3 Unsur Utama Konsep Diri, Cara agar Anak Berprestasi

3 Unsur Utama Konsep Diri, Cara agar Anak Berprestasi

Apakah kita, sebagai orang tua, telah benar-benar fokus untuk memberikan pendidikan mental yang terbaik bagi anak?

Ketika buah hati masih kanak-kanak, gembira sekali mereka mengutarakan cita-citanya yang kerap berubah setiap saat. Anak saya yang berusia lima tahun misalnya, baru saja ia ingin menjadi pramugari, esoknya ia bermimpi menjadi putri Arkadia, pada waktu yang lain dirinya berimajinasi menjadi penjelajah hutan. Ada-ada saja ya, cericau anak kecil yang membuat hati kita berbunga. 

Demikianlah anak-anak, ia berhak memiliki sepenuhnya dunianya sendiri. Kita sebagai orang dewasa tak patut mencampuri apa yang berlabuh dalam layar imajinasi di mereka. Alih-alih membantu "meliarkan" daya imajinasi itu, kita malah meredupkannya jika tak hati-hati memasukkan keinginan pribadi sebagai orang tua. 

Jadi, apakah orang tua tidak boleh mengarahkan mimpi agar mendekati sukses kelak? Tentu saja boleh, hanya saja kita memerlukan sikap proporsional agar anak kita tetap menyalakan terus mimpi-mimpinya. 

Anak adalah anak, ia bukan miniatur orang dewasa, demikian ditulis oleh Thoha Faz. Tugas orang tua bukan menjadikan mereka seperti kita, orang tuanya. Tak perlu mendikte apa yang harus dilakukan anak, mengatur impiannya, dan memberikan rel yang harus mereka tempuh. Kuatkan saja mentalnya, pelihara imajinasinya, dan tumbuhkan kemauannya untuk inisiatif melakukan hal-hal produktif. 

Setiap orang bisa berhasil. Ini tergantung pada kebiasaan yang ia bangun dalam kehidupannya. Tidak butuh hal besar untuk menjadi orang besar. James Clear mengatakan dalam bukunya Atomic Habit bahwa keuletan pada aktivitas produktiflah yang akan mengantarkan orang pada sukses besar. Ibarat sebuah fenomena gempa bumi. Bencana dahsyat yang menggetarkan bumi itu terjadi akibat pergerakan tanah yang kecil, sedikit demi sedikit hingga mencapai puncak momentum goncangan besarnya. Begitu pula kebiasaan baik yang dibangun sejak dini, pada gilirannya akan menemukan masa di mana ia akan menjelma menjadi prestasi besar yang datang. 

Maka, kepada anak-anak kita, yang perlu dibangun adalah membangun fondasi yang kokoh dan keterampilan mengolah emosi di dalam diri. Salah satu harta karun berharga yang seharusnya kita investasikan dalam tabungan mental anak-anak adalah mengenalkannya pada konsep diri. Jika anak-anak tak memiliki konsep diri yang salah,pada waktu usia dewasanya nanti akan mengalami kesulitan yang berlipat.

Berikut ini adalah tiga komponen utama membangun konsep diri untuk anak-anak

1. Diri Ideal (Self Ideal)
Anda menjadi pribadi yang sekarang, adalah hasil rumusan diri yang ideal ketika anda memandang tokoh panutan yang anda kagumi. Keseluruhan proses kehidupan yang anda jalani, ujung-ujungnya bermuara pada versi terbaik diri anda yang menduplikasi nilai-nilai terbaik dari tokoh-tokoh idola yang pernah anda dengar, baca, dan saksikan sendiri perannya. Salah memilih sosok ideal akan berdampak pada berbeloknya tujuan akhir. 

Pribadi-pribadi yang jujur, berani, tegas, berintegritas, sederhana, dan sejumlah nilai-nilai kebaikan lainnya yang tercermin dalam visi hidup seseorang seperti menjadi peta jalan kehidupan anda sendiri. Perjumpaan dengan banyak tokoh melalui membaca, mendengar, dan menyaksikan langsung merupakan cara kita menelusuri relung jiwa mendapatkan jati diri. 

Kepada anak, membacakan dongeng-dongeng kepahlawanan sangat baik. Selain mengembangkan imajinasinya, kisah kepahlawanan membangkitkan bentuk diri yang ideal bagi kehidupannya. Selain dongeng-dongeng yang bersifat fiksi, membelikan mereka buku-biku biografi tokoh-tokoh berintegritas juga usaha yang istimewa agar anak menemukenali konsep diri yang ideal. 

Berikan apresiasi yang tulus saat anak-anak memiliki pergaulan yang luas. Berikan dorongan positif soal kepemimpinan. Leadership bukan saja soal memiliki banyak pengikut. Paling utama adalah kepemimpinan gagasan. Latih anak-anak kita membangun gagasan yang brilian agar mampu menjadi problem solver di lingkaran pergaulannya. 

2. Citra diri (Self Image)
Adi W. Gunawan dalam buku Born to be Genius menyebutkan citra diri adalah cara anda memandang diri sendiri dan berpikir mengenai diri anda pada waktu sekarang ini. Citra diri juga dikenal sebagai "cermin diri". Setiap perbuatan yang kita tampilkan adalah gambar yang muncul dalam cermin diri. Cermin itu dibentuk oleh proses belajar yang tiada berhenti, belajar sepanjang hayat. 

Sebagai contoh, jika anda adalah tipe orang tua yang menginginkan anak selalu mendapatkan nilai ideal, maka ketika anak memperoleh nilai buruk akan merasa gagal. Jika itu terjadi, perasaan gagal akan menjadi cermin diri yang sulit terhapus.

Anak akan terus memaksakan diri tanpa mengetahui cara yang benar untuk mewujudkannya. Bukannya menambah kerja keras, bisa-bisa cara curang menjadi jalan yang dianggap wajar. Seseorang dengan cermin diri yang kuat akan menatap kegagalan sebagai hal biasa yang tak perlu diratapi. Latihlah anak-anak kita membangun cermin diri yang optimistis, tidak gampang tersinggung, dan hormat pada keberhasilan orang lain. 

3. Harga Diri (Self Esteem)
Komponen ketiga dari konsep diri adalah harga diri. Menurut para ahli, harga diri inilah yang paling menentukan keberhasilan hidup. Harga diri menjadi elemen yang mewakili kepribadian kita.

Harga diri terkait bagaimana anda mencintai diri sendiri, menerima diri sepenuh hati, dan memandang hormat pada diri sendiri. Harga diri berbeda dengan sikap menyombongkan diri. Harga diri bertunas pada nilai-nilai dan prinsip hidup yang ajeg, kokoh pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Harga diri ditentukan oleh gabungan diri ideal (self ideal) dan citra diri (self image). 

Ajari anak-anak kita dengan memahami pentingnya harga diri yang positif.

Caranya? Terus-meneruslah bangun dialog dua arah yang saling mengisi. Tempatkan ia pada posisi sebagai sahabat agar kita tak melulu menggurui. Dengarkan ide-idenya, hargai pendapatnya, dan berilah pertanyaan yang membangun juga menantang. Saat itu berlangsung mengalir dalam ikatan yang harmoni, selamat, anak anda akan senantiasa menjemput prestasinya dengan mudah.

Selamat memetik makna.
 


Editor: Kendi Setiawan
logo