Setiap orang tua, pasti tak mau anaknya kelak menjadi orang yang gagal. Orang tua akan mengerahkan segala daya agar anaknya, nantinya akan menjadi pribadi yang berhasil. Bahkan, sering juga orang tua berpikir anaknya harus jauh melampaui apa yang telah dicapai oleh ayah atau si ibu.
Sayangnya, orang tua kadang menjadi tidak sabaran, mengukur kapasitas anak dengan membandingkan dirinya di masa lalu, atau ada juga orang tua yang ingin sekali anaknya dipandu secara ketat agar di masa depan melanjutkan ‘trah’ keluarga. Misalnya agar anak menjadi akademisi, politisi, dokter atau lainnya.
Apakah tindakan semacam itu salah?
Orang tua yang memimpikan anaknya sukses tentu saja tidak salah. Namun, apabila mempersiapkan anak agar memilki masa depan cerah dengan cara-cara yang dipaksakan jelas keliru. Wajah, perilaku, dan cara berpikir anak mungkin ada kedekatan dengan orang tuanya, namun akan berprofesi apa di kemudian hari, sepenuhnya anak yang akan menentukannya sendiri. Kita harus menyadari bahwa waktu yang kita jalani akan berbeda dengan waktu yang akan dilalui anak. Beda zaman akan berbeda pula perkembangan jiwa dan pikiran.
Sebagai orang tua, masih ingatkah saat memandu anak berlatih berjalan? Kita begitu bersemangat menjadi orang pertama yang mendukung, menyemangati, dan turut dalam kegembiraan mendampingi anak yang sedang berjuang satu demi satu menapakkan langkah dengan kaki gemetar namun mengharukan.
Sambil bertepuk-tepuk, kita mengatakan, "Ayo, Nak, kamu bisa, kamu pasti bisa."
Ketika sang anak jatuh kita terus bersemangat mengatakan, "Tak apa, Nak. Ayo bangun lagi, mama di sini."
Anak yang tengah berjuang mencoba berjalan, seperti tak kenal lelah dan takut. Ia justru sesekali melempar tawanya yang lucu dan menggemaskan. Ibunya lebih gembira lagi melihat anak yang memancarkan kekuatan dan kemauan keras untuk bisa berjalan.
Pada waktu anak berlatih jalan, suasana belajar sedemikian berlangsung natural. Kita tak memerlukan panduan kurikulum dan teori-teori yang memusingkan. Orang tua secara alami, tanpa dibuat-buat membimbing dengan perasaan gembira, penuh cinta, dan tanpa banyak ceramah.
Demikian pula yang dialami anak, saat tertatih-tatih menunjukkan langkah yang masih gemetar, ia tak merasa takut dan khawatir. Latihan berjalan menjadi proses belajar yang begitu alami. Orang tua menyadari sepenuhnya bahwa belajar memang seperti itu, tak perlu terburu-buru, tak butuh banyak khotbah, apalagi drama saling membantah apa kehendak orang tua dan keinginan anak.
Nuansa belajar yang menyenangkan itu perlahan memudar ketika anak mulai diperkenalkan dengan sekolah, ke PAUD kemudian nanti ke SD. Selain orang tua, ada otoritas lain yang turut terlibat dalam proses belajar anak, yakni guru-guru di sekolah. Jika kedua sosok ini, orang tua dan guru tidak sering melakukan komunikasi, antara sekolah dan rumah mempunyai aturan sendiri-sendiri, di sanalah kemudian timbul gap.
Proses belajar anak tak seindah dan menyenangkan sewaktu anak berlatih berjalan atau ketika anak belajar mengucapkan kata pertama yang keluar dari mulutnya. Proses belajar mulai berubah, dari yang dulu orang tua hanya melakukan stimulus melalui sedikit berkata-kata, lebih banyak bertepuk, tertawa, dan banyak kalimat positif yang keluar, kini saat mulai bersekolah semuanya berubah.
Orang tua kebanyakan ceramah, sedikit tertawa, dan kadang tidak sabaran. Saat bangun pagi, adegan membangunkan anak kadang tak mulus, kerap diwarnai dengan teriakan, bentakan, dan intimidasi, "Kalau kamu lelet, nanti terlambat tidak boleh ikut belajar."
Suasana semakin runyam saat anak bertambah usia memasuki sekolah dasar. Proses belajar bukan lagi semacam area bermain yang menyenangkan namun menjadi beban tanggung jawab yang demikian berat untuk dipikul. Tugas dan PR menjadi ranjau emosi, kompetisi untuk menjadi juara kelas, dan seabrek kewajiban yang harus dipenuhi menjadi bom waktu yang akan meletus menjadi kebosanan belajar.
Guru dan orang tua kadang bukan lagi hadir sebagai penyemangat namun penuntut yang berkuasa. Anak-anak menjadi lebih sering dihujani kata-kata alih-alih suara hatinya didengar.
Pengetahuan Deklaratif Vs Prosedural
Pengetahuan deklaratif lebih menekankan pada kapasitas hapalan yang memerlukan pemikiran dangkal. Sistem penilaian dan evaluasi pembelajaran di sekolah umumnya masih pada tahap ini. Soal-soal ujian anak-anak belum pada level menggali ide yang merangsang imajinasi dan pemikiran logis yang mendalam.
Misalnya, soal yang mengharuskan anak-anak menyebutkan faktor-faktor terjadinya banjir, menanyakan berapa hasil operasi perkalian, penjumlahan, pengurangan atau pembagian, atau pertanyaan hapalan seperti urutan planet dalam tata surya kita.
Sementara itu, nilai hasil tes beberapa kali ujian akan diakumulasi menjadi nilai raport. Problemnya, nilai raport ini pada akhirnya digunakan untuk merangking anak-anak dari yang nilainya tertinggi ke rendah. Kemudian orang tua berlomba mengejar agar nilai anaknya menjadi yang terbaik. Makin nahas, anak-anak yang nilainya kurang baik seperti dianggap bodoh. Sistem penilaian dan evaluasi pembelajaran yang seharusnya bermaksud mengetahui sampai di mana keberhasilan proses belajar berubah menjadi ‘palu’ yang memutus seorang anak bodoh atau pintar. Alhasil, proses belajar yang menggairahkan seperti pada saat anak masih bayi menjadi pupus.
Pengetahuan prosedural merupakan cara belajar yang menggali informasi lebih dalam. Pengetahuan prosedural memacu anak-anak untuk berpikir secara mandiri. Soal-soal yang diajukan dalam ujian lebih bersifat menggali gagasan yang terbuka. Artinya, jawabannya memiliki banyak alternatif. Tidak terpaku pada satu jawaban benar yang ada pada kunci jawaban guru.
Misalnya, apa yang mungkin terjadi jika salah satu planet dalam tata surya kita mengalami tumbukan dengan asteroid besar yang menyebabkan massa dan volume planet itu berkurang drastis. Atau, misalnya pertanyaan pengandaian yang lain seperti, seandainya kamu menjadi salah satu kepala negara pada masa perang dunia, usaha apa yang akan kamu lakukan untuk menggalang perdamaian.
Andai saja, sekolah dan rumah mempunyai jembatan komunikasi yang produktif, bersama-sama antara guru dan orang tua sering bertukar pikiran untuk mengembangkan kurikulum dan metode belajar, agar anak-anak tetap dalam nalurinya untuk bahagia dan gembira, maka bukan tidak mungkin proses belajar adalah sebentuk permainan dan petualangan seru yang akan mengasah daya pikir dan imajinasi anak-anak agar menjadi pemikir dan penemu hebat.
Karena sejatinya, menurut Adi W. Gunawan, anak-anak dilahirkan untuk sukses. Namun sering kali orang dewasa yang mengondisikan mereka menjumpai kegagalan.
Editor: Kendi Setiawan
