Penjelasan Ilmiah tentang Orang Gila Jarang Sakit

Penjelasan Ilmiah tentang Orang Gila Jarang Sakit

Pernahkah Anda mendengar ucapan bahwa orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)—yang masyarakat awam menyebutnya sebagai 'orang gila', jarang sakit?

Pernyataan ini mungkin sering terdengar dalam perbincangan sehari-hari, dan menjadi mitos di masyarakat. Bahkan di media sosial, pernah ramai video yang memperlihatkan ODGJ dengan penampilan kumuh dan pakaian acak-acakan, nyatanya tampak sehat secara fisik. Belum lagi pemandangan umum ODGJ yang hidup di jalanan, diterpa hujan dan panas, seperti tidak pernah sakit. 

Namun, apakah hal tersebut benar adanya? 

Untuk memahami fenomena ini, penting lebih dulu memahami apa yang dimaksud dengan 'jarang sakit'. Pada umumnya, orang mengasosiasikan kesehatan dengan ketiadaan gejala fisik seperti demam, flu, atau penyakit kronis.

Akan tetapi, orang dengan gangguan jiwa sering kali mengalami masalah kesehatan yang tidak terlihat secara fisik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu dengan gangguan jiwa sering mengalami malnutrisi, infeksi, atau penyakit kronis akibat kurangnya akses ke layanan kesehatan. Artinya, asumsi bahwa mereka 'jarang sakit' mungkin lebih terkait dengan persepsi masyarakat yang tidak menyadari kondisi kesehatan mereka secara keseluruhan.

Salah satu alasan yang sering dikemukakan adalah orang dengan gangguan jiwa tidak memiliki beban pikiran yang sama seperti orang pada umumnya. Mereka mungkin tidak merasakan tekanan sosial, kekhawatiran ekonomi, atau stres pekerjaan. Dalam dunia medis, stres dikenal sebagai salah satu faktor utama yang dapat melemahkan sistem imun tubuh.

Ketika seseorang mengalami stres kronis, tubuh memproduksi hormon kortisol dalam jumlah besar, yang jika berlebihan dapat menurunkan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, absennya stres yang kompleks pada orang dengan gangguan jiwa mungkin memberikan efek perlindungan terhadap penyakit tertentu.

Faktor lingkungan juga berperan besar dalam fenomena ini. Banyak orang dengan gangguan jiwa yang hidup di jalanan, terpapar berbagai kondisi cuaca ekstrem dan bakteri setiap hari. Dalam jangka panjang, paparan ini dapat meningkatkan adaptasi tubuh terhadap lingkungan yang keras. Ini mirip dengan konsep hygiene hypothesis, yang menyatakan bahwa paparan terhadap kuman sejak dini dapat memperkuat sistem imun.

Namun, paparan ini bukan tanpa risiko. Dalam beberapa kasus, kondisi lingkungan yang buruk juga dapat menyebabkan penyakit serius yang mungkin tidak terdiagnosis atau tidak diobati dengan baik.

Sistem imun adalah salah satu elemen utama dalam menjaga kesehatan tubuh. Beberapa ahli berpendapat bahwa orang dengan gangguan jiwa mungkin memiliki respons imun yang berbeda.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Psychiatric Research menunjukkan bahwa individu dengan gangguan jiwa memiliki kadar imun yang unik, yang mungkin melibatkan tingkat inflamasi yang berbeda dibandingkan populasi umum. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana respons imun ini memengaruhi kerentanan mereka terhadap penyakit.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah kurangnya akses ke layanan kesehatan. Banyak orang dengan gangguan jiwa yang tidak memiliki dukungan keluarga atau sistem sosial yang memadai untuk mendapatkan pengobatan. Akibatnya, penyakit yang mereka alami mungkin tidak terdiagnosis atau terlaporkan. Hal ini dapat memberikan kesan bahwa mereka jarang sakit, padahal kenyataannya mereka mungkin mengalami berbagai penyakit yang tidak terlihat atau tidak terdata.

Pandangan bahwa "orang gila jarang sakit" juga mencerminkan bagaimana masyarakat memandang kesehatan mental. Dalam banyak budaya, kesehatan fisik sering dianggap lebih penting daripada kesehatan mental. Hal ini menciptakan bias dalam cara kita memahami kesehatan secara keseluruhan. Ketika seseorang dengan gangguan jiwa tidak menunjukkan gejala fisik yang mencolok, masyarakat cenderung menganggap mereka sehat, meskipun mungkin mereka mengalami penderitaan mental atau fisik yang tidak terlihat.

Fenomena ini mengajarkan kita untuk lebih memahami hubungan antara kesehatan fisik dan mental. Kita perlu menyadari bahwa kesehatan adalah kondisi holistik yang melibatkan tubuh dan pikiran. Mitos seperti ini juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan kesehatan di masyarakat, khususnya mengenai kesehatan mental. Dengan memahami kebutuhan kesehatan orang dengan gangguan jiwa, kita dapat memberikan dukungan yang lebih baik dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif.

Jadi, apakah benar orang gila jarang sakit? Jawabannya adalah tidak sesederhana itu. Meskipun ada faktor-faktor yang mungkin melindungi mereka dari penyakit tertentu, banyak dari mereka yang mengalami kondisi kesehatan yang kurang terdiagnosis atau tidak diperhatikan.

Penting bagi kita untuk tidak hanya melihat kesehatan dari sudut pandang fisik semata, tetapi juga dari aspek mental dan sosial. Dengan begitu, kita dapat memahami dan membantu semua individu, termasuk mereka yang hidup dengan gangguan jiwa, untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
 


Editor: Kendi Setiawan
logo