Seperti puncak gunung es saat melihat sederet peristiwa yang membuat miris dan menggetarkan hati kita dari dunia pendidikan. Pemberitaan demi pemberitaan menyesaki gawai kita dengan silih berganti. Suatu saat ada berita seorang anak yang masih berseragam merusak motor pemberian bapaknya karena merek tidak sesuai yang diinginkan. Di kesempatan lain, ada seorang murid korban perundungan nekat membakar sekolah.
Sementara itu, dalam waktu terakhir, kita mendapat kabar seorang murid kelas XII Madrasah Aliyah di Kabupaten Demak, dengan alasan ketidakpuasan terhadap hasil Penilaian Tengah Semester tega membacok gurunya. Di Kabupaten Cilacap, seorang murid SMP tertangkap setelah video perundungan terhadap temannya viral di media sosial. Ia menghajar dengan penuh kemarahan tanpa ampun.
Pada saat hampir bersamaan, terketahui oleh kita, dalam momentum menuju pemilihan umum, pendidikan mudah dipolitisasi. Banyak orang mendaku diri memberikan janji dan iming-iming akan pendidikan—sistem, kesejahteraan pengajar, hingga penyediaan lapangan kerja. Tumpang tindih yang terjadi di sana terasa kompleks dan berkelindan yang akhirnya mempersulit pembacaan akan masalah terjadi.
Bukan mencari siapa yang perlu disalahkan, saya melihat ada gejala mendasar atas dampak dari berkembangnya teknologi digital. Di jenama media sosial, para guru mulai banyak membuat konten yang menggambarkan aktivitas belajar dan mengajar, suasana di sekolah, hingga cerita berhubungan dengan pelajaran di kelas. Ini menarik, menjadi daya gugah pendidikan dan cara adaptasi guru dalam dunia digital.
Pada keberadaan murid, situasi yang sama dapat ditemukan—murid mengisahkan kesenangan belajar, aktivitas di sekolah, dan suasana dengan teman-temannya. Namun demikian, kita juga mendapati konten-konten murid-murid berpakaian sekolah yang dirasa tidak etis. Seperti halnya mengandung ujaran kebencian dan dampak negatif bagi psikologi banyak orang.
Sayangnya, kondisi seperti itu terkadang mudah dimafhumi banyak orang, padahal sebenarnya terjadi silang sengkarut mengenai relasi antara murid dan dunia digital. Dunia digital tetaplah dua mata pisau yang berseberangan. Ada pengaruh negatif yang menancap dalam alam bawah seseorang, yang kemudian berpengaruh pada tindakan di keseharian. Keterhubungan insan pendidikan terhadap media digital semestinya bukan pada persoalan keterbukaan untuk terjun di dalamnya, namun kesadaran diri untuk mengerti batasan-batasan.
Budi Pekerti
Ada satu hal mendasar yang sejatinya menjadi sarana pendidikan menjawab kegelisahan yang terjadi pada perubahan zaman. Tiada lain adalah budi pekerti. Ahli pendidikan, Mochtar Buchori (2000), menyebutkan, “Pendidikan budi pekerti merupakan mata pelajaran yang mengutamakan pendidikan kekuatan konatif, kekuatan membina tekad, dan kepekaan afektif, kepekaan terhadap nilai-nilai.”
Pernyataan itu tetaplah relevan, mengingat bagaimana acapkali dalam laju perkembangan pendidikan, hanya kecerdasan intelektual (IQ) yang menjadi arus utama. Wajiblah kita kemudian memberi babak mengenai kecerdasan emosional (EQ). Kajian penting berhubungan dengan itu adalah buku garapan Daniel Goleman, dalam terjemahan bahasa Indonesia, Emotional Intelligence. Buku itu diterbitkan pertama kali di Indonesia pada 1996 oleh Gramedia Pustaka Utama. Pada Desember 2022 masuk cetak ulang ketiga puluh.
Dua jenis pikiran yang dimiliki manusia dalam manusia adalah kemampuan berpikir dan merasa. Titik letak dari kecerdasan emosional bagi Goleman adalah bagaimana dengan upaya terus berlatih, manusia senantiasa perlu mengolah kemampuan merasa itu. Dalam praktik, bila kecerdasan emosi tidak dilatih dan dikendalikan, dapat membajak kecerdasan intelektual yang berakibat pada tindakan seseorang.
Emosi tentu keliru jika dimaknai sebagai perasaan marah sebagaimana bahasa pada lazimnya. Emosi merujuk pada bahasa Latin, berupa movemer yang berarti “menggerakkan, bergerak”. Cara melatih itu mendasarkan pada sikap tindakan, seperti simpati, berempati, tolong-menolong, kepekaan diri, sadar diri, dan sabar. Pada konteks pendidikan Indonesia, tentu itu dapat didasarkan pada nilai maupun prinsip menjadi seorang warga negara.
Pendidikan dan Dunia Digital
Dunia digital pada satu sisi, memberikan keberlimpahan informasi, namun di sisi lain menjadikan seseorang mendapati rasa fanatis terhahap sesuatu hal. Yang terjadi adalah egosentrisme. Banyak peristiwa dan kejadian yang justru didramatisir para pemengaruh (influencer) dengan tindakan seperti konten pamer kekayaan, konten syarat memupuk kebencian, hingga konten yang memicu terjadinya permusuhan. Sedangkan kita tahu, struktur pendidikan tidak mungkin memberi larangan terhadap para siswa mengonsumsi tayangan seperti itu.
Yang perlu ditekankan adalah bagaimana pendidikan membangun ekosistem dalam keterhubungannya terhadap dunia digital, dengan cara memanfaatkan dengan baik sebagai transformasi pengetahuan yang terjadi pada sekolahan. Bentuk itu misalkan sekolah melatih siswa membuat konten, baik dalam bentuk gambar maupun video yang bermuatan nilai positif, ilmu pengetahuan, dan menjuarakan kolaborasi.
Penekanan pada semangat kolaborasi ini menjadi sarana mendasar untuk memberikan hakikat pendidikan yang tidak didasari pada pendidikan. Artinya, tidak melulu pada kecerdasan intelektual yang kemudian digaungkan. Bahwa yang demikian memberi arti pada tahapan yang dilalui oleh murid-murid dalam menaja prosesnya diberikan ruang selebar mungkin untuk mengembangkan bakat, memacu imajinasi, dan mendayagunakan akal budinya.
Kecerdasan emosi yang berhubungan dengan budi pekerti membutuhkan kesadaran komunal dari banyak pihak. Termasuk di dalamnya juga peranan orang tua di tengah mudahnya menyerahkan anak diasuh dunia digital. Hasrat berada di sana terkadang melupakan kondisi fisik dan mental. Pendidikan adalah pertaruhan generasi saat ini yang disiapkan untuk masa yang mendatang.
Jelas keliru kalau pendidikan hanya menekankan pada keterjerembaban diri pada nilai maupun angka. Posisi kecerdasan emosional perlu menjadi arus utama, yang dalam hakikatnya pernah ditegaskan oleh I Ketut Sumarta melalui esai “Pendidikan yang Memekarkan Rasa” (2000). Jelasnya, “Watak, karenanya memprasyaratkan pentingnya pengendalian diri. Dan, pengendalian diri justru berakar pada kemampuan mengolah rasa secara cerdas.”
Joko Priyono
Fisikawan Partikelir. Penulis “Buku Bersandar pada Sains” (2022)
Editor: Muhammad Zunus
