori sepanjang hari dibandingkan dengan mereka yang lebih banyak duduk.

Perlu juga dipahami bahwa persepsi "makan banyak" sangat subjektif. Dalam banyak kasus, orang yang dianggap makan banyak mungkin hanya makan dalam porsi besar saat tertentu, tetapi tidak sering. Selain itu, makanan yang mereka konsumsi bisa saja tinggi volume namun rendah kalori, seperti buah-buahan dan sayuran. Dalam ilmu nutrisi, jumlah kalori total yang dikonsumsi jauh lebih penting dibandingkan volume makanan itu sendiri. Seorang ahli gizi, Whitney dan Rolfes (2016) dalam Understanding Nutrition, menjelaskan bahwa makanan yang kaya serat dan air dapat memberikan rasa kenyang dengan kalori rendah, sehingga seseorang tetap merasa kenyang tanpa menambah berat badan secara signifikan.

Ada pula faktor psikologis dan hormonal yang memengaruhi nafsu makan dan penyimpanan energi. Hormon leptin dan ghrelin mengatur rasa kenyang dan lapar dalam tubuh. Ketidakseimbangan hormon ini dapat menyebabkan seseorang makan lebih banyak atau lebih sedikit dari kebutuhannya. Penelitian oleh Friedman dan Halaas (1998) dalam Nature menunjukkan bahwa hormon leptin, yang diproduksi oleh sel lemak, memberi sinyal ke otak untuk mengurangi nafsu makan. Beberapa individu mungkin memiliki sensitivitas leptin yang tinggi, sehingga mereka merasa kenyang lebih cepat dan cenderung tidak makan berlebihan dalam jangka panjang, meskipun sesekali makan dalam porsi besar.

Beberapa kondisi medis juga dapat menyebabkan seseorang tetap kurus meskipun makan banyak. Hipertiroidisme, misalnya, adalah kondisi di mana kelenjar tiroid memproduksi hormon dalam jumlah berlebih, meningkatkan laju metabolisme tubuh secara ekstrem. Gejalanya antara lain berat badan turun meskipun nafsu makan meningkat, jantung berdebar, dan tubuh mudah lelah. Menurut American Thyroid Association (2016), gangguan tiroid memengaruhi lebih dari 12% populasi dunia, dan salah satu tanda utamanya adalah perubahan berat badan yang tidak sesuai dengan asupan makanan.

Selain itu, faktor penyerapan nutrisi juga berpengaruh. Gangguan pencernaan seperti penyakit celiac atau intoleransi laktosa dapat menghambat penyerapan nutrisi dari makanan. Orang dengan gangguan ini mungkin makan dalam jumlah cukup, tetapi tubuhnya tidak dapat mengambil manfaat kalori atau zat gizi secara optimal. Sebagaimana dijelaskan oleh Fasano dan Catassi (2012) dalam New England Journal of Medicine, celiac disease menyebabkan kerusakan pada vili usus halus, yang menyebabkan malabsorpsi dan penurunan berat badan.

Sementara itu, dalam masyarakat sering muncul anggapan bahwa orang kurus otomatis sehat, atau sebaliknya. Padahal, berat badan ideal bukan satu-satunya indikator kesehatan. Beberapa orang kurus bisa saja mengalami kekurangan zat gizi, kadar kolesterol tinggi, atau masalah metabolik lainnya. Oleh karena itu, penting untuk menilai kesehatan secara menyeluruh, bukan hanya dari penampilan fisik. Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2020) menyarankan pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk indeks massa tubuh (BMI), tekanan darah, kadar gula darah, dan profil lipid untuk memperoleh gambaran yang akurat tentang kondisi kesehatan seseorang.

Pola tidur juga berperan dalam pengaturan berat badan. Orang yang tidurnya cukup cenderung memiliki kadar hormon stres kortisol yang stabil, yang penting untuk mengatur metabolisme dan penyimpanan lemak. Kurang tidur dapat menyebabkan peningkatan nafsu makan dan mengganggu metabolisme. Walker (2017) dalam bukunya Why We Sleep menjelaskan bahwa tidur malam yang terganggu bisa mengacaukan hormon pengatur rasa lapar, dan berdampak pada berat badan.

Dalam konteks pendidikan sains, topik ini bisa dijadikan bahan diskusi yang menarik untuk siswa SMP. Dengan pendekatan inkuiri, siswa dapat diajak mengamati, merumuskan pertanyaan, mencari informasi dari sumber ilmiah, dan menarik kesimpulan tentang hubungan antara makanan, metabolisme, dan berat badan. Hal ini akan memperkuat literasi sains mereka serta membentuk sikap kritis terhadap mitos-mitos kesehatan yang banyak beredar di masyarakat.

Dengan demikian, ada banyak faktor yang menentukan kenapa seseorang bisa tetap kurus meskipun makan banyak. Genetika, kecepatan metabolisme, aktivitas fisik, pola makan, kondisi medis, dan faktor psikologis semua saling berperan. Memahami hal ini dari sudut pandang sains tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk sikap saling menghargai terhadap perbedaan kondisi fisik orang lain. Tubuh manusia adalah sistem kompleks yang tak bisa disamaratakan hanya berdasarkan jumlah piring yang kita makan.
 


Editor: Kendi Setiawan
logo