Kita semua ingin dicintai dengan tulus. Namun tidak semua orang mudah merasakan cinta, bahkan ketika cinta itu benar-benar ada di depan mata.
Bagi sebagian orang, kata-kata penuh kasih atau perhatian dari orang lain justru terasa kosong, sulit dipercaya, atau menimbulkan kecemasan.
Psikologi menunjukkan bahwa sering kali, akar dari perasaan ini bukan terletak pada hubungan yang kita jalani sekarang, melainkan pada pengalaman masa kecil yang secara diam-diam membentuk cara kita memahami dan menerima cinta.
Diadaptasi dari laman Geediting.com, berikut ini 7 pengalaman masa kecil yang dapat membuat seseorang sulit merasakan cinta di masa dewasa, serta bagaimana kesadaran akan hal ini bisa menjadi langkah awal untuk memulihkan diri.
1. Tumbuh dengan kasih sayang yang bersyarat
Cinta yang bersyarat mengajarkan bahwa kasih sayang adalah sesuatu yang harus “diperoleh.” Kita belajar sejak dini bahwa kita dicintai hanya jika kita berprestasi, berperilaku baik, atau memenuhi harapan orang lain.
Mungkin ada di antara teman kita yang saat kuliah, ibunya hanya menunjukkan kehangatan saat ia berprestasi. Pelukan datang bersama nilai A di rapor, pujian baru muncul setelah saat teman kita menang lomba.
Di luar itu, ibunya bersikap dingin dan kritis. Orang yang mengalami itu berusaha keras untuk selalu “cukup baik,” dan yakin bahwa satu kesalahan kecil bisa membuatnya kehilangan segalanya.
Menurut teori keterikatan (attachment theory) dari psikolog John Bowlby, anak-anak membutuhkan kasih sayang yang konsisten dan tanpa syarat untuk membangun hubungan yang aman.
Ketika cinta terasa bersyarat, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai dirinya tergantung pada pencapaian luar. Saat dewasa, mereka sulit mempercayai bahwa cinta sejati bisa ada tanpa syarat.
Jika kamu sering khawatir kehilangan kasih sayang seseorang, atau merasa harus terus membuktikan diri dalam hubungan, kamu mungkin mengenali pola ini. Kecemasan itu tidak hilang hanya karena seseorang berkata, “Aku mencintaimu.”
2. Pengabaian emosional atau perasaan yang tidak dihargai
Apa yang terjadi ketika kamu menangis saat kecil tapi tak ada yang datang menenangkan? Ketika kamu bercerita dengan antusias tapi hanya disambut dengan sikap acuh?
Pengabaian emosional menciptakan semacam kebekuan batin. Psikolog Jonice Webb, peneliti pengabaian emosional pada anak, menggambarkannya sebagai tumbuh dalam keluarga yang tidak cukup merespons kebutuhan emosimu.
Ketiadaan respons ini meninggalkan luka yang sama dalamnya seperti kata-kata kasar. Anak-anak yang mengalami hal ini belajar memutus hubungan dengan kebutuhan emosionalnya sendiri. Saat seseorang menunjukkan cinta, mereka mungkin bisa memahaminya secara logis, tapi sulit benar-benar merasakannya—di hati, di tubuh mereka.
3. Dipaksa menjadi “pengasuh” di usia terlalu muda
Parentifikasi membalik peran alami dalam keluarga. Alih-alih dirawat, kamu justru menjadi perawat, mengatur emosi orang tua, menjaga adik, atau menjadi penengah keluarga sebelum benar-benar paham cara mengikat tali sepatu.
Penelitian menunjukkan bahwa anak yang “diparentifikasi” sering mengembangkan apa yang disebut psikolog sebagai compulsive caregiving, yakni dorongan kuat untuk selalu merawat orang lain. Nilai diri mereka diukur dari seberapa banyak mereka memberi, bukan dari siapa mereka sebenarnya.
Saat dewasa, mereka sering terjebak dalam hubungan di mana mereka memberi jauh lebih banyak daripada menerima. Masalahnya bukan sekadar kebiasaan memberi, tapi keyakinan mendalam bahwa menerima cinta itu salah, tidak nyaman, bahkan berbahaya.
Kita melihatnya pada orang yang menolak pujian, menolak bantuan meski sedang kesulitan, atau merasa bersalah saat beristirahat sementara orang lain masih bekerja. Cinta yang diberikan tanpa syarat terasa mencurigakan bagi mereka.
4. Kritik dan penilaian keras yang terus-menerus
Tumbuh di bawah tatapan kritis membuat kita melihat diri sendiri dengan cara yang sama kerasnya. Setiap kesalahan terasa besar, setiap kekurangan seolah bukti bahwa kita “cacat” secara bawaan.
Psikologi menunjukkan bahwa pola asuh penuh kritik menciptakan keyakinan irasional yang bertahan hingga dewasa. Pikiran otomatis seperti:
“Aku tidak cukup baik.”
“Aku selalu membuat kesalahan.”
“Tak ada yang bisa mencintaiku kalau tahu siapa aku sebenarnya.”
Ketika seseorang memuji atau menyatakan cinta, suara batin itu langsung muncul: “Mereka pasti bohong. Mereka belum benar-benar tahu aku.”
Kita mungkin ada keponakan, atau anak yang sering kita kritik tentang hal kecil. Sesekali renungkanlah dan bertanya pada diri sendiri: Apakah ini akan penting setahun dari sekarang? Kita berusaha memutus rantai yang saya tahu bisa merusak cara ia merasa dicintai sepanjang hidupnya.
5. Ditinggalkan atau kehilangan seseorang yang penting
Pernahkah kamu memperhatikan bahwa orang yang pernah kehilangan seseorang penting sering menjaga jarak dari orang lain? Itu bukan kebetulan.
Kehilangan di masa kecil, entah karena kematian, perceraian, orang tua pergi, atau ketidakhadiran emosional—bisa menciptakan pola keterikatan yang tidak aman: avoidant (menjauh) atau anxious (cemas).
Anak belajar bahwa orang akan pergi. Bahwa cinta tidak bertahan. Bahwa membuka hati berarti mengundang rasa sakit.
Sebagian anak menjadi sangat cemas, selalu mencari kepastian. Sebagian lainnya jadi dingin dan mandiri, yakin bahwa bergantung pada siapa pun itu berbahaya.
Kedua pola ini membuat mereka sulit menerima cinta. Yang cemas tak pernah cukup diyakinkan, yang menjauh tak pernah membiarkan siapa pun cukup dekat.
6. Menyaksikan hubungan yang tidak sehat
Anak-anak belajar tentang cinta dengan mengamati hubungan di sekitarnya. Jika yang mereka lihat adalah hubungan penuh pertengkaran, manipulasi, atau ketidakbahagiaan, itulah “cetak biru” cinta bagi mereka.
Jika kamu tumbuh di rumah yang penuh konflik atau dingin, kamu mungkin menganggap ketegangan sebagai hal normal.
Kekacauan terasa seperti rumah.
Kita mungkin sering melihat teman-teman yang selalu tertarik pada pasangan yang memperlakukan mereka dengan buruk, hanya karena “drama” itu terasa familiar. Cinta yang sehat dan tenang justru membuat mereka gelisah karena tidak sesuai dengan pola yang tertanam dalam sistem saraf mereka.
7. Dibuat merasa seperti beban
Beberapa anak tumbuh dengan mendengar bahwa mereka terlalu merepotkan, terlalu manja, terlalu mahal, atau terlalu banyak menuntut.
Yang lain tidak mendengar secara langsung, tapi “merasakan” pesan itu dari tatapan lelah, keluhan, atau sikap orang tua yang tampak jenuh dengan keberadaan mereka.
Pesan yang tertanam: Kebutuhanmu adalah beban. Akibatnya, mereka tumbuh dengan rasa malu karena memiliki kebutuhan manusiawi untuk diperhatikan dan dicintai.
Saat dewasa, mereka sulit meminta bantuan atau menerima kasih sayang. Ketika seseorang ingin membantu, mereka berkata “Aku baik-baik saja.” Ketika seseorang mencintai mereka, ada suara kecil di dalam diri yang berkata, “Suatu saat dia akan sadar aku tidak sepadan.”
Mereka mengecilkan diri, berharap jika mereka butuh lebih sedikit, orang akan bertahan lebih lama.
Editor: Kendi Setiawan
