Eliminasi Dampak Trauma Masa Kecil dengan Sholat Dhuha

Eliminasi Dampak Trauma Masa Kecil dengan Sholat Dhuha

Trauma masa kecil sering kali menjadi bayangan yang sulit dihilangkan, meninggalkan jejak emosional yang memengaruhi keseharian seseorang. Banyak individu merasa terperangkap oleh luka batin, mencari pelarian atau jalan keluar untuk mendapatkan ketenangan jiwa. 

Dalam perjalanan mencari penyembuhan, salah satu metode yang dapat menjadi penopang adalah melalui pendekatan spiritual. Sholat Dhuha, sebagai salah satu amalan sunnah dalam Islam, tidak hanya menawarkan pahala, tetapi juga menjadi sarana refleksi dan kedamaian batin.

Bagaimana Sholat Dhuha mampu berkontribusi dalam proses eliminasi trauma masa kecil, membuka jalan menuju ketenangan jiwa dan kehidupan yang lebih harmonis? Bagaimana pula penjelasan ilmiah dari sisi kesehatan otak dan syaraf sebagai penguat bahwa ibadah Sholat Dhuha berefek baik untuk kesehatan organ-organ tubuh tersebut?

Ketahanan seseorang untuk bertahan menghadapi trauma masa kecil merupakan salah satu bentuk ketangguhan mental atau resilience. Menurut peneliti neurosains, ketangguhan ini tidak muncul seketika, tetapi perlu dibangun secara bertahap agar mampu menjadi solusi ketika trauma datang tiba-tiba.

Seseorang yang pada masa kecil memiliki pengalaman traumatis mengalami perubahan pada otaknya. Memori terhadap kejadian buruk di otaknya sangat membekas dan dapat membangkitkan kecemasan ketika ada hal baru yang mengingatkannya akan peristiwa tersebut.

Kecemasan yang muncul dari alam bawah sadar terhadap pengalaman traumatis masa lampau dapat memengaruhi kesehatan fisik organ syaraf dan jantung. Orang-orang yang mengalami hal ini memerlukan terapi yang dapat menangkal timbulnya kecemasan agar syaraf di otaknya mampu memberikan respons dengan lebih positif.

Ketika memori seseorang mengingat perlakuan buruk ataupun trauma masa lalu yang didapatkannya maka syaraf-syaraf yang mempercepat denyut jantung akan aktif. Jadi selain merasa cemas, aktivitas jantung dan pernapasannya ikut terpengaruh oleh ketegangan yang dirasakan.

Peristiwa traumatik menekan sistem syaraf di luar kemampuannya untuk mengatur tubuh sehingga tidak seperti kondisi normal. Beberapa kejadian trauma menstimulasi seseorang untuk tidak bisa tenang. Cemas, marah, panik, dan hiperaktivitas dapat muncul pada kondisi seperti itu. Umumnya, seseorang yang mengalami stress pasca trauma tidak menyadari bahwa kesehatan fisiknya juga ikut dipengaruhi oleh kondisi tersebut.

Asetilkolin merupakan salah satu zat kimia alami dalam tubuh seseorang yang terpengaruh dalam rangkaian peristiwa traumatik. Ketika kadarnya dalam tubuh meningkat akibat memori traumatik, asetilkolin dapat memengaruhi aspek fisik berupa peningkatan kecepatan aliran darah, pencernaan yang massif, proses pembuangan zat-zat dari dalam tubuh, hingga fluktuasi gairah seseorang.

Asetilkolin disebut sebagai neurotransmitter atau zat kimia yang menghubungkan syaraf-syaraf sehingga ciri keberadaannya dapat diketahui dari efek kerjanya pada otak dan jantung. Ketika seseorang direkam gelombang otaknya, gambaran peristiwa traumatis memunculkan efek yang berkaitan dengan detak jantung.

Sholat telah diteliti mampu menetralkan kondisi-kondisi tubuh yang dikacaukan oleh rangkaian memori traumatik. Secara umum, shalat meningkatkan relaksasi, meminimalkan kecemasan, dan menurunkan risiko gangguan jantung serta pembuluh darah (Doufesh dkk, 2014, Effect of Muslim Prayer [Salat] on a Electroencephalography and Its Relationship with Autonomic Nervous System Activity, J. Altern Complement Med, 20(7): halaman 558-562).

Secara khusus, salah satu jenis sholat yang telah terbukti memberikan efek baik untuk penanganan trauma masa lalu adalah Sholat Dhuha. Di Indonesia, Sholat Dhuha telah diteliti sebagai bentuk terapi psikoreligius dalam mengatasi berbagai trauma. Setidaknya, trauma akibat bencana alam dan kekerasan pada anak dapat diatasi dengan Sholat Dhuha sebagai salah satu sarana terapinya.

Di Aceh, trauma pascabencana tsunami yang sedemikian membekas dapat diatasi salah satunya dengan merutinkan Sholat Dhuha. Tentu Sholat Dhuha yang diterapkan sebagai psikoterapi trauma diiringi dengan zikir dan ibadah-ibadah lainnya (Pratama, 2023, The Role of Religion in Dealing with Natural Disaster Trauma: A Case Study of The Survivor of Aceh’s Earthquake and Tsunami in 2004, Empirisma, Vol.32.No.2: halaman 287-316).

Di Palembang, trauma pasca kekerasan pada anak juga dapat diatasi dengan merutinkan Sholat Dhuha. Penelitian menunjukkan bahwa Sholat Dhuha yang diiringi dengan tadabur Al-Qur’an dapat mengatasi lamunan, kejenuhan, perasaan ketakutan, tertekan, dan masalah nafsu makan pada anak yang mengalami stres pascatrauma (Taufiqurrahman dkk, 2023, Penerapan Terapi Psikoreligius dalam Mengalami Trauma Kekerasan [Studi Kasus pada Klien “W” di LPKA Palembang], Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, Vol1.No.2: halaman 152-155).

Waktu Dhuha memiliki keistimewaan sebagaimana yang telah tersebut dalam Al-Qur’an. Secara khusus, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan waktu Dhuha dan diikuti dengan waktu malam sebagaimana ayat 1 dan 2 Surat Ad-Dhuha.

وَالضُّحى (1) وَاللَّيْلِ إِذا سَجى (2)

Waḍ-ḍuḥā. Wal-laili iżā sajā

Artinya: "(1) Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), (2) dan demi malam apabila telah sunyi.”

Syaikh Nawawi mengaitkan waktu Dhuha dan malam dengan kondisi kesehatan mental. Waktu Dhuha sebagai isyarat kondisi mental bahagia, sedangkan malam sebagi kondisi sedih dan murung.

“Dikatakan bahwa penyebutan satu waktu di siang hari (dhuha), sedangkan malam dengan keseluruhanya, karena siang adalah waktu bahagia dan istirahat, sedangakan malam adalah waktu kesedihan dan kemurungan. Ini merupakan isyarat bahwa kesedihan dan kegelisahan dunia akan terus-menerus dibandingkan kebahagiannya. Karena dhuha hanya satu waktu sedangakan malam ada beberapa waktu.” (Muhammad Nawawi al-Jawi, At-Tafsîrul Munîr li Ma’âlimit Tanzîl, [Beirut, Darul Fikr: 1425 H/2006 M], juz II halaman 639).

Pada orang yang mengalami stres pascatrauma, ada ketidaknormalan kondisi tubuh. Seharusnya, ketika waktu Duha mentalnya bisa gembira dan tubuh menjadi rileks, tetapi karena perubahan kondisi akibat tekanan kecemasan yang berlarut-larut, terjadi ketegangan mental dan seolah tubuhnya tidak bisa istirahat.

Ketika seseorang melaksanakan Sh0lat Sunnah Dhuha pada waktunya, maka ada proses istirahat di dalam tubuhnya untuk mengeliminasi dampak buruk dari trauma masa lalu yang semula memicu kecemasan. Penelitian mengungkapkan bahwa stres pascatrauma sering dikaitkan dengan kejadian penyakit jantung yang disebut sebagai sindrom koroner akut (Vaccarino dkk, 2013, Post-Traumatic Stress Disorder and Incidence of Coronary Heart Disease: A Twin Study, Journal of The American College of Cardiology, Vol.62.No.11: halaman 970-978).

Uniknya, waktu Dhuha yang terbentang sejak matahari naik sepenggalah hingga waktu Duhur di rentang pagi sampai siang memang menjadi waktu yang paling sering terjadinya serangan sidrom koroner akut (Shaw dkk, 2001, Diurnal variation in endothelium-dependent vasodilatation is not apparent in coronary artery disease, Circulation, Vol.103.No.6).  

Dengan demikian apabila seseorang yang memiliki riwayat stress pasca trauma merutinkan Sholat Dhuha, maka dapat diharapkan resikonya terkena sindrom koroner akut akan menurun sehingga jantungnya lebih sehat.

Dengan efek positif untuk kesehatan mental dan fisik, selayaknya kaum muslimin yang mengalami gangguan pasca trauma merutinkan Sholat Dhuha. Di balik rahasia waktu Dhuha, ternyata tersembunyi berbagai manfaat kesehatan yang bermanfaat untuk menghilangkan dampak trauma. Wallahu a’lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Yuhansyah Nurfauzi
Apoteker dan Peneliti Farmasi. Alumni Madrasah Diniyah Ali Maksum PP Krapyak Yogyakarta, Program Studi S1 Farmasi-Apoteker UGM, Magister Farmasi ITB, dan Doktor Ilmu Farmasi UGM.


Editor: Kendi Setiawan
logo