Sebagai orang tua, pasti kita tak mau kehilangan momen dapat bercengkerama hangat dengan anak-anak. Meski sudah kita buatkan jadwal agar ada waktu untuk duduk bersama, makan bersama, jalan sekeluarga dan lain-lain, terkadang ada saja kendala untuk mengobrol dari hati ke hati yang menyebabkan kita berjarak secara pikiran padahal fisik sedang berdekatan.
Semakin beranjak tumbuh, anak-anak selalu ingin berusaha mandiri dalam hal apa pun. Mereka tak mau lagi dipakaikan kaos kaki dan sepatu, sudah enggan dikancingkan bajunya saat mau berangkat sekolah. Apalagi anak yang sedang menuju remaja, bahkan dipeluk, sering kali memilih menghindar. Kejadian semacam itu wajar saja sebab anak memang ingin menunjukkan tidak lagi bergantung pada sosok lain untuk urusan-urusan yang dipandang sepele.
Problemnya, dalam berkomunikasi pun anak-anak akan memilih tempat yang nyaman untuk mencurahkan segala resah dan rasa kalutnya ketika datang mendera. Jika ia tak menemukan kenyamanan pada orang tuanya, ia akan pergi ke teman-temannya. Jika itu tak memadai ia akan menumpahkannya pada kawan lawan jenis.
Apabila gemuruh dalam batinnya tak juga reda, ia akan bersandar pada teman maya di gadgetnya. Fenomena perundungan, kekerasan, dan kenakalan anak hampir selalu dimulai dari absennya komunikasi yang menghangatkan di lingkungan terdekatnya.
Agar itu tak terjadi, hindari 5 kesalahan orang tua berikut ini ketika ada momentum bercakap-cakap santai dengan anak-anak.
1. Menyepelekan/Meremehkan Bakat Anak
Ada masa ketika anak-anak mampu melakukan aktivitas tertentu yang mengundang rasa bangga di dalam dirinya. Kebanggaan ini kerap ingin sekali diceritakan pada orang tua. Jika mendapati momen semacam itu, hindari respons yang meremehkan baik dengan kata-kata maupun hanya sekadar gestur tubuh.
Misalnya, waktu di sekolah ia membantu temannya memberikan pemahaman matematika, anak senang bisa melakukannya. Lalu ia membagikan kisah ini kepada orang tuanya.
Orang tua sebaiknya mencoba ikut merasakan kebanggaan yang sama, tunjukkan simpati gembira dan hadiahkan kata-kata positif yang mengapresiasi. Bukan malah menganggap, “Ah..sebagai teman, memang sudah kewajibanmu membantu toh....” respons ini tentu saja akan membuat hati menjadi kecil dan sakit. Besok-besok, anak tidak akan lagi datang untuk berbagi rasa gembira yang ia dapatkan saat melakukan hal baik.
Seorang kawan bercerita, anaknya adalah berkebutuhan khusus. Suatu kali anaknya sedang bermain pasang-memasang lego dengan teman mainnya. Dua susunan lego yang menyerupai robot ia tunjukkan pada ayahnya. Anak itu bangga sekali dengan kemampuannya.
Sang ayah, kawan saya tadi, langsung mengatakan, “Kamu hebat sekali Nak, mampu menysusun lego tiu dengan presisi, ayoo...lompat sini, peluk ayah”. Bayangkan, anak yang sehari-hari harus bersusah payah berlatih melompat, seketika itu melompat dengan baik memeluk ayahnya.
Betapa pentingnya turut berbangga atas apa yang dicapai anak adalah suplemen mujarab agar hati anak senantiasa berbunga. Maka, hindari menganggap biasa pada apa yang anak banggakan, apalagi menyepelekannya.
2. Membandingkan dengan Anak Lain
Percakapan dengan anak haruslah kita sambut dengan sepenuh hati. Siapkan telinga sekaligus perasaan menerima segala yang akan meluncur dari dalam benak anak. Orang tua wajib bahagia ketika sang buah hati sedang ingin bersamanya. Jika sibuk, berhentilah sebentar untuk sekadar bertanya dan melakukan kesepakatan waktu lain dengan tidak mengecewakan panggilan pertama kali.
Jadi, upayakan merespons permintaan anak itu tanpa disisipi jeda dengan mengatakan bahwa kita sedang melakukan banyak pekerjaan sehingga anak merasa dicuekin.
Jika kondisi kesibukan kita menjadi alasan untuk tidak hadir membersamai anak-anak, maka usahakan kendali diri agar tidak marah. Selain bernegosiasi untuk meminta waktu lain, menghindari amarah merupakan cara lembut yang akan menenangkan hati anak. Jika kita sulit mengendalikan diri, apa pun bisa menghambur dari mulut kita dalam bentuk ‘omelan’. J
Jika sudah demikian, kadang omelan tadi salah satunya adalah membandingkan anak kita dengan kakaknya, adiknya, atau bahkan dengan anak lain. Jika ini yang terjadi, kondisi anak justru akan murung. Membanding-bandingkan anak adalah contoh bahwa kita tidak menerima dirinya apa adanya.
Bukan saja ketika kendali marah tidak mampu kita rem, membandingkan anak juga kerap terjadi karena orang tua berharap anaknya sempurna. Alih-alih memberikan semangat yang memicu kesadaran bahwa kegagalan adalah bagian dari kesempatan belajar, dengan membandingkan anaknya dengan anak lain malah akan membuat jarak antara anak dan orang tua.
Maka, perasaan gampang tersulut amarah dan harapan agar anka sempurna semestinya kita perlu tinggalkan. Sebab, jika yang muncul adalah membandingkan anak kita dengan anak lainnya, rasa kecewa yang ditimbulkan akan membuat kita jauh dari anak.
3. Menyuruh Tanpa Memberikan Teladan
Anak adalah peniru ulung hal apa saja yang dilakukan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Lebih-lebih, anak sangat memerhatikan perilaku orang tuanya. Maka, orang tua wajib hati-hati menjaga sikap dan perilakunya. Tidak hanya pada perilaku yang bisa anak lihat. Anak-anak juga akan menampilkan hal yang sama dengan orang tua yang tidak menampilkan sikap disiplin di tempat kerjanya.
Jadi, tak boleh hanya menujukkan yang baik-baik di depan anak, namun ketika fisik kita jauh, kita malah berbuat hal yang kurang baik.
Misalnya, sebagai pegawai pelayanan publik, kita sering kurang semangat memberikan pelayanan terbaik. Tindakan semacam ini, meski sang anak tidak menyaksikan langsung, pada hakikatnya ini yang akan ditiru oleh anak-anak.
Atau, misalnya kita menyuruh anak untuk tidak bermain HP, namun kita sebagai orang tua pun rupanya sulit mengendalikan diri bermain HP. Permintaan demikian kepada anak akan menjadi sia-sia belaka.
Oleh sebab itu, menyuruh sesuatu yang kita sendiri tidak meneladankannya, sungguh sulit bisa diterapkan oleh anak.
4. Terburu-buru dan Suka Menuntut
Saya pernah menyaksikan, seorang anak kelas 1 SD sedang kena marah oleh orang tuanya karena sulit sekali diajarkan membaca. Anak itu sudah kelihatan seperti frustrasi. Sayang, ibunya tetap tak mau mengerti, berakhir dengan tangisan anak dan ibunya terus meluncurkan amarahnya.
Entah kenapa, ada orang tua yang demikian menuntut agar anaknya secepat-cepatnya bisa membaca. Juga entah kenapa, sebagian besar sekolah dasar mensyaratkan kemampuan membaca untuk mendaftar. Atau, hal itu bukanlah persyaratan dalam mendaftar, tapi seringkali guru kelasnya seperti menuntut anak kelas satu sudah mahir membaca.
Kemampuan membaca tentu saja penting, namun yang lebih penting adalah semangat belajar yang tak boleh dipadamkan. Kita, guru atau orang tua sepatutnya memahami bahwa kecepatan belajar anak-anak berbeda-beda. Dengan pemahaman ini, kita tak perlu terburu-buru ingin anak lekas pintar. Lebih baik anak-anak tetap menjaga semangat belajarnya ketimbang ia mengalami kebosanan dalam belajar, bukankah itu justru akan semakin fatal?
5. Berlebihan dalam Memuji atau Memarahi
Anak-anak akan merasa gembira jika usahanya melakukan kebaikan mendapatkan pujian. Apresiasi dalam bentuk pujian memang penting untuk memotivasi anak bahwa usahanya diakui dan dihargai. Pujian yang proporsional akan meningkatkan percaya diri anak dan menambah semangat anak untuk memperoleh prestasi.
Kendati begitu, apresiasi tidak boleh bias apalagi berlebihan. Memuji kecantikan anak tidak boleh terlalu sering dilakukan sebab itu mengandung bias pujian. Nanti dikhawatirkan, anak-anak akan memahami tubuhnya sebagai objek perhatian yang berlebihan. Jika memuji anak, fokuslah pada usaha yang dilakukan bukan pada fisik atau sifat anak.
Jika anak sedang bermain lego, pujian itu misalnya, "Kamu hebat Nak, bisa memasang lego-lego itu dengan tepat," Bukan memuji berlebihan, misalnya dengan mengatakan, "Anak cantik memang hebat."
Pada kalimat kedua tidak ada aktivitas apa yang telah mampu diselesaikan anak.
Demikian sebaliknya, jika memuji saja tak boleh berlebihan, maka marah berlebihan adalah tindakan yang akan merugikan dan menghancurkan mental anak.
Editor: Kendi Setiawan
