Ketika bicara kecerdasan, biasanya banyak orang langsung mengasosiasikannya pada persoalan matematika, fisika, kimia dan sederet mata pelajaran lain. Sebenarnya, kecerdasan punya banyak jenis, tak hanya logis-matematis. Howard Gardner, psikolog Harvard University, memperkenalkan teori multiple intelligences yang mengubah cara pandang orang dewasa dalam melihat potensi anak.
Menurut Gardner, setiap anak punya kombinasi unik dari sembilan jenis kecerdasan. Jika ada anak tidak menonjol di pelajaran sekolah bukan berarti ia tidak cerdas. Ia mungkin punya kecerdasan berbeda dari yang umumnya distandarkan, misalnya kecerdasan linguistik verbal, visual-spasial, musikal, kinestetik-jasmani, interpersonal, intrapersonal, naturalis, atau eksistensial.
Di Lampung, ada sebuah sekolah dengan sistem belajar yang unik, tepatnya terletak di kabupaten yang terkenal dengan arsitektur dan pariwisata berbasis budaya lokal: Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Tulang Bawang Barat. Sekolah ini memberi ruang bagi murid-muridnya untuk mengoptimalkan kecerdasan kinestetik-jasmani melalui ekstrakurikuler Climbing Club. Sekolah percaya, anak-anak perlu disediakan banyak wadah untuk bertumbuh, tak hanya di ruang kelas.
Mansa Climbing Club menjadi ekstrakurikuler panjat tebing MAN pertama yang ada di Lampung. Perkumpulan ini pertama kali didirikan pada September 2024 oleh H Imam Kahfi, kepala madrasah, dan Wathoni Arzaqi, guru bahasa Inggris MAN 1 Tubaba. Meski usianya baru menginjak satu tahun, prestasi yang sudah diraih patut diberi tepuk tangan.
Pada tanggal 23 Desember 2024 lalu, Rizka Apriani berhasil meraih 2 medali perunggu di kejuaraan provinsi panjat tebing 2024. Tak hanya itu, M. Rifan, salah satu anggota dalam Climbing Club juga meraih juara 1 kategori Lead U-19 Putra pada ajang kompetisi bergengsi Malahayati Orienteering and Climbing Competition (MOCC) 2025 tingkat Provinsi Lampung (22/5/2025).
Di balik kesuksesan itu ada banyak cerita menarik. Wathoni Arzaqi, pelatih sekaligus pembina, mengisahkan suka duka saat mendampingi anak-anak. Ia menuturkan bahwa di awal pendirian, antusias para murid hanya satu-dua bulan pertama. Seiring berjalannya waktu jumlah anggota makin menyusut. Jarak ke tempat latihan yang cukup jauh dan biaya rutin (bensin) yang harus dikeluarkan menjadi kendala utama.
"Jarak dari sekolah ke tempat latihan cukup jauh, sekitar 20 menit. Anak-anak banyak terkendala di situ. Biaya untuk bensin juga. Karena itu butuh niat lebih untuk berangkat. Jadi anak-anak kadang pasang surut,” ujarnya dalam wawancara dengan Arina.id, Minggu (21/9/2025).
Namun, laki-laki yang pernah aktif di Mahasiswa Pecinta Alam (Maharipal) UIN itu tidak putus asa mendorong anak-anak tetap semangat di dunia panjat tebing. Ia yakin ada banyak bakat-bakat terpendam yang membutuhkan wadah Climbing Club. Ini membuatnya tak pernah patah semangat untuk terus menjaga konsistensi latihan.
Seminggu dua kali, tepatnya hari Sabtu dan Minggu sore, Wathoni bersama anak-anak rutin menuju venue panjat tebing yang terletak di Poltek Tunas Garuda, Uluan Nughik. Perjalanan selalu meninggalkan banyak cerita. Kondisi fisik yang tak selalu sehat, cuaca yang tak menentu, dan kendala logistik, sering kali mewarnai pelawatan yang mereka lakukan. Meski sering menarik napas panjang karena situasi yang sulit, senyum-senyum muda yang tetap merekah di tengah berbagai keterbatasan menjadi penyemangat untuk tetap berjuang.
Setibanya di lokasi mereka akan melakukan pemanasan, latihan fisik, lalu latihan inti. Kegiatan ini tidak mengganggu aktivitas ibadah karena dilakukan selepas ashar dan sebelum azan magrib. Anak-anak perempuan yang tergabung di dalamnya juga tetap memegang erat ketentuan agama dengan selalu mengenakan pakain syar’i, tanpa mengurangi kenyamanan dalam beraktivitas.
Wathoni senang menjalani harinya bersama anak-anak. Di Climbing Club ia mendapat beragam pengalaman. Siswa yang bergabung di dalamnya banyak berasal dari keluarga menengah ke bawah dan disisihkan dalam kelas karena tidak menonjol secara akademik. Melalui panjat tebing, ia melihat anak-anak bisa menemukan semangat dan rasa percaya diri. Mereka bisa berangkat ke kota, bertemu banyak orang, dan membawa pulang piala dengan rasa bangga. Ini membuatnya terharu karena anak-anak bisa berkembang dan menemukan tujuan hidupnya.
"Rifan (Juara 1 panjat tebing provinsi) kemampuan akademiknya di bawah teman-temannya tapi ia punya kelebihan lain ternyata di kecerdasan fisik. Ketika menang, Rifan sangat senang, apalagi dari pihak sekolah juga memberikan beasiswa untuknya,” ujar Wathoni.
Bagi Wathoni, panjat tebing bukan sekadar olahraga, tapi ruang untuk aktualisasi diri. Ia memperhatikan ada perubahan besar yang terjadi pada murid ketika hidupnya diisi aktivitas panjat tebing. Perubahan itu membuatnya senang karena tujuan pendidikan yang mungkin tidak ditemukan anak-anak di ruang kelas bisa ditemukan dalam olahraga panjat tebing.
“Ada perubahan yang terjadi setelah mengikuti Climbing Club, apalagi ketika berprestasi. Lebih ke perilaku. Jadi sebelumnya pemalu, dia tidak berani tampil, tapi begitu juara, dikenal banyak orang, sekarang ia percaya diri,” jelasnya.
Meski sempat diragukan oleh beberapa orang tua karena ekstrakulikuler ini terbilang cukup ekstrim, Wathoni dan pihak sekolah berhasil meyakinkan bahwa olahraga ini aman dan bertujuan positif. Salah satu orang tua siswa yang berhasil kami hubungi menceritakan kebahagiaannya ketika melihat anaknya tumbuh lebih baik.
“Olahraga tersebut tergolong baru dikenal di daerah kami, resikonya juga cukup tinggi. Tapi saya akhirnya yakin Climbing Club aman. Saya senang anak saya kini lebih percaya diri dan mentalnya sangat jauh dari sebelumnya karena ikut panjat tebing,” ujar ayah Alfath, salah satu atlet panjat tebing MAN 1.
Orang tua mulai melihat perubahan pada anak-anak mereka: lebih disiplin, berani mengambil keputusan, dan sehat secara fisik. Bahkan, beberapa siswa yang semula pendiam kini menjadi berani berinteraksi dengan orang lain. Kondisi ini membuat hati orang tua merasa senang karena melihat anaknya tumbuh dalam lingkungan yang tepat dan produktif.
Selain mengulik dari sisi pengurus dan orang tua, kami juga mewawancarai salah satu anggota yang aktif tergabung dalam Climbing Club, yaitu M Rivan. Ia kini duduk di kelas XI dan beberapa bulan lalu memenangkan kejuaraan panjat tebing tingkat provinsi.
M Rivan dikenal sebagai siswa pendiam. Selama ini ia tak begitu aktif di kelas karena punya keterbatasan dalam memahami urusan akademik. Ia sering kali merasa minder dan malu karena dianggap tak menonjol dalam bidang apapun. Kondisi ini membuatnya tak begitu banyak mengenal orang lain. Persoalan ekonomi yang melilit keluarganya juga turut membentuk kepribadiannya menjadi sosok yang tidak banyak bicara dan pemalu.
Climb Climbing memberikan M Rivan harapan. Ternyata, jalan hidupnya ada di panjat tebing. Ia merasa menemukan gairah hidup saat kaki dan tangannya bergerak cepat di dinding. Panjat tebing memberikan kebahagiaan dan menuntunnya berjumpa dengan banyak hal.
“Waktu melakukan panjat tebing tidak takut terluka karena ada mental keberanian. Saya senang sekali karena ada pengalaman dan banyak teman di mana-mana,” ujarnya.
Selain berdampak pada orang tua dan siswa, madrasah pun mendapat perhatian dari banyak kalangan. Banyak orang makin mengenal MAN 1 Tubaba sebagai sekolah yang inovatif lewat terobosan pembelajaran yang selalu dikembangkan.
Cerita ini secara tidak langsung menjadi contoh bagaimana pendidikan membutuhkan banyak ruang, termasuk di bidang olahraga. Bukan sekadar berada di kelas, pendidikan sejatinya mesti bergerak fleksibel, mengingat kecerdasan anak-anak yang begitu beragam dan perlu untuk dikembangkan.
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama
Editor: Kendi Setiawan
