Kita sering mengalami masalah dalam hubungan, entah dengan pasangan, rekan kerja, teman di pergaulan dan lingkungan lainnya yang membuat kita merasa sakit. Namun, jarang kita sadari bahwa hubungan paling menyakitkan tidak selalu datang dari orang yang jelas-jelas jahat.
Hubungan paling menyakitkan terkadang justru datang dari seseorang yang tampak baik-baik saja: tidak pernah berteriak, tidak pernah menghina, dan terlihat rasional di hadapan orang lain. Namun perlahan, hubungan itu membuat seseorang kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri—meragukan ingatannya, menahan perasaannya, dan merasa bersalah atas hampir segala hal.
Menurut laman Geediting.com, riset psikologi menunjukkan sesuatu yang agak berlawanan dengan dugaan banyak orang tentang hubungan yang paling merusak dalam hidup. Hubungan seperti itu jarang melibatkan seseorang yang terang-terangan kejam atau bermusuhan.
Sebaliknya, hubungan tersebut sering melibatkan orang dengan sejumlah sifat tertentu yang secara perlahan mengikis rasa percaya diri, sambil membuat Anda merasa bahwa Andalah yang bermasalah.
Berikut beberapa cirinya:
1. Hangat dan menjauh berselang-seling tanpa bisa diprediksi
Orang yang paling banyak menimbulkan luka biasanya tahu bagaimana membuat Anda selalu berada dalam ketidakpastian.
Suatu hari mereka sangat perhatian dan penuh kasih. Hari berikutnya mereka tiba-tiba menjadi dingin tanpa penjelasan.
Anda pun mulai terus-menerus memantau suasana hati mereka. Hidup seperti berjalan di atas kulit telur menjadi keadaan yang terasa biasa.
Ketidakpastian membuat sistem saraf Anda berubah. Anda menjadi sangat waspada, selalu mencari tanda-tanda bagaimana kondisi emosional mereka.
2. Membuat Anda meragukan persepsi sendiri
Psikolog Joyce Vromen mengatakan bahwa gaslighting bekerja justru karena kekuatan yang dimiliki korban. Dalam hubungan yang menyakitkan, kualitas terbaik Anda sering dimanfaatkan.
Empati Anda dipakai agar mereka terhindar dari tanggung jawab. Kemauan Anda untuk introspeksi justru dijadikan senjata untuk menyalahkan Anda. Mereka bisa menyangkal percakapan yang sebenarnya pernah terjadi, mengubah cerita masa lalu agar terlihat menguntungkan bagi mereka, atau mengatakan bahwa Anda “terlalu sensitif” ketika Anda mengungkapkan rasa sakit.
Lama-kelamaan Anda mulai kehilangan kepercayaan pada ingatan dan penilaian Anda sendiri.
3. Menggunakan kerentanan Anda sebagai senjata
Pada awal hubungan, Anda merasa sangat dipahami. Mereka mendorong Anda untuk berbagi ketakutan, luka masa lalu, dan berbagai rasa tidak aman yang Anda miliki.
Namun di kemudian hari, informasi itu digunakan melawan Anda ketika terjadi konflik. Ketakutan masa kecil yang pernah Anda ceritakan dijadikan bukti bahwa Anda “bermasalah”. Trauma masa lalu Anda dilemparkan kembali sebagai alasan mengapa Anda marah atau terluka pada mereka.
4. Tidak pernah benar-benar meminta maaf
Perhatikan bagaimana seseorang bersikap ketika ia bersalah. Dalam hubungan yang merusak, permintaan maaf biasanya disertai syarat atau pembenaran.
Misalnya:
“Maaf kalau kamu merasa begitu.”
“Maaf, tapi kamu yang membuatku melakukan itu.”
“Maaf kalau kamu salah paham.”
Semua itu sebenarnya pengalihan tanggung jawab yang dibungkus seolah-olah sebagai permintaan maaf.
Penyesalan yang tulus seharusnya mengakui luka yang ditimbulkan dan disertai perubahan sikap. Tanpa itu, pola yang sama akan terus berulang.
5. Mengisolasi Anda secara perlahan
Proses isolasi biasanya terjadi begitu pelan hingga Anda tidak menyadarinya. Mereka mulai menunjukkan ketidaksukaan halus terhadap teman-teman Anda, menciptakan drama sebelum acara keluarga, atau membuat Anda merasa bersalah ketika menghabiskan waktu tanpa mereka.
Lama-kelamaan lingkaran dukungan Anda menyusut.
Ketika Anda mencoba bercerita kepada orang lain, Anda justru merasa seperti sedang mengkhianati pasangan sendiri. Akibatnya, perspektif mereka terasa seperti satu-satunya realitas yang penting.
6. Memanfaatkan kebutuhan Anda akan kepastian
Orang seperti ini sering meninggalkan percakapan tanpa penyelesaian. Pertengkaran berakhir tanpa solusi, dan pembicaraan penting selalu ditunda.
Mereka tahu Anda akan terus mencoba memperbaiki keadaan, mencoba memahami, dan mencari kejelasan. Keinginan Anda untuk menyelesaikan masalah justru membuat Anda terus terjebak dalam hubungan yang perlahan merusak diri Anda.
7. Selalu menjadikan diri mereka sebagai korban
Apa pun masalahnya, entah bagaimana Anda akhirnya justru yang menghibur mereka. Anda menyampaikan keluhan, tetapi tiba-tiba Anda malah harus menenangkan mereka tentang betapa berat hidup mereka.
Rasa sakit Anda menjadi nomor dua dibanding perasaan mereka.
8. Membuat standar yang mustahil dipenuhi
Apa pun yang Anda lakukan selalu terasa tidak cukup benar. Ketika Anda mencoba memenuhi harapan mereka, standar itu berubah lagi.
Anda dianggap terlalu emosional—atau justru terlalu dingin. Terlalu mandiri—atau terlalu bergantung. Standarnya saling bertentangan dan terus berubah.
9. Menarik kasih sayang sebagai bentuk hukuman
Cinta menjadi sesuatu yang bersyarat dan transaksional. Ketika Anda tidak bersikap seperti yang mereka inginkan, kehangatan mereka tiba-tiba hilang.
Diam tanpa komunikasi menjadi senjata utama. Kedekatan emosional maupun fisik dijadikan alat hadiah dan hukuman. Hal ini menciptakan keterikatan yang penuh kecemasan, di mana Anda terus berusaha mendapatkan kembali cinta mereka.
10. Mengubah cerita demi menjaga citra diri
Kisah hubungan Anda seperti diedit terus-menerus. Mereka mengingat diri mereka lebih baik daripada kenyataannya, sementara kontribusi Anda diperkecil atau dilupakan.
Kesalahan mereka berubah menjadi “kesalahpahaman Anda”. Akhirnya, Anda bahkan tidak lagi yakin apa yang sebenarnya terjadi.
Penutup
Riset tentang hubungan menunjukkan bahwa individu dengan kecenderungan narsistik sering memanipulasi pasangannya melalui berbagai cara seperti gaslighting, membuat rasa bersalah, dan mengeksploitasi kerentanan. Akibatnya, pasangan mereka mengalami tekanan emosional yang berat dan kepercayaan diri yang perlahan terkikis.
Bagian paling menyakitkan adalah dampak setelah hubungan itu berakhir. Anda mulai meragukan diri sendiri. Penilaian Anda terasa rusak. Intuisi Anda terasa tidak bisa dipercaya. Anda bertanya-tanya: mengapa saya tidak menyadarinya sejak awal?
Pemulihan berarti belajar mempercayai diri sendiri kembali. Menyadari bahwa empati dan kesediaan Anda untuk bertanggung jawab bukanlah kelemahan—melainkan kualitas baik yang dimanfaatkan oleh seseorang yang tidak mampu menyamai kedewasaan emosional Anda.
Orang dengan sifat-sifat tersebut mungkin tidak akan berubah.
Namun Anda bisa. Anda bisa belajar mengenali pola-pola ini lebih cepat, menetapkan batas yang lebih tegas, dan mempercayai intuisi Anda ketika sesuatu terasa tidak beres.
Hubungan seperti ini sangat menyakitkan karena menyerang inti jati diri seseorang. Namun jati diri itu sebenarnya masih ada; menunggu untuk Anda temukan kembali.
Editor: Kendi Setiawan
