Penyakit hipertensi kerap kali dianggap sebagai “bom waktu” kesehatan. Tekanan darah tinggi yang tak terkontrol bisa memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal.
Di Indonesia, menurut data Kementerian Kesehatan 2018, lebih dari 34% penduduk hidup dengan hipertensi. Tak heran bila penyakit ini sering dijuluki sebagai “silent killer”.
Namun, riset berjudul Fourshing Pasien Hipertensi: Adakah Peranan Sosial di Dalamnya yang dilakukan Okik Yoga Pratama, Amherstia Pasca Rina, IGAA Noviekayati dan SRK Syaharani dari Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menghadirkan sudut pandang yang segar: Kunci untuk tetap bahagia meski hidup dengan hipertensi ternyata tidak hanya ada pada obat-obatan atau pola makan sehat, tetapi juga pada kualitas relasi sosial kita.
Apa itu flourishing?
Dalam dunia psikologi, ada konsep bernama flourishing yakni kondisi ketika seseorang merasa hidupnya bermakna, sehat secara fisik dan mental, punya tujuan, dan mampu menjalin hubungan positif dengan orang lain. Orang yang flourishing cenderung lebih bahagia, lebih resilien menghadapi stres, dan mampu melihat sisi positif dari hidupnya.
Sayangnya, penderita hipertensi sering kali justru berada di posisi sebaliknya: mudah stres, lebih sensitif, dan cenderung menarik diri dari lingkungan. Inilah yang membuat kondisi mereka semakin rentan, bukan hanya secara fisik, tapi juga mental.
Penelitian di Pasuruan
Penelitian yang dilakukan pada 101 pasien hipertensi di Klinik Pratama Polres Kota Pasuruan menemukan hasil menarik: semakin baik kualitas relasi sosial seseorang, semakin tinggi pula tingkat flourishing yang dimilikinya.
Artinya, dukungan dari keluarga, pasangan, sahabat, atau komunitas benar-benar punya dampak nyata. Pasien yang merasa diperhatikan, dicintai, dan ditemani cenderung lebih mampu menerima kondisi kesehatannya, menjalani pengobatan dengan disiplin, serta tetap menjaga semangat hidup.
“Relasi sosial tidak hanya membantu mengurangi stres, tetapi juga memberi makna baru dalam menjalani hidup dengan penyakit kronis,” ungkap tim peneliti.
Bagaimana relasi sosial membantu?
Bayangkan dua orang dengan kondisi hipertensi yang sama. Orang pertama menjalani hari-harinya sendirian, tanpa banyak interaksi. Orangkedua memiliki pasangan yang selalu mendukung, anak-anak yang memberi semangat, atau teman yang bersedia mendengar keluh kesahnya.
Hasilnya jelas berbeda. Mereka yang punya relasi sosial yang kuat merasa tidak sendirian, lebih termotivasi untuk menjaga kesehatan, bahkan lebih optimis dalam memandang masa depan.
Psikolog positif menjelaskan bahwa dukungan emosional semacam ini bisa menurunkan tingkat stres, memperbaiki mood, hingga berdampak pada kesehatan fisik. Jadi, interaksi sosial ternyata sama pentingnya dengan olahraga atau diet sehat.
Tips membangun relasi sosial yang menyehatkan
Bagi Anda atau orang terdekat yang hidup dengan hipertensi, berikut beberapa cara sederhana untuk memperkuat ikatan sosial:
- Luangkan waktu berkualitas bersama keluarga. Tidak perlu hal besar, makan malam bersama atau sekadar ngobrol sore sudah cukup
- Aktif di komunitas. Entah itu kelompok pengajian, klub olahraga ringan, atau komunitas hobi, berinteraksi dengan orang lain bisa memberi energi positif
- Jangan ragu meminta bantuan. Terkadang, sekadar meminta ditemani ke dokter sudah bisa mengurangi rasa cemas
- Jadi pendengar yang baik. Relasi sosial sehat adalah hubungan dua arah. Mendengarkan orang lain juga akan memperkuat ikatan emosional.
Hidup sehat bukan sekadar soal obat
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa kesehatan bukan hanya urusan fisik, tapi juga mental dan sosial. Untuk penderita hipertensi, menjaga pola makan dan rutin berolahraga memang penting, tetapi sama pentingnya adalah membangun hubungan yang hangat dengan orang-orang terdekat.
Pada akhirnya, kesehatan yang optimal lahir dari keseimbangan. Jadi, jika Anda atau orang terdekat tengah berjuang melawan hipertensi, jangan hanya fokus pada angka tekanan darah di layar tensimeter.
Perhatikan juga kualitas interaksi sehari-hari. Bisa jadi, senyum dan pelukan dari orang terdekat adalah “obat” yang tak kalah manjur.
Editor: Kendi Setiawan
