Titiek Puspa, Simbol Musisi dengan Jiwa Kemanusiaan

Titiek Puspa, Simbol Musisi dengan Jiwa Kemanusiaan

Penyanyi dan pemeran kelahiran Kalimantan Selatan meninggal dunia. Titiek Puspa menutup usia di umur 87 tahun (10/4/2025).

Masyarakat Indonesia bersedih sekaligus bersyukur. Sedih karena kehilangan sosok teladan dan kharismatik yang anggun. Bersyukur karena tanah Indonesia pernah dianugerahi sosok manis yang aktif menyuarakan pesan kemanusiaan lewat karyanya.

Salah satu karya yang tak lekang dimakan zaman adalah Kupu-kupu Malam (1991). Lagu ini mengungkap sisi lain pekerja seks yang sering tertutup dengan stereotip dosa, kotor, hina, dan terpinggirkan. Titiek Puspa berupaya melakukan negosiasi di telinga banyak orang lewat alunan musik. Pendengar dibawa melihat sisi kemanusiaan dari pekerja seks.

Ini hidup wanita si Kupu-Kupu Malam
Bekerja, bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum, kata halus merayu, memanja
Kepada setiap mereka yang datang
Dosakah yang dia kerjakan?
Sucikah mereka yang datang?
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman
Wo-oh, apa yang terjadi, terjadilah
Yang dia tahu Tuhan, penyayang umat-Nya
Wo-oh, apa yang terjadi, terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

Dalam salah satu wawancara, Titiek berkisah inspirasi di balik lagu tersebut. Dendang Kupu-kupu Malam diceritakan terinspirasi dari kisah nyata seorang perempuan yang menemui Titiek Puspa. Perempuan tersebut terpaksa menjalani profesi sebagai "kupu-kupu malam" karena terlilit utang yang tidak mampu ia bayar.

Dalam situasi sulit, perempuan itu diberi pilihan untuk bekerja dengan pemberi hutang atau menghadapi konsekuensi hukum. Awalnya, ia mengira akan bekerja sebagai pembantu, tetapi kenyataannya berbeda, ia dilibatkan dalam prostitusi.

Kupu-kupu Malam menjadi karya yang membawa pesan kemanusiaan amat dalam. Lagu ini terus bergema hingga kini, bersanding dengan dendang milik Iwan Fals bertajuk Doa Pengobral Dosa (1981). 

Melalui lagu, pendengar bisa memikirkan kembali pandangan yang terlanjur melekat pada pekerja seks. Ternyata, profesi itu tak melulu hanya soal uang dan tubuh, di dalamnya mengandung banyak permasalahan dan sisi yang kompleks.

Kisah di Balik para Pekerja Seks
Lydia Cacho melalui bukunya Bisnis Perbudakan Seksual (Marjin Kiri, 2021) mengungkap sisi gelap dari para pekerja seks. Cacho memaparkan di dalam lingkar prostitusi, ada jejaring yang sudah tersusun secara sistematis dan melibatkan berbagai pihak, termasuk para pejabat negara.

Dalam bukunya itu, ia menuliskan para perempuan pekerja seks sebenarnya tidak menyukai komodifikasi seksual. Akan tetapi, secara halus mereka dimanipulasi oleh para germo untuk percaya bahwa mereka menyukai profesi tersebut. Manipulasi itu dilakukan dengan berbagai bentuk, salah satunya dengan memberikan pemahaman bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah hanya dengan menjadi pelayan seks.

Ketika salah satu pekerja seks sudah sadar dan ingin keluar dari lingkaran tersebut, sang germo tidak akan mengizinkan. Cacho menceritakan kisah sadis saat terjadi percobaan untuk kabur. Perempuan itu akan dibunuh lalu tubuhnya dijadikan sup untuk dimakan oleh anak-anak dan perempuan yang tersisa. Hal itu dilakukan agar dapat memberikan efek jera pada para pekerja yang berniat untuk melarikan diri.

Remy Sylado dalam novelnya berjudul Namaku Mata Hari (Gramedia, 2010) juga mengungkap kekerasan dan pekerja seks. Ia mengisahkan biografi Margaretha Geertruida Zelle, penari eksotis, pelacur, sekaligus spionase Jerman-Prancis. Pilihannya menjadi pelayan seks tidak datang dari langit.

Ia pernah mengalami kekerasan seksual di masa sekolah dan kekerasan mental juga fisik dari suaminya, Rudolph MacLeod. Lalu traumatik kematian anaknya akibat penyakit yang ditularkan sang suami. Alasan itu menjadi penyebab yang mendorong Zelle terperosok dalam lingkar prostitusi.

Di Mesir, kita menjumpai Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol (Pustaka Obor, 1977) gubahan Nawal El Saadawi. Perempuan itu dikisahkan menjadi pelacur lantaran jebakan dari keadaan. Situasi yang dialaminya lahir dari budaya patriarki yang meletakkan perempuan dalam posisi tidak berdaya di hadapan pendidikan, ekonomi, agama, dan masyarakat.

Budaya itu membuat perempuan tidak berkemampuan untuk mandiri dan berani membela hidupnya. Yang terjadi, perempuan hanya dipandang sebagai properti atau objek seks yang bisa dipindah tangankan dari satu orang ke orang lainnya.

Twenty-Four Eyes (Gramedia, 1952) gubahan Sakae Tsuboi juga mengangkat isu dibalik pekerja seks. Tsuboi mengangkat kisah salah satu murid, yaitu Fujiko. Fujiko dikisahkan sebagai anak seorang bangsawan yang hidup dalam kemakmuran. Namun, akibat dampak perang, kehidupannya menjadi berbalik 180 derajat. Ia dan keluarganya mengalami kesulitan bahkan untuk sekedar makan.

Akibat perubahan itu, Fujiko dijual oleh orang tuanya. Ia diperlakukan seperti perabot atau pakaian demi bisa membeli makanan untuk sehari-hari. Fujiko yang dibesarkan tanpa pernah harus bekerja keras, dipaksa harus merasakan pahitnya kehidupan dengan profesi seorang pekerja seks.

Selain menjalani paksaan dari orang tuanya, ia juga harus menanggung sejuta cemooh dan pandangan rendah dari banyak mata masyarakat. Yang dilihat masyarakat dari para pekerja seks adalah kotor, hina, dan dosa.

Di Indonesia, kita juga bertemu tokoh Mainah atau Mae dalam novel Jatisaba (2017) gubahan Ramayda Akmal. Pekerja seks bermula dari sindikat perdagangan manusia yang banyak terjadi pada orang-orang pedesaan yang terhimpit ekonomi. Manipulasi sering dilakukan dengan iming-iming perubahan nasib.

Barangkali, kisah yang diceritakan Lydia Cacho dalam Bisnis Perbudakan Seksual, lalu Margaretha Getruida dalam Namaku Mata Hari, lalu Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol, Fujiko dalam Twenty-Four Eyes, Mae dalam Jatisaba dan kisah dibalik lagu Kupu-kupu Malam milik Titiek Puspa adalah nasib yang dialami oleh banyak perempuan pekerja seks.

Kita bisa percaya, tidak ada perempuan yang benar-benar menginginkan menjadi pelayan seks. Mereka tidak melakukan atas dasar kenikmatan apalagi kebahagiaan tetapi didalamnya mengandung manipulasi, rasa sakit, kemunafikan, penghianatan, kekerasan, dan keterlibatan banyak pihak.

Di hati terdalam mereka pasti ada doa yang mengharapkan siapa pun tidak mengalami apa yang telah mereka rasakan. Kita membayangkan perasaan itu seperti penggalan lirik lagu Titiek Puspa yang berjudul Kupu-kupu Malam (1991): Kadang dia tersenyum dalam tangis/
Kadang dia menangis di dalam senyuman.

 
 


Editor: Kendi Setiawan
logo