7 Prinsip Da Vinci untuk Meningkatkan Kreativitas, Menyeimbangkan Tubuh dan Pikiran

7 Prinsip Da Vinci untuk Meningkatkan Kreativitas, Menyeimbangkan Tubuh dan Pikiran

Siapa tak mengenal Leonardo Da Vinci? Mungkin Anda akan langsung teringat pada lukisan Mona Lisa. Betul, lukisan tersebut menjadi salah satu karya agung Leonardo Da Vinci. Ia dikenal sebagai salah satu jenius sepanjang masa yang mewariskan karya-karya bernilai budaya dengan kualitas yang mengabadi. Bahkan, dalam buku The Book of Genius, Tony Buzan dan Raymond Keene menyebutkan dalam penelitiannya dengan sejumlah kategori; Orisinilitas, Versatilitas, Dominasi dalam Bidang yang Digeluti, Universalitas Visi, dan Kekuatan dan Energi, bahwa Leonardo Da Vinci menjadi jenius terbesar sepanjang masa di nomor teratas. 

Leonardo Da Vinci dilahirkan di Anchiano, Republik Firenze, Italia, pada 15 April 1452. Ia adalah anak dari pasangan Piero Fruosino di antonio da Vinci dan Caterina. Ayahnya seorang notaris dan akuntan kaya yang tidak menikahi sang ibu. Pada usia lima tahun, Da Vinci kecil diambil dari ibunya dan dididik di rumah kakeknya yang juga notaris. Karena anak-anak yang lahir di luar nikah tidak boleh menjadi anggota Perkumpulan Notaris, Leonardo tidak boleh mengikuti jejak ayah maupun kakeknya. Sebagai gantinya, Leonardo dikirimkan ke studio tokoh perupa dan pelukis Andrea Del Verrocchio (1435-1488). Salah satu karya yang melegenda dari Verrocchio adalah monumen patung kuda jenderal Colleoni di Venesia.

Bakat kejeniusan Leonardo sudah dapat diketahui sejak kanak-kanak. Dikutip oleh Miichael J.Gelb, dalam buku The Lives of The Artists, karya Giorgio Vasari mencatat bahwa ketika Verrochio melihat kualitas karya muridnya yang amat halus, luar iasa, dan tak terkatakan itu, ia bersumpah, “untuk tidak pernah lagi menyentuh warna."

Keputusan itu diucapkan sebagai kerendehana hati sang guru dalam menaruh hormat yang begitu dalam kepada anak didiknya. Dari pijakan ini, Leonardo berkembang dan menjadi sang maestro. Melukis hanya salah satu kapasitas dari keutuhan daya imajinasinya yang melesat hingga ke ilmu pengetahuan lainnya, matematika, geometri, filsafat, anatomi, dan ilmu geografi.

Michael J. Gelb, seorang peneliti yang menghabiskan banyak waktu untuk menyusuri jejak-jejak pemikiran Leonardo Da Vinci mengatakan, “Dapatkah dasar-dasar pendekatan Leonardo terhadap pengetahuan dan pemupukan kecerdasan itu disarikan dan diterapkan untuk mengilhami dan membimbing kita menuju perwujudan dan potensi kita sendiri sepenuhnya?"

Jawabnya, "Ya. Unsur-unsur dasariah pendekatan Leonardo Da Vinci terhadap pengetahuan dan pemupukan kecerdasan dapat dipelajari, ditiru, dan diterapkan”.

Michael J. Gelb dalam bukunya Menjadi Jenius Seperti Leonardo Da Vinci menyusun 7 prinsip utama.

1. Curiosita 
Curiosita adalah pendekatan rasa ingin tahu yang tak terpuaskan terhadap kehidupan dan upaya tak kenal lelah untuk belajar terus-menerus.

Kita semua lahir dibekali bakat ini. Seperti sebuah energi yang siap memancar, tinggal menekan sakelar rasa ingin tahu, yakni mengajukan pertanyaan-pertanyaan apa saja tentang alam, manusia, bahkan, pertanyaan tentang eksistensi diri.

Sejak lahir, indera bayi disetel untuk menjajaki dan belajar apa saja. Laiknya seorang ilmuwan, bayi bereksperimen dengan apa saja yang ada di lingkungannya. Ketika belum bisa bicara, segal hal disentuh, dimasukkan ke mulutnya bila perlu, ia mengandalkan semua indera yang telah berkembang. Saat sudah bisa berbicara, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang dunia.

Demikian pula pemikir-pemikir besar, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari yang sederhana hingga yang paling rumit dengan intensitas yang sama sepanjang hdupnya. Leonardo Da Vinci merawat rasa ingin tahunya dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Rasa takjub dan rasa ingin tahunya tak gampang terpuaskan. Keluasan dan kedalaman minatnya, dan kemampuannya untuk mempertanyakan pengetahuan yang telah diterima masyarakat tak pernah reda. Curiosita membuat mata air kejeniusannya tak pernah mengering sepanjang kehidupannya di masa dewasa.

2. Dimostrazione 
Dimostrazione merupakan komitmen untuk menguji pengetahuan melalui pengalaman, keuletan, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan. Guru hebat adalah kemampuannya untuk membantu muridnya mau belajar sendiri. Guru-guru terbaik mengetahui bahwa pengalaman adalah sumber kebijaksanaan.

Prinsip Dimiztrazione merupakan kunci untuk memanfaatkan kita dengan sebaik-baiknya. Leonardo Da Vinci memanfaatkan sebesar-besarnya pengalamannya di studio pelukis dan pematung besar Andrea del Verrochio. Sang guru lebih menekankan pengalaman ketimbang teori.

Leonardo belajar menyiapkan kanvas dan cat dan diperkenalkan pada optika perspektif. Rahasia-rahasia teknis pembuatan patung, pencetakkan perunggu, dan pandai emas merupakan bagian dari kurikulumnya. Leonardo didorong belajar melalui pengamatan langsung, struktur tumbuhan serta antomi hewan dan manusia. Dengan cara itu, ia berkembang dengan orientasi praktis yang mendalam.

3. Sensazione 
Sensazione adalah penghalusan pancaindra secara terus-menerus, terutama penglihatan sebagai sarana untuk menghidupkan pengalaman. Apabila Anda berpikir seperti Leonardo, maka akan menggunakan kemampuan, penglihatan, bunyi, sentuhan, cita rasa, dan bebauan, sebagai kunci menuju terbukanya pintu-pintu pengalaman.

Da Vinci mengatakan bahwa rahasia dimoztrazione teruangkap melalui pancaindra, terutama penglhatan (Sensazione). Salah satu moto hidupnya, “Saper Vedere” (pandai-pandailah melihat).

Keagungan Da Vinci berasal dari gabungan pikirannya yang terbuka dan suka bertanya, sikapnya yang mengandalkan pengalaman aktual, ketajaman penglihatannya yang luar biasa.

4. Sfumato 
Sfumato, arti secara harfiahnya adalah “hilang tak berbekas atau mejadi tak pasti”. Jadi, Sfumato adalah kesediaan untuk merangkul ambiguitas, paradoks, dan ketidakpastian.

Sewaktu Anda membangkitkan kemampuan Curiosita, menjajaki kedalaman pengalaman, mempertajam pancaindra, maka anda akan berhadapan dengan yang tak diketahui. Tetap membuka pikiran dalam menghadapi ketidakpastian merupakan satu-satunya rahasia paling ampuh untuk membangkitkan potensi kreatif. Dan prinsip Sfumato adalah kunci bagi keterbukaan yang tak diketahui itu.

5. Arte/Scienza 
Arte/Scienza adalah keseimbangan antara ilmu dan seni, logika dan imajinasi, atau sering pula dikenal dengan pemikiran whole-brain.

Pernahkah Anda akrab dengan riset tentang korteks otak kiri dan kanan? Istilah otak kiri dan otak kanan menjadi populer berkat penelitian seorang pemenang hadiah Nobel, Professor Roger sperry. Ia menemukan bahwa dalam sebagian besar kasus, belahan kiri korteks serebral memproses pemikiran logis dan analitis sementara belahan kanan memproses pemikiran imajinatif dan intiutif.

Leonardo Da Vinci menjaga keseimbangan berpikir dua hal yang berlawanan itu justru bersamaan. Dalam studi-studi sejarah, sejarawan bersepakat Leonardo Da Vinci adalah ilmuwan dan seniman yang mampu menyeimbangkan cara berpikir logis analitis dan imajinatif sekaligus. Rancangan lukisan-lukisan dan pembuatan patung-patung oleh Leonardo dibuat sangat mendetail, amat analitis, dan tepat secara matematis.

6. Corporalita 
Corporalita berarti pemupukan keanggunan, keterampilan dua tangan, kebugaran, dan sikap tubuh yang benar. Apakah stereotip lama masih sering anda dengar, bahwa seorang jenius itu bertubuh kurus, berkacamata, cenderung pendiam, dan bermuka serius?

Tidak bagi sang legenda, Leonardo Da Vinci adalah pribadi yang mementingkan kebugaran sebagai satu bagian integral kapasitas intelektual dan seniman. Mengutip Vasari, Michael J.Gelb mencatat keindahan tubuh Leonardo menakjubkan, keanggunan yang memukau dalam setiap gerak tubuh. Di antara penduduk Florence, Leonardo terkenal memilki tubuh yang atletis dan pandai berkuda. 

7. Connessione 
Connessione adalah pengakuan dan penghargaan terhadap keterhubungan segala sesuatu dan fenomena, pemikiran secara sistem. Apabila kita melemparkan sebutir batu ke kolam yang tenang, timbullah riak gelombang dalam serangkaian lingkaran yang makin lama makin besar.

Munculkan bayangan tersebut di mata pikiran anda; tanyailah diri sendiri bagaimana satu riak memengaruhi yang lain, dan ke mana perginya energi riak-riak itu. Anda akan berpikir seperti sang maestro. Lingkaran yang makin membesar itu merupakan metafora yang baik bagi prinsip Connessione. Leonardo melakukan pengamatan yang mendalam terkait pola-pola dan hubungan-hubungan dunia sekitarnya.

Akhirnya, agar memiliki daya pikir dan imajinasi seperti Leonardo Da Vinci, satu per satu langkah di atas perlu Anda coba.

Langkah-langkah itu juga bisa kita ajarkan pada anak-anak di sekolah maupun di rumah. Selamat melangkah menjadi sang maestro seperti Leonardo Da Vinci.


Editor: Kendi Setiawan
logo