Telaah: Ilmuan Mulai Meragukan Kisah Black Death, Wabah Kematian dalam Puisi Ibnu al-Wardi

Telaah: Ilmuan Mulai Meragukan Kisah Black Death, Wabah Kematian dalam Puisi Ibnu al-Wardi

Arina.id - Salah satu episode mencekam kehidupan manusia di bumi ialah ketika harus menghadapi wabah hitam (black death ) yang melanda penduduk hampir di seluruh benua; Eropa, Afrika hingga Asia. Kisah penyebaran wabah mematikan yang terlampau cepat tersebut diragukan oleh ilmuan masa kini.

Kisah black death yang konon melanda dunia--menyebabkan kematian massal manusia--itu bermula dari sebuah puisi abad pertengahan yang disalahpahami, dianggap sebagai catatan kronik sejarah. Para ahli mulai mengkritisi, bagaimana seorang penipu sastra telah membohongi banyak sejarah selama berabad-abad.

Para peneliti itu menelusuri mitos lama tentang penyebaran cepat wabah tersebut di seluruh Asia, yang ternyata Merujuk pada satu sumber dari abad ke-14. Selama berabad-abad, gambaran wabah yang melanda Jalur Sutra, kemudian menghancurkan kota-kota yang dilaluinya, ternyata didasarkan pada kesalahpahaman cerita berirama atau syair semata, bukan kronik atau catatan sejarah.

Karya yang dimaksud adalah " maqama ", sebuah bentuk sastra Arab yang sering kali menggambarkan perjalanan seorang pengembara. Maqama ini ditulis oleh penyair dan sejarah Arab, Ibnu al-Wardi di Kota Aleppo Suriah pada 1348/1349. Karya tersebut kemudian disalahartikan sebagai kisah saksi mata tentang bagaimana penyakit tersebut menyebar di seluruh benua.

Sebuah cerita yang dianggap sains

Dikutip dari sciencedaily , bukti genetik modern menunjukkan bakteri penyebab black death kemungkinan besar berasal dari Asia Tengah. Sementara beberapa ilmuan yang dipengaruhi oleh narasi al-Wardi, masih berpendapat bahwa wabah tersebut menyebar dari Kirgistan ke Laut Hitam dan Laut Mediterania dalam waktu kurang dari sepuluh tahun. 

Pengembaraan bakteri mematikan melalui tubuh manusia tersebut kemudian memicu badai pandemi dahsyat yang melanda Eurasia Barat dan Afrika Utara pada akhir tahun 1340-an. Penafsiran ini yang kemudian disebut sebagai teori transit cepat (Quick Transit Theory ), sangat bergantung pada pemahaman secara harfiah karya puitis Ibnu al-Wardi.

Akan tetapi studi baru-baru ini menantang gagasan tersebut, dan balik bertanya apakah realistis bahwa bakteri tersebut dapat menempuh jarak lebih dari 3.000 juta hanya dalam waktu beberapa tahun, sampai akhirnya menyebabkan wabah yang meluas antara tahun 1347 dan 1350. 

Apalagi pada masa itu mobilitas masyarakat tidak seperti sekarang, kemudian alat transportasi juga belum secanggih masa kini. Sangat berbeda kasusnya dengan wabah pandemi Covid-19 yang penyebarannya cepat karena akses transportasi antar negara lebih mudah, di sisi lain mobilitas manusia juga sangat masif.

Dinilai sebagai penipuan dan membingungkan peneliti

Dalam maqama -nya, Ibnu al-Wardi menggambarkan wabah tersebut sebagai pengembara nakal yang membawa kematian ke berbagai wilayah selama perjalanan 15 tahun. Kisah ini bermula di luar Tiongkok, bergerak melewati India, Asia Tengah, dan Persia, hingga akhirnya mencapai Laut Hitam, Mediterania, Mesir, dan Syam. 

Berikutnya banyak penulis sejarah pada masa setelah al-Wardi yang kemudian mengutip beberapa bagian dari kisah maqama tersebut. Kemudian banyak pembaca buku-buku sejarah mengira sebagai sebuah fakta.

Menurut peneliti dari Universitas Exeter Inggris, Muhammed Omar ilmuan kandidat PhD dalam Studi Arab dan Islam, dan Nahyan Fancy, pengajar pengobatan Islam, kebingungan tersebut sudah muncul pada abad ke-15 ketika para penulis sejarah Arab, kemudian diamplifikasi oleh para sarjana Eropa -- mulai memperlakukan kisah tersebut sebagai kisah secara harfiah penyebaran Wabah Hitam.

Profesor Fancy menjelaskan: "Semua jalan deskripsi penyebaran wabah yang salah secara faktual mengarah kembali ke satu teks ini. Teks ini seperti berada di tengah jaring laba-laba mitos tentang bagaimana black death menyebar di wilayah tersebut."

Seluruh pergerakan wabah di seluruh Asia dan kedatangannya di Mesir sebelum Suriah selalu dan terus didasarkan pada risalah tunggal karya Ibnu al-Wardi yang tidak didukung oleh kronik-kronik kontemporer lain dan bahkan maqama. Teks tersebut ditulis hanya untuk menyoroti fakta bahwa wabah tersebut menyebar dan menipu manusia. Teks ini tidak dapat diartikan secara harfiah.

Peran budaya Maqama

Genre maqama muncul pada akhir abad ke-10 dan menjadi sangat populer sejak abad ke-12. Selama abad ke-14, para penulis Mamluk di dunia Islam sangat menghargai gaya tulisan ini, dan banyak karya mereka—termasuk yang bertema wabah—masih tersimpan hingga kini di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Kisah-kisah ini dimaksudkan untuk dipentaskan atau dibacakan sekali atau dua kali dalam pementasan.

Risala karya Ibnu al-Wardi adalah salah satu dari setidaknya tiga maqama bertema wabah yang ditulis pada tahun 1348-1349. Kajian ini menyoroti bagaimana teks-teks tersebut menawarkan wawasan, bukan tentang jalur penyebaran penyakit, melainkan tentang bagaimana orang-orang pada masa itu menghadapi kehilangan dan pergolakan yang tak terbayangkan.

Walhasil, mengakui karya Ibnu al-Wardi sebagai sebuah karya fiksi yang memungkinkan para dosen untuk mengalihkan fokus ke epidemi-epidemi sebelumnya yang kurang dikenal, seperti epidemi yang melanda Damaskus pada 1258 dan Kaifeng pada 1232-1233. Para cendekiawan kini dapat mengeksplorasi bagaimana masyarakat mengingat krisis-krisis sebelumnya dan bagaimana ingatan tersebut mempengaruhi pemahaman selanjutnya tentang Wabah Hitam.

Profesor Fancy menambahkan: “Tulisan-tulisan ini dapat membantu kita memahami bagaimana kreativitas mungkin menjadi cara untuk mengendalikan diri dan berfungsi sebagai mekanisme penanggulangan di masa kematian yang meluas ini, serupa dengan cara orang mengembangkan keterampilan kuliner atau keterampilan kreatif baru selama pandemi Covid-19.”

Maqama-maqama ini mungkin tidak memberikan informasi akurat tentang penyebaran black death. Namun, teks-teks ini fenomenal karena membantu kita memahami bagaimana orang-orang pada masa itu hidup dengan krisis yang mengerikan. 


Editor: Muhammad Taufiq
logo