Ignas Kleden (1948-2024): Bahasa, Sastra, Buku

Ignas Kleden (1948-2024): Bahasa, Sastra, Buku

Buku lawas terbitan LP3ES dicetak dengan kertas buram itu masih mungkin ditemukan di pasar loak atau perpustakaan. Buku menjadi bukti dalam biografi keintelektualan. Kini, buku berjudul Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (1987) menjadi warisan penting dari Ignas Kleden (1948-2024). Tema-tema besar digarap Ignas Kleden. Ia rajin menulis tentang keilmuan, kebudayaan, politik, sastra, perbukuan, dan lain-lain.

Ia pamit, 22 Januari 2024, saat Indonesia sedang mengalami gegeran bahasa. Di arus menuju hajatan demokrasi, kaum politik dan para pemuja menghasilkan atau menggunakan beragam kata. Di lakon politik, kata-kata itu menghina, mengelabui, menghancurkan, mengutuk, mengeramatkan, dan mengaburkan. Di acara debat-debat, kata-kata makin menimbulkan guncangan dan keributan.

Ignas Kleden tak ikut bersikap atas bahasa (Indonesia) dan demokratisasi. Kita masih bisa mengenang gagasan lama saat ia menulis masalah bahasa berlatar Orde Baru. Ignas Kleden (1978) menjelaskan: “Apabila kata tidak mampu lagi menimbulkan reaksi semantik yang dikehendaki, maka suatu kata tidak akan mampu lagi menggerakkan seseorang melakukan apa yang dikehendaki oleh pembicara, instruksi menjadi tanpa konsekuensi, komunikasi menjadi mustahil, hukum tinggal deretan kata-kata hampa, dan seorang pejabat tak akan mampu lagi memerintah dan mengatur bawahan.”

Pada masa lalu, kata menentukan nasib Orde Baru. Nasib ingin ditegakkan elite politik. Nasib dalam serangan kritik oleh para intelektual, seniman, dan ulama. Perbedaan misi dalam bersikap atas kata mengakibatkan demokratisasi di Indonesia mengalami “penjinakkan”, “sensor”, dan “penghalusan”. Ingatan kita tentang beragam kebijakan rezim Orde Baru memerlukan “eufimisme bahasa”. Siasat itu masih berlaku sampai sekarang tapi bertambah riuh akibat sengketa kata oleh kaum politik demi menang dalam hajatan demokrasi: 2024.

Ignas Kleden (2005) pernah mengomentari masalah pemilu: “Setelah berlangsungnya Pemilu 2004, Indonesia memang dianggap berhasil menyelenggarakan pemilu yang demokratis dan menjadi negara demokratis ketiga terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat dan Indonesia.” Ia bakal mengoreksi bila melihat dan mengamati hajatan demokrasi mutakhir. Serbuan bahasa dan kuasa teknologi memberi akibat-akibat mengejutkan dalam pemahaman demokrasi. Indonesia tetap negara besar dalam anutan demokrasi meski mengalami pasang-surut pemikiran (politik) dan pemaknaan (sosial-kultural).

Buku mendokumentasi kecermatan membaca Indonesia terbit berjudul Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia (2001). Ia menanggapi kesulitan dan kegagalan berbahasa elite politik di Indonesia. Pada saat mengomentari politik, ia mengajukan perbandingan dengan puisi. Ignas Kleden menjelaskan: “Seperti pada puisi, retorik juga mengandaikan penghayatan dan penguasaan suatu masalah atau pengalaman secara intens dan meresap, sehingga dari penghayatan tersebut ide, gagasan, atau pengalaman akan menjelma menjadi sesuatu yang lain….” Di politik Indonesia, ia jarang menemukan kesanggupan pejabat atau politisi dalam menggerakkan bahasa untuk capaian misi.

Di situasi berbeda, ia mengungkapkan: “Puisi dan politik berjumpa dalam serba kemungkinan.” Ignas Kleden pun tak melulu sibuk menulis politik. Di kerja keintelektualan, ia menggarap esai-esai panjang mengenai prosa dan puisi di Indonesia. Ulasan apik untuk puisi-puisi gubahan Joko Pinurbo dibuat oleh Ignas Kleden, menandakan ketekunan dalam bersastra, sejak puluhan tahun lalu. Pembuktian mewujud melalui buku berjudul Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (2004). Kita berhak meresmikan Ignas Kleden sebagai kritikus sastra meski ia condong diakrabi sebagai pemikir di ranah ilmu-ilmu sosial dan kebudayaan.

Pada 1974, ia mengajukan sekian perkara dan memberi jawab: “Haruskah suatu kesusastraan menjadi cermin keadaan masyarakat di mana dia dilahirkan? Jawabannya menurut hemat saya adalah tidak harus.” Ia berusaha memberi sikap kritis atas perkembangan “sosiologi sastra” di Indonesia. Ilmu-ilmu sosial sedang berkembang di Indonesia sempat bersinggungan dengan sastra. Ia memperingatkan: “Sebenarnya, keinginan kuat untuk menjadikan sastra sebagai ilmu-bantu sosiologi hanya berakibat konyol.” Kalimat itu bisa “diralat” bila kita membaca sodoran buku mengenai sosiologi sastra diajukan Sapardi Djoko Damono dan Faruk. Pada masa 1970-an, Ignas Kleden mungkin melakukan pengamatan “sekadar” tanpa berpikir kesungguhan pengajaran “sosiologi sastra” di universitas-universitas.

Sejak masa 1970-an sampai abad XXI, Ignas Kleden rajin menulis di koran, majalah, dan jurnal. Ia sadar tulisan-tulisan menemui pembaca dapat menghasilkan beragam dampak. Tulisan-tulisan memungkinkan pengamatan dan pengalaman diungkapkan tanpa dicap “asing” oleh pembaca dalam kesadaran ilmu dan situasi hidup di Indonesia. Di suguhan tulisan, Ignas Kleden mahir menggunakan ragam bahasa ilmiah tanpa kikuk menggerakkan bahasa puitis. Ia menjadi sosok membuat kita mengerti kenikmatan menempuh jalan ilmu-ilmu sosial dan kesusastraan.

Keinginan terlibat percakapan bersama publik tak selesai dalam publikasi tulisan-tulisan di koran, majalah, dan jurnal. Ratusan tulisan dipilih dan dipilah terbit menjadi buku-buku. Sejak mula, biografi keintelektualan dibentuk sebagai pembaca buku disempurnakan menulis buku-buku. Ia berada dalam keluarga dan pergaulan bergelimang buku.

Di pergolakan politik dan kejatuhan rezim Orde Baru (1998), Ignas Kleden (1999) kecewa dan prihatin untuk perbukuan di Indonesia. Ia memastikan peradaban dan demokratisasi berpijak buku. Pamrih memajukan pendidikan atau raihan janji-janji pembangunan nasional mengharuskan keaksaraan. Di situ, buku ikut menjadi penentu.

Kritik diajukan: “Kalau angka melek-huruf demikian tingginya sementara jumlah buku yang terbit demikian sedikit, maka besar kemungkinan bahwa melek-huruf yang dimaksud adalah jenis melek-huruf secara teknis, tetapi pastilah bukan melek-huruf secara budaya.” Ia mungkin mengutuk rezim Orde Baru gagal dalam menjadikan Indonesia girang buku. Negara besar dengan ratusan juta penduduk justru “minder” dan “rapuh” akibat abai buku.

Pendapat dan kritik masa 1990-an belum sempat mendapat ralat saat Ignas Kleden mengalami zaman makin menepikan buku. Pendidikan, politik, keluarga, dan agenda-agenda besar di Indonesia tak sanggup “bertahan” mementingkan buku saat zaman condong bergawai. Buku dalam pengertian cetak “tersungkur” tanpa janji keselamatan dan kelanggengan.

Dulu, Ignas Kleden berpendapat: “Buku dapat dipandang sebagai produk budaya, benda yang menjadi perwujudan fisik dari pikiran, perasaan, dan pengalaman manusia.” Kita mengandaikan ia sedang memasalahkan buku cetak melibatkan kerja penerbit, percetakan, toko buku, dan perpustakaan. Pendapat susulan: “Buku dapat dilihat sebagai bagian dari suatu tingkah laku budaya, dipandang dari sudut pembaca maupun penulis.” Perubahan terlalu cepat terjadi sebelum kita rampung memikirkan pendapat dan kritik disodorkan Ignas Kleden.

Kini, ia meninggalkan kita saat demokrasi amburadul dan perbukuan (cetak) bertambah memprihatinkan. Ia telah “beribadah” dengan menulis esai-esai dan menerbitkan buku. Di hadapan buku-buku, kita mengenang dan berdoa sambil memikirkan nasib Indonesia berkaitan bahasa, sastra, dan buku. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
logo